7 Jenis Puisi Rakyat, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi rakyat adalah ekspresi sastra yang muncul yang mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat. Jenis puisi rakyat ini ada banyak, seperti pantun, gurindam, syair, dan masih banyak lagi.
Puisi ini dihasilkan oleh individu biasa atau kelompok masyarakat tertentu, bukan oleh penyair terkenal atau elit sastra. Puisi rakyat mencerminkan suara dan pengalaman rakyat kebanyakan, menciptakan ikatan emosional dan identitas budaya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Jenis Puisi Rakyat
Dikutip dari buku Sastra Indonesia Untuk Siswa Madrasah Aliyah (MA) karya Cikawati (2020: 1), puisi rakyat atau puisi lama terikat oleh ketentuan-ketentuan seperti jumlah suku kata, jumlah baris, jumlah bait, dan rima.
Ciri khas puisi rakyat termasuk penggunaan bahasa yang sederhana dan akrab, penggambaran kehidupan sehari-hari, serta penekanan pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Berikut adalah jenis puisi rakyat yang bisa digunakan sebagai referensi:
1. Syair
Syair adalah salah satu bentuk puisi yang biasanya panjang dan bersajak, terdiri dari bait-bait dengan pola sajak tertentu.
Syair seringkali berisi kisah-kisah naratif atau deskripsi tentang suatu kejadian atau perasaan. Unsur syair dapat ditemukan di berbagai tradisi sastra, terutama dalam puisi Melayu dan Arab, tetapi juga dalam literatur lainnya. Ciri-ciri syair antara lain:
Panjang dan Bersajak: Syair cenderung memiliki struktur yang lebih panjang dibandingkan dengan bentuk puisi pendek seperti pantun. Selain itu, syair memiliki pola sajak tertentu, meskipun pola ini bisa bervariasi tergantung pada tradisi sastra tertentu.
Penggunaan Bahasa Baku atau Tinggi: Syair sering menggunakan bahasa baku atau bahasa tinggi, yang memberikan kesan formal pada karyanya.
Unsur Naratif: Syair umumnya mengandung unsur naratif yang kuat. Cerita atau kisah yang diungkapkan dalam syair dapat berupa legenda, mitos, atau pengalaman pribadi.
Nilai Moral atau Pendidikan: Beberapa syair ditulis dengan tujuan menyampaikan nilai moral, pelajaran hidup, atau nasihat kepada pembaca atau pendengar.
Berirama dan Berima: Syair biasanya memiliki pola irama dan rima tertentu untuk memberikan keindahan dan ritme. Syair biasanya bersajak a-a-a-a.
2. Pantun
Pantun adalah puisi rakyat yang terdiri dari empat baris, yaitu 2 baris sampiran dan 2 baris isi. Ciri khas pantun adalah penggunaan pola sajak a-b-a-b, di mana baris pertama dan ketiga bersajak sama, begitu juga baris kedua dan keempat.
Ciri-ciri pantun:
Tiap bait terdiri dari empat baris atau empat larik.
Tiap baris terdiri atas 8-12 suku kata.
Rima akhir tiap baris adalah a-b-a-b.
Baris pertama dan kedua adalah sampiran. Sementara baris ketiga dan keempat disebut dengan isi.
3. Gurindam
Gurindam beradal dari bahasa Sansekerta yang merupakan puisi Melayu tradisional, dan berasal dari Tamil atau India. Gurindam dapat dilihat sebagai gabungan puisi yang berima dengan akhir yang sama.
Bentuk gurindam sering digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai etika, norma, atau petuah dalam kehidupan sehari-hari. Gurindam biasanya muncul dalam bentuk pasangan baris, di mana gurindam satu dan dua saling melengkapi atau kontras satu sama lain.
Ciri-ciri gurindam:
Terdiri atas dua baris dalam sebait.
Tiap baris memiliki jumlah kata sekitar 10-14 kata.
Tiap baris memiliki rima sama atau bersajak A-A, B-B, C-C, dan seterusnya.
Setiap baris dalam gurindam merupakan satu kesatuan yang utuh.
Baris pertama berisi soal, masalah, atau perjanjian.
Baris kedua berisi jawaban, akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama (isi atau maksud gurindam terdapat pada baris kedua).
Isi gurindam biasanya berupa nasihat, filosofi hidup atau kata-kata mutiara.
4. Seloka
Seloka adalah bentuk puisi tradisional yang umumnya ditemukan dalam sastra Melayu dan Indonesia. Seloka memiliki ciri khas dalam bentuk dan struktur tertentu.
Umumnya ditulis empat baris memakai bentuk pantun/syair, terkadang bisa juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
Ciri-ciri seloka:
Dalam satu baris hanya terdapat dua baris.
Dalam satu baris, suku katanya agak panjang, yakni sekitar 18 suku kata atau kurang.
Setiap isi bait dalam seloka saling berhubungan dengan bait berikutnya.
Menggunakan sajak bebas atau tidak terikat.
Berisi kritikan dan nasihat atau sikap negatif tertentu.
5. Taliban
Pantun taliban merupakan bentuk puisi lama yang memiliki sampiran dan isi. Taliban identik dengan jumlah barisnya yang berjumlah genap dan lebih dari empat baris, misalnya enam baris, delapan baris, 10 baris.
