Konten dari Pengguna

10 Puisi tentang Pendidikan yang Penuh Makna dan Menyentuh Hati

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Puisi tentang Pendidikan. Pexels/Nothing Ahead
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Puisi tentang Pendidikan. Pexels/Nothing Ahead

Puisi tentang pendidikan menjadi salah satu cara yang indah untuk menghargai peran guru, semangat siswa, dan perjalanan panjang menuntut ilmu. Dalam bait-bait yang sederhana, tersimpan harapan dan perjuangan akan proses pembelajaran yang tak pernah berhenti.

Dalam dunia yang terus berkembang, pendidikan menjadi cahaya yang menerangi jalan dan puisi menjadi suara yang mengabadikan maknanya.

Puisi tentang Pendidikan

Ilustrasi Puisi tentang Pendidikan. Pexels/Lisa from Pexels

Puisi tentang pendidikan adalah jendela untuk menyuarakan makna belajar dalam kehidupan. Melalui untaian kata, pentingnya ilmu pengetahuan sebagai cahaya yang menuntut langkah menuju masa depan yang lebih cerah dapat diungkapkan.

Dikutip dari buku Puisi Pendidikan, Rabiah, dkk, (2018:9-90), berikut adalah berbagai puisi mengenai pendidikan yang dapat dijadikan referensi.

1. Puisi 1

Jangan Ajari Aku Korupsi, Guruku

oleh Abdul Hakim

Kureguk ilmumu di saat aku dahaga akan ilmu

Kurasakan hangat kasih sayangmu kala engkau tebarkan teladan buat anakmu

Senyum sapa salammu setia menyambut kedatanganku

Tanpa kenal lelah engkau tebarkan kebajikanmu

Aku mungkin bukan anak yang pintar

Aku ingin meraup ilmu yang engkau ajar

Ilmumu aku goreskan dengan ujung pena

Di atas buku kusimpan jejak tulisanmu penuh rasa

Kuhayati tutur katamu dengan sepenuh jiwa

Aku ke sekolah bukan ingin mengumpulkan pundi-pundi angka

Aku mungkin bukan anak yang layak menyandang juara

Aku hanyalah anak negeri yang ingin melukis masa depan dengan penuh asa

Aku ingin membekali diri dengan ilmu yang kau sematkan sepanjang masa

Aku ingin guruku memberi angka apa adanya

Bukan angka basa-basi biar aku terlihat anak digdaya

Menipu diriku…orang tua…dan seluruh bangsa

Meski aku tahu guruku takut dikatakan gagal mendidik anak bangsa

Terpaksa memberi angka yang cetar membahana

Di bawah ancaman tunjangan takkan cair kalau anak diberi angka apa adanya

Guruku… Jangan ajari aku korupsi

Beri kami angka sesuai bukti yang engkau miliki

Itulah wajah kami yang masih harus belajar lebih keras lagi

Agar negeri ini kelak melahirkan generasi emas yang hakiki

Mampu berdikari taklukkan dunia yang kian berkompetisi

Bukan emas palsu yang menipu diri sendiri

Guruku…. Ajarkan kami sepenuh hati dengan kejujuran dan hati nurani

2. Puisi 2

Hanya Pendidikan

oleh Salma Salsabila

Manusia berakal yang jauh dari moral

Tercemari udara kontemporer

Sudah jauh dari norma dan aturan

Siapa lagi yang bisa selamatkan

Selain tanaman pendidikan

Kelak manusia akan paham

Bahwa dirinya bukan apa-apa

Jika hanya ingin menikmati

Tanpa berusaha mati

Dengan pendidikan manusia akan sadar

Bahwa mimpi harus terus berakar

Untuk mencapai hidup tanpa samar

Hanya dengan pendidikan

Seluruh makhluk terselamatkan

Cinta dan kasih bertebaran

Hanya pendidikan

Bunga yang terus bermekaran

Harumnya semerbak bertebaran

Hanya pendidikan

3. Puisi 3

Kupenggal Kepalamu agar Menjadi Milikku

oleh Phe Lelism

Akan aku intimidasi, di mana pembantaian berisolasi

Dari banyak penekanan berkolaborasi, yang harus menekan sekian dan sekian nilai pasti

