3 Contoh Dongeng sebelum Tidur untuk Anak-Anak

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh dongeng sebelum tidur untuk anak-anak penting untuk diketahui para orang tua. Dalam membacakan dongeng untuk anak-anak sudah bisa dilakukan dari sejak berada dalam kandungan.
Mengutip dari buku Keajaiban Dongeng, Vemmi Kesumadewi (2021), dongeng memiliki berbagai manfaat seperti sebagai hiburan anak, pengenalan alam lingkungan, budi pekerti dan perilaku positif, serta dapat mempererat hubungan antar orang tua dan anak.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
3 Contoh Dongeng sebelum Tidur
Mengutip dari laman kemdikbud.go.id dari buku 5 Dongeng Anak Dunia, Dedik Dwi Prihatmoko, (2019), berikut beberapa contoh dongeng sebelum tidur untuk anak-anak.
1. Tuah (Tupai si Pantang Menyerah)
Di daerah perbukitan Pulau Jawa, terdapat kumpulan tupai pemakan buah kelapa. Para tupai jantan memiliki kegemaran unik yaitu meloncat dari ranting pohon ke ranting pohon lainnya. Sementara para tupai betina lebih suka merayap. Mereka tidak berani untuk meloncat.
Tetapi berbeda dengan Tuah, tupai betina si pantang menyerah. Dia ingin sekali dapat meloncat. Oleh karena itu, Tuah mendatangi Eyang Tupai. Beliau adalah pelatih yang selama ini mengajari para tupai jantan meloncat.
“Eyang, jadikanlah aku muridmu seperti para tupai jantan itu,” pinta Tuah.
“Kamu perempuan, sudahlah tidak perlu kamu susah payah berlatih loncat padaku,” jawab Eyang Tupai.
“Tolonglah Eyang, aku ingin seperti para tupai jantan yang dengan mudah meloncat dari satu pohon ke pohon lain,” ucap Tuah dengan nada memohon.
Eyang Tupai akhirnya merasa kasihan melihat Tuah yang begitu ingin berlatih melompat padanya. Eyang pun melatih Tuah sama seperti melatih tupai jantan lainnya.
Hari pertama latihan menjadi hari yang cukup buruk. Tuah jatuh berkali-kali. Begitupun di hari kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Sepekan sudah lamanya Tuah berlatih. Ia berusaha keras untuk menjadi peloncat seperti tupai jantan, tetapi belum ada tanda-tanda keberhasilan.
“Sudahlah Tuah, kau tidak usah menyiksa tubuhmu seperti ini. Terimalah keadaanmu seperti apa adanya.”
“Tidak Eyang, aku hanya perlu berlatih lebih keras lagi, insyaalah aku akan seperti tupai jantan yang dapat melompat dengan lincahnya,” ucap Tuah. Ia pun kembali berlatih sesuai apa yang diajarkan Eyang Tupai sebelumnya.
Dalam hati Eyang Tupai berkata, ”Tupai betina ini sungguh pantang menyerah.”
Tidak terasa, sudah dua bulan Tuah berlatih meloncat. Dan usahanya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Kini Tuah sudah dapat meloncat layaknya tupai jantan. Dari satu pohon ke pohon lainnya ia meloncat dengan indahnya.
“Masyaalah.. Eyang kagum melihat perjuanganmu selama ini, Maafkan Eyang ketika dulu pernah merendahkanmu sebagai seekor tupai betina yang lemah. Selamat atas keberhasilanmu!” ucap Eyang Tupai, si pelatih.
Berkat perjuangan Tuah, Eyang Tupai terketuk hatinya bahwa semua makhluk memiliki potensi yang sama, yang membedakan hanyalah usaha dan kerja kerasnya.
Setelah kejadian itu, Eyang Tupai mulai membuka kelas latihan lompat secara terbuka, tanpa memandang ia tupai jantan ataukah betina, karena yang menentukan adalah sikap pantang menyerah dalam dirinya.
