Konten dari Pengguna

8 Rangkaian Pernikahan Adat Bali dan Pakaian Khasnya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi rangkaian pernikahan adat Bali. Foto: unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rangkaian pernikahan adat Bali. Foto: unsplash

Daftar isi

Setiap daerah di Bali memiliki rangkaian pernikahan adat yang berbeda-beda. Mengutip artikel ilmiah Prosesi Perkawinan Adat Bali di Desa Duda Timur oleh I Gede Pawana, dalam Jurnal Pangkaja, perbedaan tersebut mengacu pada rangkaian acara serta aturan-aturan khusus yang diberlakukan kepada kedua mempelai.

Namun, secara umum rangkaian upacara pernikahan di Bali hampir sama satu sama lain. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang bagaimana rangkaian pernikahan adat Bali, simak pemaparannya di artikel ini.

Rangkaian Pernikahan Adat Bali

Ilustrasi rangkaian pernikahan adat Bali. Foto: unsplash

Indonesia menyimpan banyak kebudayaan, tak terkecuali upacara pernikahan yang berbeda-beda sesuai dengan adatnya masing-masing, termasuk di Bali. Pernikahan adat Bali disebut dengan pawiwahan.

Menurut buku berjudul Upakara dan Upacara Perkawinan bagi Umat Hindu di Bali oleh Ida Pedanda Istri gede Sindu, dkk., pada 2021, pawiwahan merupakan korban suci yang bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan mempelai dari berbagai pengaruh buruk.

Pawiwahan juga sebagai permohonan anugrah kepada Sanghyang Windhu dan Bhatara Leluhur supaya pengantin dapat memulai kehidupan di jalan yang benar.

Mempelai diharapkan dapat bebas dari sara papa dan wighna dengan harapan dapat menjalani kehidupan baru dengan suasana tenang, sehati lahir batin, rukun, damai, dinamis, dan berbahagia.

Mengutip laman binus.ac.id, budaya pernikahan di Bali hadir dengan banyak proses. Berikut ini rangkaian pernikahan adat Bali:

1. Menentukan Hari Baik

Sebelum hari pernikahan di Bali dilaksanakan, kedua mempelai harus menentukan hari baik pelaksanaan pernikahan sesuai dengan Kalender Hindu. Cara memilih hari baik ini, yakni pihak laki-laki datang kepada pihak perempuan, kemudian kedua belah pihak menentukan hari baik kelangsungan pernikahan.

Masyarakat Bali mempercayai bahwa pemilihan Hari Baik memengaruhi kehidupan pernikahan dan kelancaran acara pernikahan nantinya.

2. Upacara Ngekab

Upacara Ngekab adalah simbolisasi di mana mempelai wanita akan seutuhnya melepas masa lajangnya dan resmi menjadi milik suaminya. Upacara Ngekab juga ditujukan untuk memohon restu kepada Tuhan agar pernikahan berjalan lancar serta nantinya diberikan keturunan yang baik.

3. Penjemputan Mempelai Perempuan

Kemudian dilanjutkan pihak mempelai laki-laki yang menjemput pihak mempelai perempuan di kediaman keluarganya. Saat tradisi ini dilaksanakan, pihak perempuan telah mengenakan pakaian adat Bali, yakni kain kuning tipis dari ujung kepala sampai kaki.

Pakaian tersebut memiliki makna khusus, yaitu pihak perempuan telah memutuskan untuk melepaskan masa lajangnya dan siap memulai kehidupan baru bersama suami.

4. Upacara Mungkah Lawang

Upacara selanjutnya adalah upacara Mungkah Lawang yang artinya membuka pintu. Upacara ini memiliki makna bahwa mempelai laki-laki siap untuk menjemput mempelai perempuan menuju tempat pernikahan.

Upacara Mungkah Lawang dilakukan dengan cara mempelai laki-laki menjemput mempelai perempuan di depan kamarnya. Saat sudah berada di depan pintu kamar mempelai perempuan, pihak laki-laki mengetuk pintu kamar sebanyak tiga kali diiringi musik khas Bali.

