60 Contoh Kalimat Krama Lugu dan Artinya dalam Dialog Bahasa Jawa

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam Bahasa Jawa, ada berbagai tingkatan yang perlu dipelajari dan dipahami perbedaannya, mulai dari contoh kalimat krama lugu, krama inggil, krama madya, ngoko halus, dan ngoko lugu. Di antara beberapa tingkatan tersebut, tingkatan yang paling sering dipelajari yaitu ngoko sebagai tingkatan basa Jawa terendah, krama madya/krama lugu sebagai tingkatan sedang, dan krama inggil sebagai tingkatan tertinggi.
Bahasa Jawa memiliki banyak dialek, aksen, dan tingkatan tutur ketika berdialog dengan orang lain. Mengutip dari buku Pemartabatan bahasa Indonesia dalam Menghadapai Perubahan Konstelasi Politik dan Ekonomi Dunia, KIPBIPA X/2017: The Singhasari Resort, Kota Batu (2017), bahasa Jawa merupakan bahasa terbesar di Indonesia.
Bahasa Jawa ditopang oleh 85 juta penutur, Dengan jumlah tersebut, bahasa Jawa tergolong salah satu bahasa terbesar di dunia. Mungkin karena inilah bahasa Jawa tidak memiliki ragam baku yang ditetapkan oleh negara, sehingga cukup sulit dipelajari dalam sistem pendidikan formal.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Contoh Kalimat Krama Lugu
Berbeda dengan basa krama inggil, contoh kalimat krama lugu atau krama madya memiliki kosakata yang lebih kasar. Meskipun tampak membingungkan, tetapi keduanya memang memiliki perbedaan.
Misalnya,
Bahasa Indonesia: Aku
Ngoko: Aku
Krama lugu: Kula
Krama inggil: Abdi/dalem
Sementara itu, dalam penggunaannya sendiri krama lugu digunakan oleh orang yang lebih muda ketika berbicara kepada mereka yang lebih tua, seperti murid kepada guru, karyawan kepada pemimpin, pembantu kepada majikan, dan lain sebagainya.
Krama lugu juga biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang masih seumuran tetapi belum akrab atau baru dikenal. Dalam krama lugu lebih sering muncul imbuhan ngoko, seperti di-, -ake, dan -e daripada dipun-, -ipun, dan -aken sebagaimana krama inggil.
Ciri-ciri Basa Jawa Krama Madya atau Krama Lugu
Kata "aku" diubah menjadi "kula".
Kata "kowe" diubah menjadi "sampeyan" .
Awalan atau ater-ater tak-, diubah menjadi "kula".
Awalan atau ater-ater ko-, diubah menjadi "samang" atau "mang".
Tambahan -ku, diubah menjadi "kula".
Tambahan -mu, diubah menjadi "sampeyan" atau "samang".
Adapun tujuannya yaitu untuk menurunkan derajat kehalusan sehingga lebih mudah dibedakan dengan ragam krama inggil atau krama alus. Agar lebih mudah dipahami, berikut adalah kumpulan contoh kalimat krama lugu lengkap dengan artinya dalam dialog bahasa Jawa sehari-hari:
Niki bathike sing pundi sing ajeng diijolke? (Ini batiknya mana yang akan ditukarkan?)
Mbak, sampeyan wau dipadosi bapak. (Mbak, kamu tadi dicari bapak.)
Pak Dion, sampeyan mboten siyos kesah? (Pak Dion, Anda tidak jadi pergi?)
Kalawau sampun nedha punapa dereng, Pak? (Tadi sudah makan atau belum, Bu?)
Mas Dayu kalawau budal sekolah mlampah. (Mas Dayu tadi berangkat sekolah jalan kaki.)
Kula kesupen mboten nggarap PR ndalu wau. (Saya lupa tidak mengerjakan PR tadi malam.)
Adik wau bali mulih saka Jakarta kanthi numpak bis. (Adik tadi pulang dari Jakarta naik bis.)
Rina duwe dolanan anyar sing lucu lan apik banget. (Rina punya mainan baru yang lucu dan bagus sekali.)
Kula kalawingi ningali wayang kulit ing ndaleme Pak RT. (Saya kemarin melihat pertunjukkan wayang kulit di kediamannya Pak RT).
Sampeyan napa sampun wangsul saking kantor, Mas? (Kamu apa sudah pulang dari kantor, Mas?)
Ibu tumbas gendhis ing warung Bu Ani. (Ibu membeli gula di warung Bu Ani.)
Mas Ilham nedha iwak bandeng. (Mas Ilham makan ikan bandeng.)
Kanca kula tumbas oleh-oleh tahu kuning saka Kediri. (Teman saya membeli oleh-oleh tahu kuning dari Kediri.)
Sampun jam sedasa budhe kok dereng tilem? (Sudah jam sepuluh malam kok budhe belum tidur?)
Adhikku disukani Bu Guru jajan amarga nilai ulangane apik. (Adikku diberi jajan sama Bu Guru karena nilai ulangannya bagus.
Sing dipilih Mas Sigit niku jurusan tataboga utawi perhotelan, toh? (Yang dipilih Mas Sigit itu jurusan tataboga atau perhotelan?
Mbak Siska tumut Pakdhe menyang Yogyakarta. (Mbak Siska ikut Pakdhe ke Yogyakarta.)
Bapak mboten adus amarga sakit. (Bapak tidak mandi karena sakit.)
