150 Contoh Kalimat Majas Hiperbola beserta Pengertiannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Majas atau kiasan sering digunakan untuk mengungkapkan banyak hal. Salah satu majas yang sering digunakan adalah majas hiperbola. Ada banyak contoh kalimat majas hiperbola yang bisa digunakan.
Dikutip dari buku Buku Pintar Majas, Pantun, dan Puisi karya Ulin Nuha Masruchin (2017: 1), majas hiperbola adalah suatu bentuk majas atau gaya bahasa yang menggunakan perbandingan yang berlebihan atau melebih-lebihkan suatu hal.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Contoh Kalimat Majas Hiperbola
Majas ini sering digunakan untuk memberikan efek dramatis, humor, atau retorika yang kuat dalam pengungkapan suatu ide atau perasaan.
Agar lebih mudah dalam memahaminya, berikut adalah 150 contoh kalimat majas hiperbola beserta pengertiannya sebagai referensi pembelajaran:
Suaranya menggelegar membelah angkasa.
Tubuhnya tinggal kulit yang membalut tulang.
Para pahlawan berjuang hingga titik darah penghabisan.
Hatiku meleleh saat laki-laki itu mengungkapkan cintanya padaku.
Air di sungai itu sangat jernih hingga mengalahkan beningnya kristal.
Dia tidur lama sekali hingga aku mengiranya telah menjadi mayat.
Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa.
Seribu kota akan ku lalui untuk mencari kekasih hati.
Orang itu setinggi rumah.
Tugas ini benar-benar membuat ku harus memeras otak.
Kulit mu lebih lembut dari sutra.
Suaranya membuat seluruh penonton konser terhipnotis.
Kejutan ulang tahun kali ini hampir membuat ku terkena serangan jantung.
Ayah memeras keringat demi memberi nafkah kami sekeluarga.
Kakak membanting tulang demi menyekolahkan adik-adiknya.
Dia membacakan pidato sampai berapi-api.
Pujian ibu guru membuat diriku melayang-layang di udara.
Sinar matahari membakar kulitku.
Pencuri itu berlari secepat kilat saat kepergok warga.
Saya sangat lapar hingga bisa makan gajah.
Tangan mu lebih kuat dari besi.
Pesawat itu melaju lebih cepat dari kecepatan cahaya.
Guru sejarah ini sudah mengajar sejak zaman batu.
Sepeda Yayan melaju secepat kilat.
Makanan ini lebih panas dari lava pijar.
Surat itu butuh waktu ribuan tahun untuk tiba.
Kecantikan Miss Indonesia mampu mengalihkan dunia.
Suara mu yang merdu dapat menggemparkan dunia.
Tangis anak-anak kecil itu sungguh menyayat hati.
Darah kami mendidih saat terjadi kecurangan dalam pertandingan tersebut.
Rumahnya sangat besar, seakan-akan memiliki seribu kamar tidur.
Anak itu mempunyai ransel seberat gajah.
Dia belajar sepanjang malam, seperti tidak pernah tidur.
Kakeknya sudah berusia seratus tahun, seolah-olah sudah hidup selamanya.
Mobil itu melaju seperti kilat di jalan raya.
Aku sudah meminta maaf seribu kali, tapi sepertinya dia masih marah.
Wajahnya secerah matahari pagi.
Aku menunggu teleponnya selamanya.
Hujan turun dengan derasnya, seolah-olah langit menangis.
Anjing itu menggonggong sepanjang malam, seakan-akan tidak pernah berhenti.
Suaranya begitu keras, seakan-akan mengguncang seluruh gedung.
Tasnya seberat setumpuk batu bata.
Pohon itu tinggi sekali, seolah-olah menyentuh langit.
Dia memiliki kecerdasan sebesar gunung.
Perutku lapar sekali, seakan-akan tidak pernah kenyang.
Kupu-kupu itu berwarna-warni seperti lukisan abstrak.