Hikmah: Kegigihan dan kerja keras akan membuahkan hasil sesuai dengan apa yang kita inginkan.
2. Leu (Lebah yang Bersatu)
Leu adalah lebah madu yang tinggal diperbukitan Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sebagai anak sulung dari sepuluh bersaudara, Leu berusaha untuk selalu menjaga kerukunan di antara adik-adiknya.
Adik-adik Leu hampir setiap hari bertengkar. Berawal dari senda-gurau hingga berlanjut pada perkelahian. Melihat kejadian itu, beberapa hewan lain merasa terganggu akan kegaduhan yang hampir setiap hari mereka lakukan.
Leu mencoba mencari cara untuk menyadarkan kesembilan adiknya agar tetap rukun. Muncullah sebuah ide. Leu mengambil satu ranting kayu dan sepuluh ranting kayu yang diikat menjadi satu.
Kesembilan adiknya diminta berkumpul. Alhamdulillah tidak ada yang absen untuk memenuhi panggilan Leu sang kakak. ”Terimakasih atas kedatangan kalian adik-adikku,” ungkap Leu memulai obrolan.
“Di depan kalian ada satu ranting kayu dan satu ikat ranting kayu yang sengaja kakak ikat, siapa di antara kalian yang bisa mematahkan ranting-ranting ini?” tanya Leu pada adik-adiknya.
“Aku mau mencobanya,” jawab adik Leu yang paling kecil.
Untuk mematahkan satu ranting kayu, adik Leu tidak mengalami kesulitan. “Ini sangat mudah untuk aku lakukan,” ungkapnya.
Setelah itu, kakak Leu menyodorkan satu ikat ranting. Berbagai cara ia lakukan untuk mematahkan ikatan ranting kayu. Namun, ranting itu tetap tidak patah. Adik Leu yang paling kecil pun menyerah dan meminta kakak-kakaknya yang lain untuk mencoba.
Adik yang kedua pun ikut mencoba. Satu ranting kayu dengan mudah dipatahkan, namun untuk satu ikat ranting kayu dia juga mengalami kesulitan. Tenaga adik leu dikeluarkan sekuat-kuatnya, namun usahanya pun masih tetap sia-sia.
Adik Leu yang ketiga, keempat, kelima, hingga yang kesembilan pun mencoba untuk mematahkan ikatan ranting kayu itu, namun semua mendapat hasil yang sama yakni kegagalan untuk mematahkan ranting kayu yang sudah terikat menjadi satu.
“Inilah yang kakak ingin bilang, hiduplah seperti ranting kayu yang terikat menjadi satu. Semakin kita rukun, maka semakin kuat kemampuan kita.
Begitupun sebaliknya, ketika kita sering bertengkar maka kerapuhan yang akan kita dapati. Semua adik Leu merunduk tak dapat berkata apa-apa lagi selain merenungkan ucapan kak Leu tentang sikap yang selama ini mereka lakukan.
Akhirnya, kesembilan adik Leu mulai sadar atas kekeliruan yang selama ini mereka lakukan. Adik-adik Leu lantas saling meminta maaf dan berjanji untuk tidak akan bertengkar dan marah-marahanan lagi, dengan menjaga hubungan baik kepada saudara maupun teman-temannya.
Hikmah : Kerukunan adalah kekuatan hubungan dalam hidup. Maka pupuklah kerukunan itu dengan mengedepankan prinsip bersatu di setiap waktu.
3. Tresalong (Trenggiling sang Penolong)
Di sebuah padang sabana, Kalimantan Selatan. Tinggalah seekor trenggiling. Trenggiling itu bernama Tresalong. Ia dikenal sebagai trenggiling yang suka menolong.
Pada suatu hari, seekor harimau datang ke padang sabana. Dan dia membuat takut semua hewan. Kelinci, Tupai, dan Tresalong yang sedang bermain turut ketakutan melihat kedatangan harimau. Ketiganya bersembunyi di balik semak-semak.
