3 Contoh Cerita Pengalaman Hari Raya Idul Fitri yang Seru

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh cerita pengalaman hari raya Idul Fitri adalah topik yang menyenangkan saat merayakan hari Lebaran. Biasanya, tugas membuat cerita ini diberikan untuk siswa sekolah yang diliburkan saat hari raya tiba.
Mengutip dari buku Panduan Muslim Sehari-hari, DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA, (2016), setelah selesai melaksanakan ibadah puasa Ramadan sebulan, umat Islam di seluruh penjuru dunia biasanya merayakan hari kemenangan, yaitu hari raya Idulfitri.
Selama liburan hari raya Idulfitri, siswa dapat menemukan pengalaman berkesan yang dapat diceritakannya usai menghabiskan waktu libur Lebaran bersama keluarga maupun bersama teman dalam tugas bercerita.
3 Contoh Cerita Pengalaman Hari Raya Idul Fitri
Berikut contoh cerita pengalaman hari raya Idul Fitri yang menarik dan menyenangkan.
1. Hari Raya Idul Fitri
Setiap umat muslim di seluruh dunia yang sudah melaksanakan puasa dan ibadah lainnya di bulan ramadan pasti sangan bahagia dan benar-benar menunggu di hari raya terbesar umat islam ini, yaitu hari raya Idulfitri 1445 H
Saat hari raya Idulfitri tiba. Saya bangun untuk melaksanakan salat Idul Fitri pagi-pagi pukul 06.30 WIB. Saya di bangunkan oleh ibu saya untuk segera sholat subuh, mandi, dan sarapan agar tidak kesiangan.
Setelah salat subuh, mandi, dan sarapan saya segera berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat Idulfitri dengan keluarga. Setelah melaksanakan sholat ied saya dan keluarga saya kembali ke rumah untuk bermaaf-maafan dengan keluarga kecil saya.
Hal yang paling aku tunggu-tunggu di hari raya idul fitri adalah berkunjung ke rumah-rumah tetangga dan sanak saudara. Untuk mengunjungi mereka semua, kami biasanya sekeluarga harus meluangkan waktu hingga 6 hari.
Hari itu sangat melelahkan, tapi entah kenapa, kami sekeluarga tidak merasa letih, ketika pergi ke semua tempat-tempat tersebut kami selalu bergembira. Hari pertama, kami bersama-sama berkeliling ke rumah-rumah tetangga setelah melaksanakan sholat Idulfitri.
Khusus hari pertama lebaran memang kami berkunjung ke rumah tetangga. Tetanggaku memang banyak sekali sehingga harus meluangkan waktu selama satu hari penuh. Di hari itu orang yang paling bergembira sebenarnya adalah adikku.
Karena ia masih kelas 6 SD, tentunya banyak orang yang masih memberinya uang saku. Ada yang 2 ribuan, 5 ribuan, dan bahkan 20 ribuan. Biasanya, jika tetangga tersebut dekat sekali dengan keluargaku, ia memberi adikku uang pecahan 20 ribuan.
Sementara aku, tidak lagi mendapatkan uang tersebut karena sudah besar. Yah memang, umurku sekarang sudah 18 tahun dan tahun ini adalah tahun pertamaku berada di Universitas sebagai mahasiswa. Mungkin sudah sewajarnya aku sudah tidak diberi uang saku.
Meskipun begitu, aku masih diberi uang saku oleh keluargaku sendiri, seperti tante, om, nenek dan kakek. Mereka adalah sebagian dari keluarga kecilku di kampung halaman.
Acara keliling kampung berakhir sekitar pukul 15.30 sore di waktu ashar. Setelah melaksanakan salat ashar di masjid, kami beristirahat untuk mempersiapkan tenaga esok hari. Meski singkat namun aku sangat senang masih bisa merayakan hari raya Idulfitri bersama dengan keluargaku.
2. Serunya Makan Bersama Keluarga
Mengutip dari laman undip.ac.id dari buku Cerita Manis di Hari Raya Idul Fitri, Endang Fatmawati, berikut adalah contoh cerita pengalaman hari raya Idul Fitri bersama keluarga.
Adik-adik semua yang saleh dan salihah. Tahukah kalian bahwa ada momen spesial saat hari raya tiba? Pernahkah adik-adik menyadari bahwa makan bersama itu dapat menjaga silaturahmi?
Makan bersama dengan keluarga di hari raya merupakan tradisi turun-temurun. Semua keluarga besar berkumpul di hari kemenangan. Lengkap, dari bapak, ibu, adik, kakak, kakek, nenek, sanak saudara, maupun kerabat lainnya.
Biasanya setelah salat Idulftri, kami melakukan sungkeman, ziarah ke makam leluhur, dan makan bersama. Menu istimewa yang dihidangkan adalah opor ayam, sambel goreng, ketupat, kerupuk udang, dan ubo rampe lainnya.
Tak ketinggalan, aneka buah segar juga terhidang di meja makan. Agenda makan bersama dengan keluarga sungguh selalu dinanti. Makan bersama menjadi salah satu cara untuk bersilaturahmi antara seluruh anggota keluarga.
Saat berkumpul bersama, kita bisa saling bertukar cerita dan saling bercengkerama sembari menikmati makanan yang disajikan. Marilah kita jaga tradisi makan bersama dengan keluarga di hari raya!
