60 Pantun Penutup Pidato Lucu dan Menghibur

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pantun penutup pidato lucu menjadi salah satu cara yang unik dan menghibur untuk menutup pidato secara berkesan.
Selain menyampaikan pesan akhir, pantun juga mampu mencairkan suasana dan membuat audiens tersenyum setelah mendengarkan rangkaian kata-kata yang disampaikan.
Pantun jenis ini sering digunakan dalam acara-acara resmi maupun santai, baik di lingkungan sekolah, kampus, komunitas, maupun lembaga pemerintahan.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
60 Pantun Penutup Pidato Lucu dengan Pesan
Pantun penutup pidato lucu ternyata tidak hanya efektif sebagai hiburan, tetapi juga diakui memiliki nilai edukatif dan komunikatif.
Diikutip dari laman (unja.ac.id), pantun dinilai mampu membentuk karakter dan menyampaikan pesan sosial secara halus namun bermakna.
Pantun juga melatih kecerdasan berbahasa, mempererat hubungan antarpendengar dan pembicara, serta menciptakan suasana yang lebih cair dan menyenangkan di akhir pidato.
Dengan menggabungkan unsur humor dan pesan moral, pantun penutup menjadi media yang tepat untuk meninggalkan kesan mendalam pada audiens.
Berikut 60 pantun penutup pidato lucu dan menghibur, yang bisa digunakan dalam berbagai konteks: pidato resmi, pidato santai, acara sekolah, kegiatan kampus, pengajian, hingga acara perpisahan.
Naik kereta ke arah barat,
Lupa turun malah ke timur.
Cukup sekian pidato semangat,
Kalau kelamaan bisa ngelantur.
Beli bakso di sore hari,
Ditambah sambal dua sendok.
Bila kata-kataku kurang menarik hati,
Anggap saja bonus candaan dan lelucon bodok.
Main layangan di tengah sawah,
Benangnya kusut susah dirapikan.
Kalau pidato ini bikin resah,
Maafkan bila ada yang menyakitkan.
Pakai sepatu tapi kebalik,
Lari-lari malah terpeleset.
Pidato saya sudah cukup pelik,
Lebih lama nanti Anda penat.
Beli baju ke toko baru,
Warnanya ungu mirip terong.
Maaf jika agak kurang seru,
Namanya juga bukan stand up wong.
Ada kucing sedang melompat,
Mengganggu tikus yang sedang tidur.
Sekian kata yang saya dapat,
Semoga semua tetap bahagia dan makmur.
Pergi ke sawah melihat bebek,
Pulangnya bawa satu ember.
Kalau saya terlalu cerewet,
Semoga tidak bikin Anda jutek.
Naik sepeda ke rumah teman,
Ban bocor jadi jalan kaki.
Terima kasih atas perhatian,
Sampai jumpa lain kali!
Pergi ke kantin beli bakwan,
Sama tempe dan es teh manis.
Kalau pidatonya agak berantakan,
Maklumlah kami masih belajar nulis.
Ada ayam berkokok pagi
Membangunkan adik yang ngantuk
Kalau ada kata yang tak dimengerti
Silakan tanya, jangan mengeluh bingung mengantuk
Main bola di lapangan luas,
Tendangannya sampai ke pagar.
Sekian dulu kata terucap jelas,
Semoga semua makin pintar.
Naik motor tanpa helem,
Langsung ditilang pak polisi.
Kalau pidato ini terkesan serem,
Itu cuma gaya ekspresi.
Main petak umpet di kebun,
Sembunyi di balik pohon jambu.
Saya akhiri pantun penuh pantun,
Sampai bertemu di waktu yang baru.
Ada gajah makan rumput,
Disapa kancil lewat samping.
Jangan bosan walau saya ribut,
Namanya juga siswa yang rajin.
Ada kucing main gitar,
Suaranya bikin tertawa.
Cukup sekian dari saya sebentar,
Kalau kurang, sambung di lain acara.
