5 Jenis Puasa Makruh dalam Islam yang Lebih Baik Ditinggalkan

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puasa memiliki banyak manfaat bagi seseorang dari segi keimanan maupun kesehatan. Namun, ada juga jenis puasa yang lebih banyak mendatangkan kerugian yang disebut puasa makruh.
Puasa sendiri berasal dari kata shaum yang artinya menahan diri. Secara istilah, puasa dapat diartikan menahan diri dari hawa nafsu, baik lapar, haus, hingga amarah.
Mengamalkan puasa dapat membuat seseorang terhindar dari maksiat. Hal sesuai isi hadis riwayat Muttafaq di mana Rasulullah bersabda, “Sungguh setan itu berjalan pada anak Adam melalui aliran darah. Karena itu, hendaklah kalian mempersempit aliran darah itu dengan rasa lapar.”
Meski begitu , Islam tidak menganjurkan puasa makruh yang dikerjakan pada kondisi dan waktu-waktu tertentu karena membawa banyak kerugian. Apa saja puasa makruh yang akan lebih baik tidak dikerjakan umat Islam? Simak ulasannya berikut ini!
Baca Juga: Pengertian Puasa Ramadhan dan Keutamaan yang Ada di Dalamnya
Jenis-Jenis Puasa Makruh dalam Islam
Puasa makruh adalah puasa yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan. Puasa tersebut lebih banyak membawa mudarat atau kerugian ketimbang manfaat bagi orang yang mengerjakan.
Mengutip buku Dahsyatnya Puasa Sunnah oleh H Amirulloh Syarbini, puasa makruh mencakup puasa tanpa izin suami, puasa tanpa berbuka, puasa setahun penuh, dan puasa pada dua hari terakhir bulan Syaban.
1. Puasa Seorang Istri Tanpa Izin Suami
Seorang istri sebaiknya tidak berpuasa tanpa izin suami. Puasa yang dimaksud adalah puasa sunnah. Istri boleh berpuasa jika suami tidak sedang membutuhkan istri, misalnya sedang dinas di luar kota atau sedang berhaji.
2. Puasa Setahun Penuh
Seorang Muslim tidak dianjurkan berpuasa setahun penuh tanpa putus. Ini memang tidak melanggar syariat agama, tetapi lebih pada faktor kesehatan orang yang berpuasa.
3. Puasa di akhir bulan syaban
Puasa yang dimulai dari pertengahan sampai akhir bulan Sya’ban haram untuk dikerjakan. Hukumnya menjadi makruh apabila puasanya sudah dilakukan sejak awal bulan.
Dari Abu Hurairah Ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila telah memasuki paruh kedua bulan Sya’ban, maka kalian tidak boleh berpuasa!” (HR. at-Tirmidzi, Abu Daud, Ibn Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad).
4. Puasa di hari sabtu dan minggu
Umat Islam sebaiknya tidak berpuasa di hari Sabtu atau Minggu karena hukumnya makruh. Itu karena Sabtu adalah waktu ibadah orang Yahudi dan Minggu adalah waktu ibadah orang Nasrani. Namun, hal ini tidak berlaku apabila diniatkan untuk mengqadha puasa dan dimulai sejak beberapa hari sebelumnya.
5. Puasa Wishal
Wishal atau menyambung puasa tanpa berbuka hukumnya makruh. Contohnya adalah orang yang berpuasa dua hari berturut-turut siang dan malam tanpa berbuka.
Mengutip buku Rahasia Puasa Menurut 4 Mazhab oleh dr Thariq Muhammad Suwaidan, puasa ini tidak dianjurkan karena lebih banyak kerugiannya, terutama dari segi kesehatan.
Baca Juga: Cara Membayar Fidyah dengan Uang untuk Ganti Puasa Ramadan
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud puasa wishal?

Apa yang dimaksud puasa wishal?
Puasa wishal adalah puasa yang dilakukan dua hari berturut-turut tanpa berbuka.
Mengapa tidak boleh berpuasa di hari Sabtu?

Mengapa tidak boleh berpuasa di hari Sabtu?
Itu karena Sabtu adalah waktu ibadah orang Yahudi.
Apa maksud seorang istri tidak boleh berpuasa tanpa izin suami?

Apa maksud seorang istri tidak boleh berpuasa tanpa izin suami?
Maksudnya adalah seorang istri tidak boleh menjalankan puasa sunnah tanpa izin suami.
(GLW)