Tidak ada lagi urgensi untuk toleransi hobi! Perihalnya, peridi menjadi momok prediksi

Ketahuilah, otak ini tidak beranak, tetapi semuda itu kau jejalkan materi melalui ketiak

Jika tidak sesuai renjana, kau salahkan kami dengan tuduhan gila

Kami lelah, bukan berarti kami lengah! Tengadah pun, kepala ini pening tak terarah

Kolusi untuk menang, tegap saling mendesak! Aku ingin fokus pada satu sasaran, menggali potensi diri untuk mencapai impian

Bukan hanya penjejalan materi yang didapatkan, apalagi dengan kurikulum full day amatiran

Iya, si cerdas akan mudah menerima, tetapi tidak untuk daun kuning yang hampir terurai mestinya

Hidup bukan hanya terpatri pada materi, tetapi harus melalui praktek berdiskusi, membahas minat, dan satu aksi

Walaupun persekutuan mengharuskan radikal, saat manusia berperang dengan akal,

Tak masuk sehari pun disebut nakal

4. Puisi 4

Semangat Baja Pemuda Bangsa

oleh Nuraini Fitri

Kini kerusuhan tlah jadi ketenangan

Pembantaian tlah jadi perdamaian

Hitam-putih sudah berwarna-warni

Kini negeri ini tlah berevolusi

Dan kini kitalah penerus mereka

Tak perlu di medan perang

Hanya perlu di ranah pendidikan

Mengukir prestasi, harumkan negeri ini

Kumpulkan segudang ilmu

Gunakan otakmu sebagai ruang alam pikiranmu

Perbaiki jalan pikiranmu yang buntu

Sadarkan pikiran dan hatimu yang kosong

5. Puisi tentang Pendidikan 5

Pena

oleh Ade Lanuari Abdan Syakuro

Pena…

Kuikat ilmu dengannya…

Kutulis kisah sejarah bersamanya…

Pena…

Kugapai cita-cita dengannya

Tak lupa teriring doa dan usaha

Sebagai wujud penghambaanku pada sang Pencipta

Pena…

Bersamanya, kutulis cerita cinta berbau surga

Agar manusia tak terjebak pada dunia yang fana

Tak jelas asalnya, tak jelas pula hasilnya

Pena…

Simbol peradaban dari zaman purba ke zaman aksara

Di mana manusia tak lagi menghambakan diri pada mitos yang tak jelas asalnya

Pena…

Dengannya, hidup manusia menjadi mulia

Lantaran mencari ilmu untuk kesejahteraan dunia

6. Puisi 6

Lelang Pendidikan

oleh Ahmad Latiful Ansori

Pendidikan…

Kata yang di dengungkan oleh banyak kalangan

Katanya

Pendidikan itu tak memandang latar belakang

Namun, apalah daya

Itu ‘cuma’ slogan

Entah jaman yang telah berevolusi

Atau sedari dulu tetap begini

Pendidikan adalah hak setiap warga

Namun, mana buktinya

Kami beli, kami juga yang menjual

Itu kata yang sering terlontar, dari orang yang katanya berpendidikan

Kami beli mahal, maka kami juga mendapatkan yang mahal

Pantas saja jika negara ini tak mencapai kejayaan

Kelakuan orang-orang berpendidikan tak lagi bisa diharapkan

Pendidikan investasi masa depan

Namun, bukan berarti pendidikan sebagai alasan untuk meraup pajak besar-besaran

7. Puisi 7

Senandung Literasi

oleh Anisah Izdihar Nukma

Senja ini semburat merah mewarna langit yang abu

Anganku terbang pada masa belajar mengeja

Kala itu, aku tersenyum mendengar dongeng pelajar nusantara

Sang penakluk bukit, penyisir sungai yang handal

