13 Ucapan Bela Sungkawa Islam dan Adab Melayat

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Memberi ucapan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan merupakan bentuk kebaikan. Jika kamu seorang muslim, kamu bisa memberi ucapan bela sungkawa Islam sesuai yang diajarkan Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw tidak hanya mengajarkan doa belasungkawa, namun juga memberi contoh adab saat melayat. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.
Ucapan Bela Sungkawa Islam
Ucapan bela sungkawa Islam yang dicontohkan Rasulullah Saw. adalah membaca doa istirja.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun
Artinya: "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali."
Setelah mengucapkan doa di atas, kamu bisa menambahkan kalimat belasungkawa lainnya sebagai bentuk doa tambahan. Berikut beberapa contohnya.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Semoga Allah Swt. menempatkan di tempat terbaik dan orang di sekitar diberikan kekuatan untuk melewati musibah ini.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun, turut berduka cita. Semoga beliau ditempatkan di Jannah, Aamiin.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Ya Allah, tuliskanlah ia di sisi-Mu termasuk ke dalam golongan orang-orang baik.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Kullu Nafsin Zaikatul Maut (sesungguhnya setiap yang bernyawa pasti akan mati). Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga Allah Swt. memperluas kuburnya dan menerangi dengan berkah-Nya.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Semoga kamu diberikan kekuatan menghadapi ujian ini. Ingatlah bahwa sesungguhnya Allah Swt. tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan kita.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Ya Allah, semoga Engkau menerima iman dan Islam (nama almarhum/almarhumah) dan keluarga yang ditinggalkannya diberikan ketabahan serta keikhlasan.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun, kepergian (nama almarhum/almarhumah) terasa sangat cepat. Kami di sini semua memaafkan kesalahanmu dan semoga Allah Swt. memberikan tempat paling mulia untukmu di sisi-Nya.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Turut berduka atas meninggalnya (nama almarhum/almarhumah). Semoga Allah Swt. mengampuni segala dosanya dalam keadaan husnul khotimah dan memberikan Jannatul Firdaus. Amin ya Rabbal alamin.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Aku turut berduka cita atas apa yang telah menimpamu, aku berharap agar kamu mendapatkan yang terbaik dan beliau mendapatkan kemudahan di akhirat. Semoga kamu kuat untuk menjalani semua ini.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Aku dan keluarga turut berduka cita. Semoga seluruh amal dan ibadah almarhum/almarhumah diterima di sisi Allah dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran serta ketabahan untuk menghadapi ujian ini.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Aku dan keluarga turut berduka cita. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan oleh Allah. Maka percayalah, bahwa Allah pasti akan mempertemukan kalian kembali di surga-Nya kelak.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Ya Allah, ampunilah dosa sahabatku, sayangi dia. Hindarkanlah dia dari azab kuburnya. Perkenankanlah ia kelak menghuni surga-Mu.
Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Semoga kuburnya diterangkan, ibadahnya diterima, dosanya terampuni, dan kebaikannya diteladani. Ia Allah panggil lebih dulu, karena Allah menyayanginya. Rasa belasungkawa kami sungguh tak sebanding dengan cinta-Nya.
Baca Juga: Bacaan Doa Tahun Baru Masehi dan Keutamaannya
Adab Melayat dalam Islam
Merangkum dari buku Tuntunan Ringkas Mengurus Jenazah oleh M. Nashiruddin Al-Bani, berikut lima adab melayat yang harus diperhatikan umat muslim.
1. Menyampaikan Belasungkawa dan Mendoakan Mayit
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah Saw. bersabda:
"Tidaklah seorang muslim yang berbela sungkawa (ta’ziyah) kepada saudaranya karena musibah, tetapi Allah SWT memberinya pakaian dari pakaian kemuliaan di hari kiamat," (HR. Ibnu Majah)
Meskipun para perawi masih memperdebatkan kesahihan hadits di atas, namun mereka bersepakat bahwa mengucapkan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan merupakan bagian dari adab takziyah.
Kemudian, dianjurkan juga untuk mendoakan mayit sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. berikut.
Allaahummaghfir lahu warham hu wa’aafi hii wa’fu anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkholahu waghsilhu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daarihi wa ahlan khoiron min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhil khul jannata wa ‘aidz hu min ‘adzaabil qobri wa fitnatil hi wa min ‘adzabin naar.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka,”.
2. Membuatkan Makanan untuk Keluarga yang Ditinggalkan
Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja'far ra, ia berkata:
"Ketika melayat ayah Ja'far yang gugur dalam perang, Nabi Saw. bersabda, 'Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far karena telah tiba sesuatu yang menyibukkan mereka,'" (HR. At-Tirmidzi).
Kemudian dalam riwayat lain disebutkan, disampaikan oleh Aisyah ra:
"Aku selalu membuatkan makanan untuk orang yang tertimpa musibah sakit. Ia mengatakan, "Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya makanan dapat menyenangkan hati orang yang sakit dan menghilangkan kesedihannya,'". (HR Muslim)
3. Membicarakan Hal yang Baik Mengenai Mayit
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Rasulullah Saw. bersabda:
"Janganlah kalian mencela mayit, karena mereka telah pergi untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka perbuat." (HR. Bukhari).
Melalui hadits ini, Rasulullah menegaskan agar tidak membicarakan aib si mayit. Namun sebaliknya, yakni membicarakan kebaikan-kebaikan almarahum/almarhumah.
4. Mengusap Kepala Anak Yatim
Jika keluarga yang ditinggalkan adalah anak-anak, otomatis kematian tersebut menjadikannya anak yatim. Maka, usaplah kepalanya dan muliakanlah mereka.
Hal ini dicontohkan Rasulullah Saw. ketika kematian ayah Ja’far. Rasulullah mendatangi Ja’far dan mengusap kepalanya, sambil berdoa.
Diriwayatkan dari Ja'far ra, Rasulullah SAW bersabda:
"Angkatlah anak ini kepadaku," lalu diangkatlah aku dan ditempatkan di depannya. Kemudian Rasulullah berkata kepada Qassam, "Angkatlah anak ini kepadaku,". Kemudian beliau penempatannya di belakangnya. Kemudian beliau mengusap kepalaku tiga kali, seraya berdoa di setiap usapannya, 'Ya Allah, tinggalkanlah kebaikan bagi anak Ja'far'," (HR Ahmad)
(DEL)