Kula ditumbasaken laptop anyar kaliyan Bapak. (Saya dibelikan laptop baru sama Bapak)
Kula boten kemutan menawi dinten menika kedah numbasaken rasukan kagem Bapak. (Saya tidak ingat jika hari ini harus membelikan pakaian untuk Bapak.)
Sampeyan wau punapa sampun nedha? (Anda apa sudah makan?)
Sampeyan napa dadi kesah menyang Solo? (Anda apakah jadi berangkat ke Solo?)
Sampeyan wau dhateng mriki numpak napa? (Anda tadi datang ke sini naik apa?)
Napa sampeyan purun ngrencangi jaga wengi? (Apakah Anda bisa nemenin jaga malam?)
Napa sampeyan dadi ditumbasake pit anyar? (Apakah Anda jadi dibelikan sepeda baru?)
Ampun wangsul, tilem mriki mawon. (Jangan pulang, tidur di sini saja)
Sampeyan mau dalu tilem jam pinten? (Anda tadi malam, tidur jam berapa?)
Ibu, kula ajeng tindak sekolah. (Ibu, saya akan berangkat ke sekolah)
Rama numbasake adik mainan enggal wau enjing ing peken. (Rama membelikan adik mainan tadi pagi di pasar)
Kula mboten kesah sekolah amargi sakit. (Saya tidak jadi berangkat ke sekolah karena sakit)
Sekedhap malih kula kesah dhateng peken. (Sebentar lagi aku pergi ke pasar)
Kula badhe maem. (Saya mau makan)
Ibu tanglet dhateng bapak mbenjang napa badhe dolan. (Ibu bertanya kepada bapak, apakah besok jadi liburan)
Ibu tumbas tigan. (Ibu beli telur)
Pak guru mbeta buku. (Pak guru bawa buku)
Saben enjang bapak mlampah-mlampah. (Setiap pagi bapak jalan-jalan)
Kula ningali TV ten ruang tengah, bapak sare wonten kamar. (Saya melihat TV di ruang tengah, bapak sedang tidur di kamar)
Ibu tindak peken nitih sepedha. (Ibu berangkat ke pasar pakai sepeda).
Bapak nembe budhal wau dalu. (Bapak baru berangkat tadi malam).
Kula dikengken ibu tumbas gendis. (Saya disuruh ibu beli gula).
Bapak maos serat kabar wonten teras. (Bapak membaca surat kabar di teras)
Adik ndherek ibu tindak peken. (Adik ikut ibu ke pasar)
Bu Ratna mboten sios mucal amargi gerah. (Bu Ratna tidak bisa mengajar karena sakit).
Ibu badhe ten nggene Bu Pit tumbas merica. (Ibu akan pergi ke Bu Pit beli merica).
Mbah Tarjo panen kacang dugi saben. (Mbah Tarjo panen kacang di sawah).
Adit nyelep pantun te nggene Mbah Sarip. (Adit menggiling padi ke Mbah Sarip).
Regini roti niki pinten? Kula badhe tumbas tigo. (Harganya roti ini berapa? Saya akan beli tiga)
Kula mboten saget wangsul ndalu mau amergi jawah. (Saya tidak bisa pulang tadi malam karena hujan).
Wahyu mendetaken toyo didamel unjukane lembu. (Wahyu mengambilkan air untuk minum sapi).
Ndalu menika, ndalu ingkang sanget ngremenaken. (Malam ini malam yang sangat menyenangkan).
Bukune kula nembe dijilih kanca. (Buku saya baru dipinjam teman).
Sepedane niku, sampean pindah njobo. (Sepedanya itu, Anda pindah ke luar).
Kula nembe teko omah enjang mau. (Saya baru sampai rumah tadi pagi).
Ghendise sampun telas, kanton kopi sedaya, kaleh teh. (Gulanya sudah habis, tinggal kopi semua, sama teh).
Menawi kepingin tumbas tigan ingkang mirah, panjhenenga tumbas ten nggone Bu Prapti. (Kalau ingin beli telur yang murah, Anda beli di rumahnya Bu Prapti).
Sampun mboten saget sadean, griyanipun piyambake kobongan. (Sudah tidak bisa jualan, rumah dia kebakaran).
Hawane asrep kadose mbenjing jawah. (Hawanya dingin kelihantannya besok hujan).
Kula badhene ngijolne tase adik amargi tase menika keagengan. (Saya akan menjual tas adik karena tasnya itu kebesaran).
Padahal sampun kula tembel, tapi tasih saget bocor. (Padahal sudah saya tambal, tapi masih bisa bocor).
Gentengeipun sampun katah ingkang pecah, menawi saget digantos mawon amargi bocor. (Gentengnya sudah banyak yang pecah, kalu bisa diganti saja karena bocor).
Itulah kumpulan contoh kalimat krama lugu atau dikenal juga dengan krama madya, lengkap dengan artinya yang biasanya digunakan dalam percakapan bahasa Jawa sehari-hari. Meskipun tidak jauh berbeda dengan basa ngoko, basa lugu terdengar lebih halus.
Tutur kata krama lugu berada di tengah-tengah antara krama inggil dan ngoko. Inilah alasan mengapa banyak orang sering keliru perbedaannya. (LAIL)
Baca juga: Bahasa Jawa Halus: Aturan Penggunaan dan Contoh Kalimatnya