Ciri-ciri taliban:
Dalam satu baris dibagi menjadi dua, yakni untuk sampiran dan isinya.
Dalam satu baris maksimal terdiri dari 12 kata.
Menggunakan sajak a b c - a b c, a b c d - a b c d, dan seterusnya.
Isinya menjelaskan suatu perkara.
Pada sampiran terdapat kalimat pembantu yang berisi perumpamaan untuk menyesuaikan diri.
6. Karmina
Karmina juga sering disebut dengan pantun kilat. Karmina biasanya berisi sindiran dan bersajak a-a.
Meskipun terdiri dari dua baris, karmina dapat membentuk bait yang lebih panjang dengan menggabungkan beberapa pasangan baris.
Karmina sering kali mengandung makna filosofis, sindiran, atau ungkapan perasaan cinta. Meskipun singkat, karmina dapat menyampaikan pesan atau pemikiran dengan padat.
Ciri-ciri karmina:
Karmina terdiri dari dua baris.
Karmina bersajak a-a atau b-b.
Baris pertama disebut sampiran.
Baris kedua disebut isi.
Setiap baris pada karmina terdiri dari 8-12 suku kata atau empat suku kata.
Antara sampiran serta isi tidak ada hubungan dengan yang lainnya.
Terkandung dua hal yang bertentangan, yakni rayuan maupun perintah.
Pada setiap baris harus selalu diakhiri dengan tanda koma, kecuali pada baris keempat yakni selalu diakhiri dengan tanda titik.
7. Mantra
Mantra merupakan puisi rakyat yang erat kaitannya dengan adat dan kepercayaan. Mantra sering dianggap memiliki kekuatan gaib.
Ciri-ciri mantra:
Mempunyai rima a-b-c-a-b-c, a-b-c-d-a-b-c-d, a-b-c-d-e a-b-c-d-e
Bersifat lisan
Diyakini memiliki kekuatan sakti atau magis
Terdapat perulangan
Memiliki majas metafora
Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dengan lawan bicara)
Misterius
Lebih bebas dibandingkan puisi lama lainnya dalam suku kata, baris, dan sajak
Ciri-Ciri dan Contoh Puisi Rakyat
Untuk membedakan puisi rakyat dengan jenis puisi lainnya, berikut ciri-ciri dan contohnya:
1. Ciri-Ciri Puisi Rakyat
Puisi rakyat tidak diketahui nama pengarangnya.
Terikat oleh aturan-aturan, seperti jumlah baris, sajak, jumlah suku kata, dan irama.
Disampaikan dari mulut ke mulut sehingga sering disebut dengan sastra lisan.
Sering menggunakan majas atau gaya bahasa.
2. Contoh Puisi Rakyat
a. Syair
Pergi ke hutan yang sunyi gelap
Menyusuri jalan tanpa akhir
Malam menyapa dengan dinginnya
Bintang-bintang bersinar di langit
Di hutan rimba, suara serangga
Menyatu dalam irama malam
Langkah kaki merdu menyusuri
Jejak yang hilang di bawah rembulan
Oh, hutan yang rahasia berbicara
Dengarlah bisikan angin malam
Misteri malam, terungkaplah
Di syair alam yang abadi
b. Pantun
Ada pepaya ada mentimun (a)
Ada mangga ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Lebih baik membaca sajak (b)
Bulan purnama di langit biru (a)
Cahaya bercahaya, indah sekali (b)
Rindu terasa, hati merindu (a)
Senyummu bagai bintang berseri (b)
c. Gurindam
Kurang pikir kurang siasat (a)
entu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang (b)
Bagai rumah tiada bertiang (b)
Jika suami tidak berhati lurus (c)
Istri pun kelak akan kurus (c)
d. Seloka
Lurus jalan ke Payakumbuh
Kayu jati bertimbal jalan
Dimana hati tak akan rusuh
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan
Kemana untuk diserahkan
e. Taliban
Kalau anak pergi ke pekan (a)
Yu beli belanak pun beli sampiran (b)
Ikan panjang beli dahulu (c)
Kalau anak pergi berjalan (a)
Ibu cari sanak pun cari isi (b)
Induk semang cari dahulu (c)
f. Karmina
Berkasih sayang melambai mata.
Sama-sama dalam cita-cita.
Angin berhembus di tengah ladang.
Mengusik benih yang sedang tumbuh subur.
Pohon kerdil menanti rembulan.
Di malam gelap, diam sepi.
Bunga merah merekah di taman
Menarik hati, elok pesona
g. Mantra
Assalamualaikum putri satulung bersar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
Bismillahirrahmanirrahim
Hantu raya jembalang raya
Datang engkau dari hutan raya
Kembalilah engkau ke hutan raya
Engkau jangan bertemu anak sidang manusia
Jika bertemu anak sidang manusia
Tunduk engkau tujuh kali kepada aku
Umat Muhammad lah yang sebenarnya
Berkat kata lailahaillallah Muhammadarrasulullah
Baca Juga: 4 Ciri-ciri Puisi Rakyat Lengkap dengan Contohnya
Demikian pembahasan mengenai jenis puisi rakyat, ciri-ciri, dan contohnya. Puisi rakyat ini diambil dari kehidupan sehari-hari dengan memberikan pesan tersirat. (Umi)