Main egrang di tengah lapang,
Jatuh bangun tetap semangat.
Kalau kata saya agak panjang,
Maaf ya kawan tetap semangat.
Beli pensil di koperasi
Bonusnya penghapus lucu
Terima kasih dari hati
Semoga sukses menyertai waktu
Langit cerah di pagi hari,
Burung berkicau di dahan tinggi.
Saya akhiri pidato ini,
Terima kasih atas waktu yang diberi.
Bunga melati tumbuh di taman,
Disiram tiap pagi oleh ibu guru.
Jika kata saya banyak kekurangan,
Semoga bisa dimaafkan selalu.
Sarung baru dari Pekalongan,
Dibeli ayah saat lebaran.
Kalau pidato ini kurang berkenan,
Semoga masih bisa jadi pelajaran.
Berlayar kapal dari seberang,
Tiba di pelabuhan dengan aman.
Demikian sambutan saya yang panjang,
Mohon maaf bila ada kesalahan.
Minum kopi sambil membaca,
Buku tua dari nenek moyang.
Semoga pidato ini ada maknanya,
Tak hanya sekadar lewat dan hilang.
Pohon kelapa di tepi rawa,
Daunnya bergoyang ditiup angin.
Saya pamit dengan bahagia,
Semoga hadirin tetap tenang dan yakin.
Burung nuri hinggap di dahan,
Berkicau merdu tanpa beban.
Pidato saya cukup sekian,
Mohon maaf dan salam penuh harapan.
Menanam jagung di kebun luas,
Dipanen bareng tetangga sejalan.
Kalau tadi pidato saya lepas,
Harap maklum dari kesungguhan.
Adik dan Kakak bermain ke rumah,
Hati senang wajah pun cerah.
Sampai jumpa di lain waktu,
Semoga sehat dan penuh berkah.
Lilin kecil di tengah malam,
Menemani belajar sampai pagi.
Mohon maaf bila suara kurang dalam,
Karena batuk belum sembuh lagi.
Laut biru gelombang tenang,
Ikan menari penuh suka.
Demikian materi saya yang panjang,
Semoga masuk dan tidak terlupa.
Ke perpustakaan membaca novel,
Tersesat malah ke bagian sejarah.
Kalau suara saya tak begitu level,
Anggap saja hiburan sesaat yang cerah.
Main gitar sambil bernyanyi,
Lagu lawas jadi trending lagi.
Mohon maaf bila terlalu tinggi,
Volume suara saya yang tadi pagi.
Ada pelangi setelah hujan,
Langit cerah kembali tenang
Semoga Anda semua dapat pelajaran,
Meski disampaikan dengan tenang.
Membuat kopi campur susu,
Diminum saat malam dingin.
Kalau tadi saya terlalu seru,
Itu agar semangat dan tidak dingin.
Naik delman ke Kota Waringin,
Berhenti sebentar beli cemilan.
Sekian pidato dari saya kirimkan,
Semoga acara kita selalu berkesan.
Ada kue di meja tamu,
Dibuat tante yang paling lucu.
Sampai di sini pidato saya dulu,
Mohon maaf bila ada yang keliru.
Tikar dibuka saat piknik,
Duduk santai sambil ngopi.
Kalau tadi saya terlihat panik,
Itu karena mantan duduk di sini.
Main catur di rumah paman,
Kalah karena salah langkah.
Kalau pidato saya tak berkesan,
Tolong maafkan dan jangan marah.
Ke rumah nenek bawa martabak,
Pulangnya dikasih uang jajan.
Kalau kata saya terlalu banyak,
Anggap saja bonus hiburan.
Naik kapal ke pulau seberang,
Tiba-tiba lihat pelangi indah.
Pidato ini saya tutup sekarang,
Sampai jumpa di lain kesempatan cerah.
Burung nuri hinggap di ranting,
Sambil nyanyi lagu kenangan.
Sekian pidato saya yang ringan dan garing,
Semoga menghibur dan ada manfaatnya kawan.