Para pengejar ilmu, penggerak peradaban

Teruntuk pencinta ilmu

Membaca adalah bukti rindu yang menyeruak

Memaksa mata terkunci dengan baris dan baitnya

Lantas waktu bertransformasi jadi anak panah berkecepatan tak hingga

Dunia memang tak menjadi milikku, tapi aku mencipta duniaku sendiri

Aku ingin berkata lewat aksara, goresan pena

Merapal doa dan nasihat untuk maslahat

Diam untuk membaca, berkata untuk bercerita

Sebab literasi tak melulu tentang seni, tapi juga keinginan berbagi

8. Puisi 8

Pahlawan yang Terlupakan

oleh Ahmad Muslim Mabrur Umar

Cermatilah sajak sederhana ini, kawan

Sajak yang terkisah dari sosok sederhana pula

Sosok yang terkadang terlupakan

Sosok yang sering tak dianggap

Ialah pahlawan yang tak ingin disebut pahlawan

Terka-lah kiranya siapa pahlawan ini

Ingatlah lagi kiranya apa jasanya

Ia tak paham genggam senjata api

Ia tak bertarung di medan perang

Ucap, sabar dan kata hati menjadi senjatanya

Keberhasilanmu kawan, itulah jasanya

Cerdasmu dan cerdasku itu pula jasanya

Bukan ia yang diharap menang

Namun suksesmu dan suksemulah menangnya

Dapatkah kiranya jawab siapa pahlawan ini

Karenanyalah kudapat tulis sajak ini

Karenanyalah kau dapat baca sajak ini

Juluknya ialah pahlawan tanpa tanda jasa

Mungkin telah teringat olehmu kawan

Mungkin telah kau terka jawabnya

Ialah pahlawan dan orang tua kedua

Ialah guru, sang pahlawan yang terlupakan

9. Puisi 9

Sempat yang Tak Kau Ingat

oleh Dita Feby Indriani

Mencintai kata dalam setiap pergantian senja,

Merangkai dan menyemai meski mata terjaga,

Adalah

Nikmat dan sebuah tempat yang jarang teringat.

Banyak desah cerita yang berkoar,

Nada gelisah yang tak kunjung usai,

Mengartikan

Perjalanan mencintai kata terdengar terjal.

Tidakkah mencintainya bukan perkara rumit?

bahkan kau tanam bibit jauh sebelum semua terdengar sulit.

Ah kau lupa,

Mencintai kata dalam setiap pergantian senja

Adalah

Nikmat dan sebuah sempat yang jarang teringat.

Mungkin berat melahap selembar demi selembar kata

Menuai angka yang nilainya tak seberapa

10. Puisi 10

Berpendidikanlah

oleh Iin Fajar Duhri Saputri

Berpendidikanlah…

Maka hidupmu akan berubah

Berpendidikanlah…

Maka mata yang mulanya hitam akan terang

Berpendidikanlah…

Maka resahanmu akan menjadi emas

Banyak orang menganggur karena sekolah

Banyak orang pontang-panting karena sekolah

Memanglah pendidikan bukan jaminan

Tapi hendaknya berusahalah

Berpendidikanlah…

Dunia tidak hanya membutuhkan kepandaianmu

Kini dunia tidak butuh itu

Karena cuma pandai itu tidak cukup

Yang dibutuhkan hanya tekadmu

Niatmu…

Semangatmu…

Usahamu…

Pemerintah tidak akan mempersulitmu

Puisi tentang pendidikan adalah ungkapan batin yang lahir dari kesadaran akan pentingnya ilmu sebagai bekal hidup.

Puisi menjadi saksi bisu betapa pendidikan telah mengubah hidup banyak orang dan membuka pintu menuju dunia yang lebih baik. (Mey)

Baca juga: 13 Puisi tentang Alam Nusantara yang Indah