Konten dari Pengguna

70 Kata Kerja Bahasa Jawa Halus dan Arti untuk Bertutur Kata dengan Sopan

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata kerja bahasa Jawa halus, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Aaron Burden
zoom-in-whitePerbesar
Kata kerja bahasa Jawa halus, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Aaron Burden

Kata kerja bahasa Jawa halus menjadi hal yang penting untuk dikuasai saat mempelajari bahasa daerah tersebut. Sebab, bahasa Jawa memiliki tingkatan bahasanya sendiri dan terdapat penggunaannya masing-masing agar bisa berbicara dengan sopan.

Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia. Bahasa ini banyak dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa, khususnya oleh etnik Jawa yang tinggal di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta sebagian Jawa Barat dan Banten.

Dalam bahasa Jawa juga dikenal tiga macam tingkatan bahasa, yaitu kromo, ngoko, dan kromo inggil sebagaimana dikutip dari buku Kosakata & Ungkapan Bahasa Jawa Dalam Bahasa Indonesia, Sudaryanto, (2017:4). Kromo adalah bahasa Jawa yang termasuk ragam hormat, sementara ngoko tingkatan bahasa terendah.

Daftar isi

Pembagian Tingkatan Bahasa dalam Bahasa Jawa

Kata kerja bahasa Jawa halus, foto hanya ilustrasi: Pexels/Cliff Booth

Setiap tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa bisa digunakan sesuai lawan bicara. Sehingga tidak bisa sembarangan menggunakan bahasa Jawa, terutama jika lawan bicara adalah orang yang lebih tua. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan lengkap mengenai tingkatan bahasa yang ada di bahasa Jawa.

1. Ngoko

Pertama ada ngoko yang merupakan tingkatan terendah dalam tingkatan bahasa Jawa. Kosa kata yang termasuk ke dalam tingkatan ngoko hanya bisa diterapkan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih muda atau kedudukannya sejajar.

Tingkatan ngoko ini juga bisa digunakan untuk berbicara dengan orang yang sudah dekat dan akrab. Sehingga tingkatan ini tidak bisa sembarangan digunakan, apalagi jika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau dalam kondisi formal.

2. Kromo

Selanjutnya ada tingkatan kromo yang tingkatannya lebih tinggi dibandingkan dengan ngoko. Tingkatan kromo ini termasuk ke dalam bahasa Jawa halus dan biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang secara usia lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya.

Selain itu, tingkatan kromo juga bisa digunakan untuk berbicara dengan teman yang belum terlalu dekat dan akrab. Karena termasuk ke dalam bahasa Jawa halus, maka tingkat kesopanan seseorang bisa dilihat dari penggunaan bahasanya tersebut.

3. Kromo Inggil

Terakhir ada tingkatan kromo inggil yang merupakan tingkatan tertinggi dalam tingkatan bahasa Jawa. Walau termasuk bahasa Jawa halus, namun tingkatan kromo inggil lebih tinggi dibandingkan kromo.

Namun, sama halnya seperti tingkatan kromo, tingkatan kromo inggil juga digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua secara usia maupun yang kedudukannya lebih tinggi. Tingkatan ini juga bisa digunakan pada acara formal.

Sementara untuk perbedaannya dengan tingkatan kromo, hanya terletak pada kosakata yang digunakan serta tingkat kesopanannya. Contohnya jika seorang anak bicara dengan orang tua, lebih baik menggunakan tingkatan kromo inggil.

70 Kata Kerja Bahasa Jawa Halus Lengkap dengan Artinya

Kata kerja bahasa Jawa halus, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Sven Brandsma

Ada banyak kosakata yang termasuk ke dalam bahasa Jawa halus dan bisa digunakan untuk berbicara kepada lawan bicara yang lebih tua atau disesuaikan dengan kondisi. Agar tidak salah dalam berbicara, berikut adalah beberapa kata kerja bahasa Jawa halus dan artinya agar bisa bertutur kata dengan baik dan sopan.