Ambil semangka di kebun buah,
Dipotong dua dan dibagi rata.
Sampai di sini pidato berakhir sudah,
Mohon maaf bila banyak celoteh tak bermakna.
Main layangan putus benangnya,
Terbang tinggi ke angkasa.
Kalau saya tadi banyak gaya,
Itu biar audiens gak ngantuk semuanya.
Ke pasar beli belut,
Belutnya licin kabur ke selokan.
Kalau saya tadi terlalu ribut,
Itu biar suasana gak membosankan.
Beli sandal di toko seberang,
Satu kiri satunya hilang.
Pidato saya walau kadang melancang,
Setidaknya bikin senyum mengembang.
Beli jeruk rasanya manis,
Dibawa pulang dimakan bersama.
Kalau kata saya kurang teknis,
Anggap saja sambutan pertama.
Main bola di halaman luas,
Sepatunya hilang dilempar kucing.
Pidato saya agak ngaco terus,
Tapi setidaknya bukan bikin pusing.
Naik perahu ke seberang kali,
Tiba-tiba jatuh sendok makan.
Kalau ada yang kurang dari isi,
Jangan lapor ke atasan.
Beli semangka di pasar baru,
Langsung disantap di pinggir jalan.
Pidato saya mungkin tak terlalu lucu,
Tapi semoga tetap menghibur kalian.
Burung kenari berkicau pagi,
Suaranya merdu membuat tenang.
Kalau bicara saya melantur tadi,
Namanya juga sambutan panjang.
Main layangan di padang luas,
Benangnya putus kena punggung.
Kalau kata-kata saya agak bebas,
Tolong jangan langsung nyinyir dan nyinggung.
Minum kopi sambil duduk ngelantur,
Tertawa kecil lihat ayam joget.
Kalau pidato saya agak ngelantur,
Maklum otak masih ngantuk banget.
Jalan-jalan ke hutan bambu,
Terpeleset karena terlalu lincah.
Pidato saya cukup sampai di situ,
Jangan ditambah, nanti tambah parah.
Naik motor ke pasar Senin,
Beli pisang satu tandan.
Kalau pidato ini bikin senyum manis,
Berarti saya tak sepenuhnya gagal, kawan.
Pakai batik ke acara resmi,
Tapi lupa pakai sepatu.
Kalau pidato saya terkesan basi,
Anggap saja latihan satu waktu.
Masak mi pakai telur ayam,
Ditambah cabai rasanya mantap.
Kalau omongan saya tadi tak dalam,
Mungkin karena otaknya belum lengkap.
Main gitar di sore hari,
Salah kunci, nadanya sumbang.
Kalau tadi saya agak nyerocos sendiri,
Semoga tak bikin kalian bimbang.
Mancing ikan di sungai tenang,
Tiba-tiba dapet sandal jepit.
Kalau pidato saya tak dikenang,
Setidaknya tak bikin sakit perut.
Makan siang dengan kerupuk udang,
Minumnya es manis dari gelas kaca.
Pidato saya cukup sekian, jangan panjang-panjang,
Biar kalian pulangnya tetap bahagia.
Burung elang di ujung dahan,
Terbang rendah cari sarapan.
Pidato ini penuh candaan,
Tapi isinya semoga bermanfaat, teman.
Beli jaket di toko murah,
Warnanya terang seperti pelangi.
Kalau pidato saya kurang cerah,
Mungkin perlu disetel ulang lagi.
Naik sepeda rodanya tiga,
Lewat gang sempit hampir terjepit.
Pidato saya tak usah lama-lama,
Daripada nanti kalian kabur sedikit-sedikit.
Itulah beberapa pantun penutup pidato lucu sebagai cara mengakhiri pidato yang menghibur, bermakna, dan meninggalkan kesan mendalam. (Yln)
Baca juga: 57 Contoh Pantun Pembuka Pidato yang Menarik Perhatian
