10 Puisi tentang Pendidikan yang Penuh Makna dan Menyentuh Hati

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi tentang pendidikan menjadi salah satu cara yang indah untuk menghargai peran guru, semangat siswa, dan perjalanan panjang menuntut ilmu. Dalam bait-bait yang sederhana, tersimpan harapan dan perjuangan akan proses pembelajaran yang tak pernah berhenti.
Dalam dunia yang terus berkembang, pendidikan menjadi cahaya yang menerangi jalan dan puisi menjadi suara yang mengabadikan maknanya.
Puisi tentang Pendidikan
Puisi tentang pendidikan adalah jendela untuk menyuarakan makna belajar dalam kehidupan. Melalui untaian kata, pentingnya ilmu pengetahuan sebagai cahaya yang menuntut langkah menuju masa depan yang lebih cerah dapat diungkapkan.
Dikutip dari buku Puisi Pendidikan, Rabiah, dkk, (2018:9-90), berikut adalah berbagai puisi mengenai pendidikan yang dapat dijadikan referensi.
1. Puisi 1
Jangan Ajari Aku Korupsi, Guruku
oleh Abdul Hakim
Kureguk ilmumu di saat aku dahaga akan ilmu
Kurasakan hangat kasih sayangmu kala engkau tebarkan teladan buat anakmu
Senyum sapa salammu setia menyambut kedatanganku
Tanpa kenal lelah engkau tebarkan kebajikanmu
Aku mungkin bukan anak yang pintar
Aku ingin meraup ilmu yang engkau ajar
Ilmumu aku goreskan dengan ujung pena
Di atas buku kusimpan jejak tulisanmu penuh rasa
Kuhayati tutur katamu dengan sepenuh jiwa
Aku ke sekolah bukan ingin mengumpulkan pundi-pundi angka
Aku mungkin bukan anak yang layak menyandang juara
Aku hanyalah anak negeri yang ingin melukis masa depan dengan penuh asa
Aku ingin membekali diri dengan ilmu yang kau sematkan sepanjang masa
Aku ingin guruku memberi angka apa adanya
Bukan angka basa-basi biar aku terlihat anak digdaya
Menipu diriku…orang tua…dan seluruh bangsa
Meski aku tahu guruku takut dikatakan gagal mendidik anak bangsa
Terpaksa memberi angka yang cetar membahana
Di bawah ancaman tunjangan takkan cair kalau anak diberi angka apa adanya
Guruku… Jangan ajari aku korupsi
Beri kami angka sesuai bukti yang engkau miliki
Itulah wajah kami yang masih harus belajar lebih keras lagi
Agar negeri ini kelak melahirkan generasi emas yang hakiki
Mampu berdikari taklukkan dunia yang kian berkompetisi
Bukan emas palsu yang menipu diri sendiri
Guruku…. Ajarkan kami sepenuh hati dengan kejujuran dan hati nurani
2. Puisi 2
Hanya Pendidikan
oleh Salma Salsabila
Manusia berakal yang jauh dari moral
Tercemari udara kontemporer
Sudah jauh dari norma dan aturan
Siapa lagi yang bisa selamatkan
Selain tanaman pendidikan
Kelak manusia akan paham
Bahwa dirinya bukan apa-apa
Jika hanya ingin menikmati
Tanpa berusaha mati
Dengan pendidikan manusia akan sadar
Bahwa mimpi harus terus berakar
Untuk mencapai hidup tanpa samar
Hanya dengan pendidikan
Seluruh makhluk terselamatkan
Cinta dan kasih bertebaran
Hanya pendidikan
Bunga yang terus bermekaran
Harumnya semerbak bertebaran
Hanya pendidikan
3. Puisi 3
Kupenggal Kepalamu agar Menjadi Milikku
oleh Phe Lelism
Akan aku intimidasi, di mana pembantaian berisolasi
Dari banyak penekanan berkolaborasi, yang harus menekan sekian dan sekian nilai pasti
Tidak ada lagi urgensi untuk toleransi hobi! Perihalnya, peridi menjadi momok prediksi
Ketahuilah, otak ini tidak beranak, tetapi semuda itu kau jejalkan materi melalui ketiak
Jika tidak sesuai renjana, kau salahkan kami dengan tuduhan gila
Kami lelah, bukan berarti kami lengah! Tengadah pun, kepala ini pening tak terarah
Kolusi untuk menang, tegap saling mendesak! Aku ingin fokus pada satu sasaran, menggali potensi diri untuk mencapai impian
Bukan hanya penjejalan materi yang didapatkan, apalagi dengan kurikulum full day amatiran
Iya, si cerdas akan mudah menerima, tetapi tidak untuk daun kuning yang hampir terurai mestinya
Hidup bukan hanya terpatri pada materi, tetapi harus melalui praktek berdiskusi, membahas minat, dan satu aksi
Walaupun persekutuan mengharuskan radikal, saat manusia berperang dengan akal,
Tak masuk sehari pun disebut nakal
4. Puisi 4
Semangat Baja Pemuda Bangsa
oleh Nuraini Fitri
Kini kerusuhan tlah jadi ketenangan
Pembantaian tlah jadi perdamaian
Hitam-putih sudah berwarna-warni
Kini negeri ini tlah berevolusi
Dan kini kitalah penerus mereka
Tak perlu di medan perang
Hanya perlu di ranah pendidikan
Mengukir prestasi, harumkan negeri ini
Kumpulkan segudang ilmu
Gunakan otakmu sebagai ruang alam pikiranmu
Perbaiki jalan pikiranmu yang buntu
Sadarkan pikiran dan hatimu yang kosong