5. Upacara Mesegehagung

Upacara mesegehagung bertujuan untuk menyambut mempelai perempuan dari keluarga mempelai laki-laki. Dalam upacara ini, mempelai perempuan masuk ke dalam sebuah kamar dan kemudian disusul mempelai laki-laki bersama ibunya.

Sang ibu dari mempelai laki-laki menyuruh pengantin perempuan untuk melepas kain kuning miliknya. Kain kuning tersebut akan ditukar dengan uang.

6. Upacara Madengen-dengen

Upacara Madengen-dengen dilaksanakan dengan tujuan untuk membersihkan atau menyucikan kedua mempelai supaya dijauhkan dari hal-hal negatif.

Upacara ini umumnya dipimpin Pendeta atau pemangku adat, sesuai dengan adat di masing-masing daerah. Upacara Madengen-dengen disertai dengan sejumlah prosesi adat lainnya, yaitu:

  • Kedua mempelai berputar sebanyak tiga kali mengelilingi sanggar pesaksi, kemulan, dan penegteg. Mempelai perempuan membawa bakul perdagangan dan mempelai laki-laki memikul tegen-tegenan. Kemudian, keduanya harus menyentuh kaki pada Kala Sepetan.

  • Mempelai laki-laki membeli bakul yang dibawa mempelai perempuan. Ritual ini bermakna agar rumah tangga mereka nantinya saling melengkapi hingga mencapai tujuan bersama.

  • Menusuk tikeh dadakan, yakni anyaman tikar yang terbuat dari daun pandan. Menurut kepercayaan Hindu, ritual ini melambangkan kekuatan Sang Hyang Prakerti, sedangkan keris yang digunakan untuk menusuk adalah simbol kekuatan Sang Hyang Purusa.

  • Kedua mempelai menanamkan kunyit, talas, dan andong di belakang merajan atau tempat sembahyang keluarga. Ritual bertujuan untuk melanggengkan keturunan keluarga. Kemudian, kedua mempelai memutuskan benang pada cabang dadap yang diartikan bahwa kedua mempelai siap menanggalkan masa remaja.

7. Upacara Mewidhi Widhana

Upacara Mewidhi Widhana adalah salah satu proses pernikahan Bali yang sangat penting. Upacara ini adalah proses penyempurnaan dari upacara penyucian yang telah dilakukan.

Selama upacara berlangsung, suasana menjadi sangat syahdu. Upacara ini dilaksanakan di pura dan dipimpin pemangku sanggah dan diantar pinisepuh. Sementara itu, kedua mempelai berdoa kepada leluhur untuk melanjutkan keturunannya.

Tujuan digelar Mewidhi Widhana adalah untuk meminta kepada Tuhan agar pernikahan kedua mempelai diberkati dan direstui. Para mempelai akan mengenakan pakaian kebesaran selama prosesi upacara Mewidhi Widhana berlangsung.

8. Upacara Mejauman Ngabe atau Tipat Bantal

Terakhir, upacara Mejauman Ngabe atau Tipat Bantal, yakni mempelai laki-laki akan mengantarkan mempelai perempuan kembali ke tempat keluarganya. Nantinya, kedua mempelai memohon restu kepada orang tua pihak perempuan untuk memulai kehidupan baru dalam berumah tangga.

Baca Juga: Susunan Acara Pernikahan Adat Jawa Yogyakarta dan Maknanya

Pakaian Khas Pernikahan Adat Bali

Ilustrasi pernikahan adat Bali. Foto: Kadek Bonit Permadi/Unsplash

Dalam buku berjudul Ensiklopedia Seni Dan Budaya 3: Pakaian Nusantara yang ditulis oleh R. Toto Sugiarto pada 2016, disebutkan bahwa dalam pernikahan adat Bali, mempelai mengenakan baju adat Bali, disebut Payas Agung.

Payas Agung merupakan baju adat lengkap dan mewah yang memiliki makna indah bagi yang mengenakannya, yaitu pengantin Bali. Saat melangsungkan pernikahan, Payas Agung yang dikenakan berwarna cerah dan menawan, melambangkan kebahagiaan dan kegembiraan untuk kedua calon pengantin.

(NSF)