  1. Tumbas

    Arti: Membeli

  2. Mundhut

    Arti: Membeli

  3. Mundhut

    Arti: Meminta

  4. Mireng

    Arti: Mendengar

  5. Ngadamel

    Arti: Membuat

  6. Ngunjuk

    Arti: Minum

  7. Dahar

    Arti: Makan

  8. Mlampah

    Arti: Berjalan

  9. Ngendika

    Arti: Berbicara

  10. Mrisani

    Arti: Melihat

  11. Ngertos

    Arti: Mengerti

  12. Lenggah

    Arti: Duduk

  13. Ngawis

    Arti: Menawar

  14. Ngaras

    Arti: Mencium

  15. Ngaken

    Arti: Mengaku

  16. Maringake

    Arti: Meletakkan

  17. Jumeneng

    Arti: Berdiri

  18. Mebengi

    Arti: Menghalangi

  19. Ngawontenaken

    Arti: Mengadakan

  20. Mastani

    Arti: Menyebut

  21. Ngawaon

    Arti: Mengalah

  22. Nggantos

    Arti: Mengganti

  23. Ngreksa

    Arti: Menjaga

  24. Ngaos

    Arti: Mengaji/membaca

  25. Ngasta

    Arti: Memegang

  26. Ngampil

    Arti: Meminjam

  27. Ngabdi

    Arti: Mengabdi

  28. Mungu

    Arti: Membangunkan

  29. Nyakiti

    Arti: Menyakiti

  30. Ngaosi

    Arti: Menghargai

  31. Sare

    Arti: Tidur

  32. Tindak

    Arti: Pergi

  33. Rawuh

    Arti: Datang

  34. Ngendikan

    Arti: Berbicara

  35. Wicanten

    Arti: Berbicara

  36. Dhawuh

    Arti: Bilang

  37. Tresna

    Arti: Cinta

  38. Ngaken

    Arti: Mengaku

  39. Agem

    Arti: Memakai

  40. Penggalih

    Arti: Berpikir

  41. Potong

    Arti: Memotong

  42. Kendhel

    Arti: Berhenti

  43. Ambah

    Arti: Mendatangi

  44. Ambal

    Arti: Ulang

  45. Ngatur

    Arti: Mengundang

  46. Wijik

    Arti: Mencuci tangan

  47. Lutah

    Arti: Muntah

  48. Wungu

    Arti: Bangun

  49. Ndangu

    Arti: Bertanya

  50. Nyambut

    Arti: Bekerja

  51. Ngintun

    Arti: Mengirim

  52. Ndukani

    Arti: Memarahi

  53. Nitih

    Arti: Naik (kendaraan)

  54. Nenem

    Arti: Menanam

  55. Muwun

    Arti: Menangis

  56. Kundur

    Arti: Pulang

  57. Mandhap

    Arti: Turun

  58. Mbabarno

    Arti: Melahirkan

  59. Langkung

    Arti: Lewat

  60. Dhawuh

    Arti: Menyuruh

  61. Maos

    Arti: Membaca

  62. Nggada

    Arti: Membau

  63. Bobotan

    Arti: Buang air besar

  64. Kalimengan

    Arti: Lupa

  65. Kramas

    Arti: Keramas

  66. Gujeng

    Arti: Tertawa

  67. Nyare

    Arti: Menginap

  68. Nderekake

    Arti: Mengiringi

  69. Mbarengi

    Arti: Menemani

  70. Beksa

    Arti: Menari

Selain kata kerja, bahasa Jawa halus juga terdapat pada kata tanya dan beberapa kosakata lainnya. Adapun beberapa contoh kosakata lainnya dalam bahasa Jawa halus yang perlu diketahui adalah sebagai berikut:

  1. Menopo

    Arti: Apa

  2. Sinten

    Arti: Siapa

  3. Kapan

    Arti: Kapan

  4. Kadhosmenopo

    Arti: Mengapa

  5. Wonten pundhi

    Arti: Di mana

  6. Kandhospundhi

    Arti: Bagaimana

  7. Pinten

    Arti: Berapa

  8. Ingkangpundhi

    Arti: Yang mana

  9. Nginggil

    Arti: Atas

  10. Ngandhap

    Arti: Bawah

  11. Ngajeng

    Arti: Depan

  12. Mburi

    Arti: Belakang

  13. Tengen

    Arti: Kanan

  14. Kiwo

    Arti: Kiri

  15. Tebih

    Arti: Jauh

  16. Cerak

    Arti: Dekat

  17. Ageng

    Arti: Besar

  18. Alit

    Arti: Kecil

  19. Kathah

    Arti: Banyak

  20. Sakedhik

    Arti: Sedikit

Contoh Kalimat dengan Kata Kerja Bahasa Jawa Halus

Kata kerja bahasa Jawa halus, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Mourizal Zativa

Supaya lebih mudah dalam berbicara menggunakan bahasa Jawa halus, maka contoh kalimat menggunakan kata kerja bahasa Jawa halus juga penting untuk diketahui. Berikut beberapa contoh kalimat menggunakan bahasa Jawa halus beserta artinya untuk dipelajari:

  1. Paklik kundur wonten Yogyakarta.

    Arti: Paman pulang ke Yogyakarta.

