6 Lokasi Syuting Can This Love Be Translated yang Bikin Fans Penasaran

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lokasi syuting Can This Love Be Translated menjadi perhatian karena serial ini menampilkan lanskap lintas negara yang mendukung perkembangan emosi cerita.
Serial Korea yang tayang global pada 16 Januari 2026 tersebut memadukan ruang historis, kota modern, serta alam terbuka sebagai bagian dari narasi.
Pemilihan tempat pengambilan gambar dilakukan secara selektif untuk menegaskan dinamika hubungan antartokoh tanpa harus mengungkap keseluruhan alur sejak awal.
Lokasi Syuting Can This Love Be Translated
Berikut adalah daftar lokasi syuting Can This Love Be Translated yang merepresentasikan keberagaman latar budaya serta karakter ruang yang membingkai perjalanan cerita, dikutip dari travelandleisureasia.com.
1. Civita di Bagnoregio, Lazio, Italia
Civita di Bagnoregio digunakan sebagai latar beberapa adegan emosional awal yang menonjolkan jarak dan keraguan. Desa abad pertengahan ini hanya dapat diakses melalui jembatan pejalan kaki panjang yang menciptakan kesan terisolasi.
Arsitektur batu tua dan posisi desa di puncak bukit memperkuat nuansa rapuh dalam relasi karakter. Lingkungan yang sunyi membantu menghadirkan ritme cerita yang lambat dan reflektif.
2. Montalcino, Tuscany, Italia
Montalcino menjadi lokasi pengambilan gambar untuk momen-momen intim ketika karakter mulai menurunkan batas emosional. Jalan batu sempit serta dinding kota abad pertengahan menciptakan suasana tertutup tapi hangat.
Pemandangan Val d’Orcia dari ketinggian dimanfaatkan sebagai latar visual yang tenang. Kota penghasil Brunello ini memberi keseimbangan antara keindahan alam dan ruang personal.
3. Kamakura, Prefektur Kanagawa, Jepang
Kamakura menghadirkan suasana pesisir yang berbeda dari lokasi Eropa dalam serial ini. Adegan di sekitar Stasiun Gokurakuji pada jalur Enoden menampilkan interaksi yang bersifat sederhana dan personal.
Detail kayu, jalur kereta kecil, serta vegetasi hijau memperkuat kesan keseharian. Latar kota bersejarah dekat Tokyo ini menegaskan peralihan emosi karakter secara perlahan.
4. Kyoto, Wilayah Kansai, Jepang
Distrik Gion di Kyoto digunakan untuk menggambarkan rutinitas dan keheningan dalam kehidupan tokoh. Gang sempit dengan rumah kayu tradisional menciptakan visual yang bersih dan tertata.
Elemen budaya klasik Jepang memberikan kontras dengan dialog modern yang muncul dalam cerita. Kota bekas ibu kota ini memperkaya lapisan budaya tanpa mengalihkan fokus dari hubungan antartokoh.
5. Banff National Park, Alberta, Kanada
Banff National Park dipilih untuk adegan kontemplatif yang menampilkan karakter dalam kondisi emosional mendalam. Jembatan pejalan kaki Banff serta area sekitar Lake Louise menonjolkan ketenangan alam pegunungan.
Lanskap danau biru serta pegunungan Rocky menghadirkan ruang hening yang kuat secara visual. Area ini berfungsi sebagai latar jeda naratif sebelum konflik berkembang lebih jauh.
6. Seoul, Korea Selatan
Seoul menjadi penutup rangkaian lokasi dengan pendekatan visual yang lebih urban. Adegan di ruang kantor, hunian pribadi, serta area perhotelan seperti Josun Palace menampilkan sisi profesional karakter.
Kota metropolitan ini mencerminkan realitas kerja dan media yang melingkupi kehidupan tokoh utama. Lingkungan modern Seoul mengikat kembali cerita ke konteks asal drama Korea.
Secara keseluruhan, lokasi syuting Can This Love Be Translated menunjukkan bagaimana ruang nyata dapat menjadi bagian dari pembangunan emosi cerita.
Pemilihan latar lintas negara tersebut menegaskan perjalanan batin tokoh melalui suasana visual yang selaras dengan perkembangan konflik dan relasi. (Shofia)
Baca Juga: Ayah Ini Arahnya Kemana Ya Kapan Tayang di Bioskop? Ini Informasi Lengkapnya