Aku mempunyai pekerjaan rumah sebanyak pegunungan.
Pelajaran matematikanya sulit sekali, seperti teka-teki berat.
Dia menyanyi dengan suara setinggi langit.
Air matanya mengalir seperti sungai yang tak pernah kering.
Sepatu barunya sepanjang kapal pesiar.
Ia berlari secepat kilat, seakan-akan ingin menyentuh langit.
Aku menunggu dengan sabar, seperti menunggu es krim di musim panas.
Matanya berkilat-kilat seperti bintang di langit malam.
Seperti melihat lukisan hidup ketika berada di taman bunga itu.
Aku sangat lelah, seolah-olah baru saja menyelesaikan maraton.
Harganya sangat mahal, seakan-akan hanya bisa dibeli oleh orang kaya.
Sebuah pelukan dari ibu seperti kehangatan selimut di musim dingin.
Celana jeansnya sangat ketat, seakan-akan menempel erat pada kulitnya.
Aku mendengarkan musiknya sepanjang hari, seolah-olah terbang di awan.
Waktunya berjalan sangat lambat, seakan-akan berhenti di tempat.
Dia berbicara dengan suara setinggi gunung.
Aku menonton film itu berkali-kali, seakan-akan tidak pernah bosan.
Wajahnya memerah seperti tomat ketika malu.
Seperti mendaki gunung yang tak berujung, begitu sulitnya pekerjaan ini.
Kucingnya lincah sekali, seolah-olah bisa terbang seperti burung.
Dia tertawa dengan keras, seakan-akan bergema di seluruh ruangan.
Rambutnya panjang sekali, seakan-akan menyentuh lantai.
Seperti memecahkan teka-teki yang sulit, akhirnya aku menemukan solusinya.
Aku sangat lapar, seolah-olah tidak pernah makan sehari-hari.
Perasaannya terluka sangat dalam, seakan-akan ditusuk oleh seribu pisau.
Seperti berjalan di atas awan, rasanya begitu ringan.
Aku memberinya nasihat sebanyak gunung, tetapi dia tidak pernah mendengarku.
Parfumnya tercium hingga ke ujung dunia, seakan-akan memberikan jejak aroma.
Aku sudah menunggunya selamanya, seolah-olah waktu berhenti.
Kakinya terasa berat seperti batu bata setelah berjalan sejauh itu.
Seperti menari di bawah hujan, rasanya begitu menyegarkan.
Dia bekerja keras sepanjang hari, seolah-olah tidak pernah lelah.
Perasaannya sangat dalam, seakan-akan terdapat lautan emosi di dalam hatinya.
Seperti melewati gurun pasir yang panas, pekerjaan ini sangat melelahkan.
Aku punya banyak pekerjaan rumah, sebanyak pasir di pantai.
Dia tertawa terbahak-bahak, seakan-akan tidak bisa berhenti.
Seperti menunggu es krim di musim dingin, sangat sulit untuk bersabar.
Aku mengumpulkan barang-barang seperti raksasa yang lapar.
Aku memberinya pujian sebanyak bintang di langit malam.
Dia berkendara secepat kilat di jalan tol.
Seperti berbicara dengan dinding, dia tidak pernah mendengarku.
Aku merasa seperti berada di surga ketika melihat pemandangan ini.
Dia berbicara dengan suara setinggi gunung tertinggi.
Seperti berlari di atas awan, perasaannya begitu ringan.
Aku mempunyai pekerjaan rumah sebanyak awan di langit.
Seperti berada di dalam oven, suhu di luar sangat panas.
Aku menunggunya seperti menunggu hujan di musim kemarau.
Air matanya mengalir seperti air terjun yang deras.
Dia memelukku erat sekali, seolah-olah tidak pernah ingin melepaskan.
Wajahnya pucat seperti kertas.
Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, sulit sekali menemukannya.
Aku sangat lelah, seolah-olah baru saja menyelesaikan lomba lari.
