Konten dari Pengguna

4 Penyebab Konflik Horizontal Tetap Terjadi Walaupun Demokrasi Telah Diterapkan

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Penyebab Konflik Horizontal Tetap Terjadi Walaupun Demokrasi Telah Diterapkan, (Foto: Istimewa)/kumparanNEWS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Penyebab Konflik Horizontal Tetap Terjadi Walaupun Demokrasi Telah Diterapkan, (Foto: Istimewa)/kumparanNEWS

Pertanyaan “Mengapa konflik horizontal tetap terjadi walaupun demokrasi telah diterapkan?” membuka ruang refleksi tentang bagaimana dinamika sosial dan kepentingan kelompok tetap berpotensi memicu konflik.

Banyak orang beranggapan bahwa penerapan demokrasi otomatis membawa kedamaian dan kesetaraan bagi semua kelompok, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Mengapa Konflik Horizontal Tetap Terjadi walaupun Demokrasi Telah Diterapkan?

Ilustrasi Konflik Horizontal, Foto: Unsplash/Ehimetalor Akhere Unuabona

Mengapa konflik horizontal tetap terjadi walaupun demokrasi telah diterapkan? Dikutip dari jurnal Peran Komunikasi dalam Penyelesaian Konflik Horizontal di Indonesia oleh Fahrimal, berikut adalah penjelasan lengkapnya.

1. Krisis Identitas

Konflik horizontal sering kali dipicu oleh krisis identitas, yaitu ketika individu atau kelompok merasa identitas fundamentalnya, seperti suku, agama, budaya, bahasa, atau sejarah, terancam oleh pihak lain.

Identitas tersebut memiliki arti penting bagi kelompok dan kerap dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan kekerasan demi melindungi jati diri.

Konsep identitas sendiri tidak hanya terbatas pada suku, tetapi juga mencakup aspek ras, agama, kultur, bahasa, keturunan, dan sejarah. Karena itu, gesekan antarkelompok sering muncul ketika identitas suatu kelompok dianggap terganggu atau tidak dihormati.

2. Distribusi Sumber Daya yang Tidak Merata

Salah satu faktor lain dari konflik horizontal adalah ketidakmerataan distribusi sumber daya, baik itu ekonomi, politik, maupun sosial. Ketimpangan ini memicu kecemburuan sosial dan rasa tertindas pada kelompok tertentu.

Ketika akses terhadap peluang atau kekuasaan tidak seimbang, potensi konflik semakin besar karena ada kelompok yang merasa dirugikan dan tidak mendapatkan keadilan.​

3. Oportunisme Elite Politik

Elite politik terkadang memanfaatkan perbedaan identitas dan ketimpangan sumber daya demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Elite politik sering memobilisasi massa dengan mengangkat isu SARA, yaitu agama, ras, dan antargolongan, untuk memperoleh simpati atau memperkuat posisi politik.

Akibatnya, konflik horizontal sering kali bukan muncul secara alami, melainkan sengaja dipicu oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan.

4. Kegagalan Komunikasi dan Minimnya Toleransi

Kurangnya komunikasi yang efektif dan minimnya pemahaman makna persaudaraan atau toleransi antarkelompok juga menjadi pemicu konflik.

Ketidakmampuan memahami atau menerima perbedaan sering berdampak pada kelangkaan solusi damai, sehingga setiap gesekan kecil bisa berkembang menjadi konflik yang luas.

Media massa dan pola komunikasi yang tidak terarah juga dapat memperburuk situasi, khususnya jika berita yang disampaikan bernuansa provokasi atau sensasi.

Melihat berbagai faktor di atas, jelas bahwa konflik horizontal tetap terjadi bukan semata karena kelemahan sistem politik, tetapi karena lemahnya kesadaran sosial untuk menghargai perbedaan dan membangun dialog yang sehat.

Hanya dengan memperkuat nilai toleransi, pemerataan keadilan, dan komunikasi yang terbuka, cita-cita demokrasi yang damai dan inklusif dapat benar-benar terwujud di tengah masyarakat. (Fikah)

Baca juga: Kondisi Mental Bangsa Indonesia yang Berpegang pada Ideologi Pancasila