  2. Winginane simbah tindak mrene.

    Arti: Kemarin nenek datang ke sini.

  3. Meja niki didamel saking kajeng jati.

    Arti: Meja ini dibuat dari kayu jati.

  4. Bapak maos koran kalian ngunjuk wedang ronde.

    Arti: Bapak membaca koran sekaligus minum wedang ronde.

  5. Eyang kakung lenggah wonten ing kursi goyang.

    Arti: Kakek sedang duduk di kursi goyang.

  6. Bapak tindak dhateng Bandung dinten Sabtu.

    Arti: Bapak pergi ke Bandung di hari Sabtu.

  7. Ibu mundhut sepatu ing pasar.

    Arti: Ibu membeli sepatu di pasar.

  8. Sumiyati lenggah ing ngarep omah.

    Arti: Sumiyati duduk di depan rumah.

  9. Buku kulo dipun asto bu guru.

    Arti: Buku saya ditandatangani oleh bu guru.

  10. Bapak karo Ibu isih durung kundur saka daleme Pak Putro.

    Arti: Ayah dan ibu masih belum pulang dari rumah Pak Putro.

  11. Saikis wis jam loro kok pajenengan isih dereng dhahar bu?

    Arti: Sekarang sudah jam 2, kok ibu masih belum makan?

  12. Ibu remen ngunjuk wedang jahe, yen aku luwih seneng ngombe kopi susu.

    Arti: Ibu suka minum jahe, sedangkan aku lebih suka minum kopi susu.

  13. Bukune mau wis diwaos apa durung pak?

    Arti: Bukunya tadi sudah dibaca apa belum pak?

  14. Panjenengan kersa sare kene bu?

    Arti: Apakah ibu mau tidur di sini?

  15. Mbah kakung lagi sare ing kamar.

    Arti: Kakek sedang tidur di kamar.

  16. Ibu badhe tindhak menyang Jakarta nitih sepur dinten Senin mbenjang.

    Arti: Ibu akan pergi ke Jakarta naik kereta api hari Senin besok.

  17. Bapak maos majalah ing kamar ngarep.

    Arti: Bapak membaca majalah di kamar depan.

  18. Putri lagi nanem kembang matahari ing latar mburi.

    Arti: Putri sedang menanam bunga matahari di kebun belakang.

  19. Kulo arep ngirim surat teng kantor pos.

    Arti: Saya mau mengirim surat ke kantor pos.

  20. Nilam dhahar sego goreng iwak endog.

    Arti: Nilam makan nasi goreng lauk telur.

  21. Ibu mundhut sayuran dhateng peken wau enjing.

    Arti: Ibu beli sayur mayur di pasar tadi pagi.

  22. Pakdhe dugi mbetha oleh-oleh ingkan kathah.

    Arti: Pakde datang membawa oleh-oleh yang banyak.

  23. Aku ngrewangi ibu masak rendang ing pawon.

    Arti: Aku membantu ibu memasak rendang di dapur.

  24. Ibu mundhut buah-buahan wau enjing.

    Arti: Ibu membeli buah-buahan tadi pagi.

  25. Bapak maos koran ing arep omah.

    Arti: Bapak membaca koran di depan rumah.

Baca juga: Bahasa Jawa Halus: Aturan Penggunaan dan Contoh Kalimatnya

Setelah mengetahui apa saja kata kerja bahasa Jawa halus tersebut, kini berbicara dalam bahasa Jawa akan lebih mudah dan bisa menyesuaikan bahasa yang digunakan dengan lawan bicara. Pastikan untuk menggunakan bahasa Jawa halus saat berbicara dengan orang tua sebagai bentuk kesopanan. (PRI)