Makanannya sangat pedas, seolah-olah lidahku terbakar.
Seperti menari di atas bara api, rasanya begitu panas.
Dia berbicara dengan suara setinggi gedung pencakar langit.
Aku menunggu pesanmu seperti menunggu surat dari bulan.
Udara di pegunungan sangat segar, seolah-olah bisa menyembuhkan penyakit.
Seperti berada di taman bunga, aroma bunga-bunga begitu harum.
Aku memberinya pujian sebanyak bintang di langit malam.
Dia berbicara dengan suara setinggi gunung tertinggi.
Seperti berlari di atas awan, perasaannya begitu ringan.
Aku mempunyai pekerjaan rumah sebanyak awan di langit.
Seperti berada di dalam oven, suhu di luar sangat panas.
Aku menunggunya seperti menunggu hujan di musim kemarau.
Air matanya mengalir seperti air terjun yang deras.
Dia memelukku erat sekali, seolah-olah tidak pernah ingin melepaskan.
Wajahnya pucat seperti kertas.
Seperti menyeberangi samudera yang luas, perjalanannya sangat sulit.
Aku memberinya nasihat sebanyak daun di hutan.
Dia berkendara dengan kecepatan secepat kilat.
Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, sulit sekali menemukannya.
Aku sangat lelah, seolah-olah baru saja menyelesaikan lomba lari.
Makanannya sangat pedas, seolah-olah lidahku terbakar.
Seperti menari di atas bara api, rasanya begitu panas.
Dia berbicara dengan suara setinggi gedung pencakar langit.
Aku menunggu pesanmu seperti menunggu surat dari bulan.
Udara di pegunungan sangat segar, seolah-olah bisa menyembuhkan penyakit.
Seperti berada di taman bunga, aroma bunga-bunga begitu harum.
Aku memberinya pujian sebanyak bintang di langit malam.
Dia berbicara dengan suara setinggi gunung tertinggi.
Seperti berlari di atas awan, perasaannya begitu ringan.
Aku mempunyai pekerjaan rumah sebanyak awan di langit.
Seperti berada di dalam oven, suhu di luar sangat panas.
Aku menunggu pesanmu seperti menunggu hujan di musim kemarau.
Air matanya mengalir seperti air terjun yang deras.
Dia memelukku erat sekali, seolah-olah tidak pernah ingin melepaskan.
Wajahnya pucat seperti kertas.
Seperti menyeberangi samudera yang luas, perjalanannya sangat sulit.
Aku memberinya nasihat sebanyak daun di hutan.
Dia berkendara dengan kecepatan secepat kilat.
Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, sulit sekali menemukannya.
Aku sangat lelah, seolah-olah baru saja menyelesaikan lomba lari.
Makanannya sangat pedas, seolah-olah lidahku terbakar.
Seperti menari di atas bara api, rasanya begitu panas.
Dia berbicara dengan suara setinggi gedung pencakar langit.
Aku menunggu pesanmu seperti menunggu surat dari bulan.
Udara di pegunungan sangat segar, seolah-olah bisa menyembuhkan penyakit.
Seperti berada di taman bunga, aroma bunga-bunga begitu harum.
Aku memberinya pujian sebanyak bintang di langit malam.
Dia berbicara dengan suara setinggi gunung tertinggi.
Seperti berlari di atas awan, perasaannya begitu ringan.
Aku mempunyai pekerjaan rumah sebanyak awan di langit.
Seperti berada di dalam oven, suhu di luar sangat panas.
Aku menunggu pesanmu seperti menunggu hujan di musim kemarau.
Baca Juga: 200 Contoh Kalimat Majas Personifikasi beserta Pengertiannya
Itulah kumpulan contoh kalimat majas hiperbola yang bisa digunakan sebagai referensi. Dalam membuat suatu puisi, pantun, atau karya sastra lainnya penting menambahkan majas di dalamnya. (Umi)