“Suttt....jangan berisik!” kata Tupai sambil memperhatikan harimau yang perlahan mulai mendekat. Melihat langkah harimau yang semakin dekat.
Tubuh Kelinci gemetar ketakutan, semak-semak tempat mereka bersembunyi bergoyang-goyang lantaran gerakan tubuh Kelinci yang tak bisa ditahan. Harimau pun melihat hal itu. Perlahan harimau mendekat ke semak-semak.
“Hei! Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya harimau.
“Tidak, kami tidak sedang melakukan apa-apa,” kata tupai menjawab pertanyaan si harimau.
“Baiklah, Aku lapar! Aku butuh daging segar. Apakah kalian bisa memberiku makanan yang aku butuhkan?” seru sang harimau kepada kelinci, tupai, dan Tresalong.
Mendengar hal itu, kelinci dan tupai semakin ketakutan. Mereka pasrah dengan nasib hidupnya. Tidak ada langkah lain kecuali menanti harimau mencabik-cabik tubuh mereka dan menyantapnya.
Tresalong menyadari kedua temannya ketakutan, Oleh karenanya, Tresalong mencoba berbicara pada harimau.
“Harimau, dagingku sangat lezat, Aku mau memberikan dagingku kepadamu asalkan kamu mau melepaskan dua temanku untuk pergi dari sini,” ungkap Tresalong kepada harimau.
“Apa kamu rela dagingmu aku makan?” timpal harimau kepadanya.
“Aku rela asalkan dua temanku diizinkan pulang menyampaikan kematianku kepada orang tuaku,” ungkap Tresalong meyakinkan harimau.
“Baiklah, kalau hanya itu mau mu.” pungkas Harimau.
Kelinci dan Tupai akhirnya diperkenankan untuk pergi menyampaikan keinginan Tresalong. Dengan berat hati keduanya beranjak pergi meninggalkan Tresalong dengan Harimau.
Saat dirasa cukup jauh, dan tak terlihat dari jangkauan mata, Tresalong segera meminta Harimau untuk mencicipi dagingnya. Harimau yang sudah sangat lapar, tak mau menunggu lama, ia segera mendekat dan menyergap Tresalong.
Namun seketika itu Tresalong menggulingkan tubuhnya. Harimau tidak sadar bahwa Tresalong dapat mengulingkan tubuhnya dengan balutan sisik yang keras, dan membuat harimau kesusahan untuk memakannya.
Berulang kali harimau mencoba menggigit tubuh Tresalong namun usahanya sia-sia. Yang Harimau dapatkan justru rasa sakit pada taringnya karena berulang kali mengigit kerasnya sisik yang menyelimuti tubuh Tresalong.
Setelah beberapa waktu lamanya, harimau pun menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan Tresalong. Harimau pun pergi dengan perut keroncongan. Karena ia tidak mendapat santapan daging untuk menu makan siang.
Sementara Tresalong justru gembira karena berhasil menyelamatkan kedua temannya dari buruan si Harimau. Ketika Tresalong pulang, semua teman dan keluarga menyambut dengan penuh haru.
Beragam ucapan terimakasih pun bersahut-sahutan datang dari Kelinci, Tupai dan orang tua kepada Tresalong. Tresalong pun hidup bahagia atas sikap penolongnya.
Hikmah: Berjiwalah sebagai penolong yang tulus dan milikilah kecerdikan dalam hidup untuk tujuan kebaikan. Karena dengan itu semua, kita akan mudah untuk membahagiakan diri sendiri maupun orang lain di sekeliling kita.
Demikian tiga contoh dongeng sebelum tidur untuk anak-anak yang seru dan penuh pesan-pesan positif. (LA)
Baca Juga: 6 Dongeng Sunda Sasatoan yang Bisa Dijadikan Referensi Bacaan