5. Puisi tentang Pendidikan 5
Pena
oleh Ade Lanuari Abdan Syakuro
Pena…
Kuikat ilmu dengannya…
Kutulis kisah sejarah bersamanya…
Pena…
Kugapai cita-cita dengannya
Tak lupa teriring doa dan usaha
Sebagai wujud penghambaanku pada sang Pencipta
Pena…
Bersamanya, kutulis cerita cinta berbau surga
Agar manusia tak terjebak pada dunia yang fana
Tak jelas asalnya, tak jelas pula hasilnya
Pena…
Simbol peradaban dari zaman purba ke zaman aksara
Di mana manusia tak lagi menghambakan diri pada mitos yang tak jelas asalnya
Pena…
Dengannya, hidup manusia menjadi mulia
Lantaran mencari ilmu untuk kesejahteraan dunia
6. Puisi 6
Lelang Pendidikan
oleh Ahmad Latiful Ansori
Pendidikan…
Kata yang di dengungkan oleh banyak kalangan
Katanya
Pendidikan itu tak memandang latar belakang
Namun, apalah daya
Itu ‘cuma’ slogan
Entah jaman yang telah berevolusi
Atau sedari dulu tetap begini
Pendidikan adalah hak setiap warga
Namun, mana buktinya
Kami beli, kami juga yang menjual
Itu kata yang sering terlontar, dari orang yang katanya berpendidikan
Kami beli mahal, maka kami juga mendapatkan yang mahal
Pantas saja jika negara ini tak mencapai kejayaan
Kelakuan orang-orang berpendidikan tak lagi bisa diharapkan
Pendidikan investasi masa depan
Namun, bukan berarti pendidikan sebagai alasan untuk meraup pajak besar-besaran
7. Puisi 7
Senandung Literasi
oleh Anisah Izdihar Nukma
Senja ini semburat merah mewarna langit yang abu
Anganku terbang pada masa belajar mengeja
Kala itu, aku tersenyum mendengar dongeng pelajar nusantara
Sang penakluk bukit, penyisir sungai yang handal
Para pengejar ilmu, penggerak peradaban
Teruntuk pencinta ilmu
Membaca adalah bukti rindu yang menyeruak
Memaksa mata terkunci dengan baris dan baitnya
Lantas waktu bertransformasi jadi anak panah berkecepatan tak hingga
Dunia memang tak menjadi milikku, tapi aku mencipta duniaku sendiri
Aku ingin berkata lewat aksara, goresan pena
Merapal doa dan nasihat untuk maslahat
Diam untuk membaca, berkata untuk bercerita
Sebab literasi tak melulu tentang seni, tapi juga keinginan berbagi
8. Puisi 8
Pahlawan yang Terlupakan
oleh Ahmad Muslim Mabrur Umar
Cermatilah sajak sederhana ini, kawan
Sajak yang terkisah dari sosok sederhana pula
Sosok yang terkadang terlupakan
Sosok yang sering tak dianggap
Ialah pahlawan yang tak ingin disebut pahlawan
Terka-lah kiranya siapa pahlawan ini
Ingatlah lagi kiranya apa jasanya
Ia tak paham genggam senjata api
Ia tak bertarung di medan perang
Ucap, sabar dan kata hati menjadi senjatanya
Keberhasilanmu kawan, itulah jasanya
Cerdasmu dan cerdasku itu pula jasanya
Bukan ia yang diharap menang
Namun suksesmu dan suksemulah menangnya
Dapatkah kiranya jawab siapa pahlawan ini
Karenanyalah kudapat tulis sajak ini
Karenanyalah kau dapat baca sajak ini
Juluknya ialah pahlawan tanpa tanda jasa
Mungkin telah teringat olehmu kawan
Mungkin telah kau terka jawabnya
Ialah pahlawan dan orang tua kedua
Ialah guru, sang pahlawan yang terlupakan
9. Puisi 9
Sempat yang Tak Kau Ingat
oleh Dita Feby Indriani
Mencintai kata dalam setiap pergantian senja,
Merangkai dan menyemai meski mata terjaga,
Adalah
Nikmat dan sebuah tempat yang jarang teringat.
Banyak desah cerita yang berkoar,
Nada gelisah yang tak kunjung usai,
Mengartikan
Perjalanan mencintai kata terdengar terjal.
Tidakkah mencintainya bukan perkara rumit?
bahkan kau tanam bibit jauh sebelum semua terdengar sulit.
Ah kau lupa,
Mencintai kata dalam setiap pergantian senja
Adalah
Nikmat dan sebuah sempat yang jarang teringat.
Mungkin berat melahap selembar demi selembar kata
Menuai angka yang nilainya tak seberapa
10. Puisi 10
Berpendidikanlah
oleh Iin Fajar Duhri Saputri
Berpendidikanlah…
Maka hidupmu akan berubah
Berpendidikanlah…
Maka mata yang mulanya hitam akan terang
Berpendidikanlah…
Maka resahanmu akan menjadi emas
Banyak orang menganggur karena sekolah
Banyak orang pontang-panting karena sekolah
Memanglah pendidikan bukan jaminan
Tapi hendaknya berusahalah
Berpendidikanlah…
Dunia tidak hanya membutuhkan kepandaianmu
Kini dunia tidak butuh itu
Karena cuma pandai itu tidak cukup
Yang dibutuhkan hanya tekadmu
Niatmu…
Semangatmu…
Usahamu…
Pemerintah tidak akan mempersulitmu
Puisi tentang pendidikan adalah ungkapan batin yang lahir dari kesadaran akan pentingnya ilmu sebagai bekal hidup.
Puisi menjadi saksi bisu betapa pendidikan telah mengubah hidup banyak orang dan membuka pintu menuju dunia yang lebih baik. (Mey)
Baca juga: 13 Puisi tentang Alam Nusantara yang Indah