3. Hadiah Tak Terduga di Hari Raya
Mengutip dari laman aisba.sch.id, berikut adalah contoh cerita pengalaman hari raya Idul Fitri bersama keluarga.
Allahu Akbar…Allahu Akbar. Allahu Akbar.
Gema takbir membahana di malam Idul Fitri. Suara itu terdengar hampir dari setiap toa masjid dan diikuti bunyi beduk yang bertalu-talu. Jalan-jalan disesaki orang yang bertakbir keliling. Semua orang riang gembira. Tertawa dan tersenyum. Namun, di balik meriahnya malam takbiran itu, tampak anak kecil yang duduk di selasar masjid.
Anak itu bernama Ali. Dia duduk sambil memeluk kedua kakinya. Matanya sembab. Kedua pipinya basah. Nasib Ali tidak sebagus anak-anak lain di tempatnya. Anak kelas 5 SD ini berasal dari keluarga sangat sederhana.
Ahmad yang sejak tadi melihatnya tak tega dan langsung menghampirinya. Dia duduk di sebelah kawan baiknya itu dan mulai berbicara.
“Besok kan lebaran. Orang-orang pada bahagia. Kenapa Ali justru duduk sedih seorang diri di sini?” tanyanya.
Ali diam sesaat. Kepalanya yang sedari tadi tertunduk, lalu perlahan-lahan diangkatnya. Dilihatnya wajah sahabatnya lekat-lekat.
“Nggak apa-apa, Ahmad. Aku hanya berfikir kalau besok teman-teman semua pakai baju baru. Bagus-bagus dan harum. Sedangkan saya? Tidak ada!”
Ahmad balik terdiam. Bingung hendak mengucapkan apa.
“Aku juga sudah khatam Al-Qur’an, tapi nggak dikasih hadiah apa-apa sama Ayah dan Ibu. Padahal, anak-anak yang lain kan dapat hadiah,” ujarnya lagi.
Belum sempat Ahmad berbicara, tiba-tiba, terdengar suara aneh. Suaranya mirip bunyi kresek yang digesek-gesek. Ahmad dan Ali pun bergegas mencari sumber suara itu. Ternyata dari arah belakang masjid. Terlihat anak kecil sedang membantu neneknya memulung sambil tertawa riang dan berbincang santai dengan neneknya.
Ali dan Ahmad terdiam. Keduanya seolah tak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Seorang anak kecil mengais sampah tapi tetap berbahagia. Tak ada keluh kesah. Justru bahagia.
“Lihat, Ali! Kamu masih mau mengeluh nggak dapat baju baru dan hadiah?” kata Ahmad.
Ahmad melanjutkan kalimatnya.
“Idul Fitri itu bukan soal baju baru atau nggak dapat THR. Emang kamu perna nemu hadits yang mengatakan kalau Idul Fitri wajib beli baju baru? Nggak kan?!”
“Ingat, Ali. Kamu masih lebih beruntung dibanding orang-orang yang makan aja susah. Kalau masalah khatam Al-Qur’an kamu harus berniat karena Allah. Yakinlah Allah akan beri kamu hadiah yang jauh lebih indah dari apapun di dunia ini,” tambah Ahmad lagi.
Ali sadar dan langsung beristighfar, “Kalau begitu, kita bantu neneknya saja, yuk Ahmad!” ajak Ali bersemangat.
“Siap! Ingat, yah. Niatnya karena Allah bukan mau imbalan,” ledek Ahmad sambal tertawa kecil.
Setelah beberapa lama mereka membantu nenek dan anak kecil itu memulung mereka pun pulang kerumah masing-masing
“Ya Allah, bekerja sebentar saja sudah capek banget. Bagaimana Ayah yang bekerja setiap hari, ya? Aku malah nggak pernah bersyukur,” Ali membatin.
“Ali sudah pulang tarawih?” tanya Ayah.
Ali pun mengangguk dengan wajah letih.
“Kayaknya capek banget, yah?” ucap Ayah sambil meghampiri Ali dan menyodorkan sebuah amplop.
“Ini, Ayah punya sedikit rezeki buat anak Ayah yang shalih. Ali hebat loh sudah khatam lima kali bulan puasa ini,” ucap Ayah.
Sontak Ali terkejut. Wajahnya langsung bersinar, seakan rasa letih yang dirasakannya telah hilang. Jauh di dalam hatinya berkata, “Ternyata Allah langsung membalas kebaikan Ali yang diniatkan karena Allah.”
“Serius, Yah!? Ini buat Ali?!” tanyanya lagi seolah belum percaya.
“Iya, sayang. Bisa buat beli baju baru juga,” ucap ayah sambal membelai rambut Ali.
“Tapi ini terlalu banyak, Yah. Boleh nggak Ali beliin baju lebaran untuk nenek dan anak kecil yang memulung di belakang masjid tadi?” tanya Ali.
Ayah pun mengangguk sambal tersenyum.
Demikian tiga contoh pengalaman hari raya Idul Fitri yang seru dan menyenangkan untuk dijadikan inspirasi dalam menyelesaikan tugas bercerita. (APR)
Baca Juga: 5 Kegiatan yang Dilakukan saat Hari Raya Idul Fitri
