9 Tradisi Idul Adha di Indonesia dari Berbagai Suku

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tak hanya identik dengan menyembelih hewan kurban, hari raya Idul Adha di Indonesia juga dipenuhi dengan berbagai tradisi unik. Tradisi Idul Adha di Indonesia sebagian besar dipengaruhi oleh kebiasaan suku dan budaya masyarakat yang beragam.
Setiap tradisi tersebut memiliki makna dan keunikan sendiri. Banyaknya budaya di Indonesia memengaruhi tradisi Idul Adha di Indonesia yang berbeda-beda di setiap wilayah.
Misalnya, suku Jawa yang alkulturasi budaya Jawa dengan ajaran Islam sehingga tercipta berbagai tradisi baru. Agar lebih mengenal tradisi Idul Adha di Indonesia, simaklah artikel ini sampai habis.
Tradisi Idul Adha di Indonesia
Sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki beragam tradisi dalam menyambut dan merayakan hari besar keagamaan, termasuk hari raya Idul Adha.
Ada berbagai tradisi Idul Adha di Indonesia yang sudah diwariskan oleh para leluhur. Berikut tradisi idul Adha di Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda.
1. Meugang di Aceh
Menurut laman portal resmi Provinsi Aceh, meugang atau makmeugang merupakan tradisi yang sudah ada sejak masa kerajaan Aceh. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan syukur atas kemakmuran Aceh dalam menyambut hari-hari besar umat Islam.
Tradisi ini diawali dengan pemotongan sapi, kerbau, kambing, dan ayam serta itik. Kebiasaan ini dilakukan ketika menyambut hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.
Nilai religius yang terkandung dalam tradisi tersebut adalah bersedekah atau saling berbagi bersama masyarakat yang memiliki kemampuan lebih kepada masyarakat kurang mampu. Tradisi ini juga memupuk nilai kebersamaan dan gotong royong setiap warga Aceh.
2. Apitan di Semarang
Tradisi apitan hampir sama seperti sedekah bumi, bancakan, dan nyadran yang dilakukan oleh suku Jawa di berbagai daerah, seperti Grobokan dan Semarang.
Menyadur Majalah Aula Ed Juni 2023, apitan berasal dari nama bulan apit dalam kalender Jawa, yakni bulan yang jatuh setelah Syawal dan Zulhijah.
Menyadur laman resmi Wonderful Indonesia, tradisi Apitan di Semarang diisi dengan pembacaan doa yang dilanjut dengan arak-arakan hasil tani dan ternak yang akan diambil berebutan oleh masyarakat setempat.
Tradisi ini dipercaya menjadi kebiasaan Wali Songo sebagai bentuk ungkapan syukur di perayaan Idul Adha. Tak hanya gunungan berupa hasil tani atau arak-arakan ternak, tradisi ini juga disuguhkan dengan berbagai hiburan khas kearifan lokal.
3. Manten Sapi di Pasuruan
Masyarakat Pasuruan memiliki tradisi unik dalam menyambut hari raya Idul Adha, yakni tradisi Manten Sapi. Tradisi ini dilakukan satu hari sebelum hari raya Idul Adha. Pada tradisi ini, puluhan ekor sapi dan kambing yang akan dikurbankan dimandikan terlebih dahulu.
Setelah itu dihias menggunakan kembang tujuh rupa. Bagian kepala sapi dililit serban, bagian punggung dibalut kain kafan dan sajadah, serta diberi pewangi layaknya manten atau pengantin.
Hewan kurban tersebut akan diarak dan dipamerkan ke masyarakat dan sebagai bentuk penghormatan kepada binatang yang dikurbankan.
4. Grebeg Gunungan di Yogyakarta
Grebeg gunungan di Yogyakarta merupakan tradisi yang digelar Keraton Yogyakarta. Sebutan grebeg berasal dari kata gumrebeg yang artinya mengacu pada keramaian.
Dalam pelaksaannya, masyarakat akan mengarak gubungan berupa makanan dan berbagai hasil bumi dari halaman keraton sampai Masjid Gede Kauman.
Nantinya, gunungan itu dibagikan kepada masyarakat yang turut menyaksikan acara tersebut. Uniknya, dalam tradisi grebeg ini ada kepercayaan bahwa jika berhasil mengambil hasil bumi yang diarak, maka bisa mendatangkan rezeki.
Selain grebeg gunungan pada bulan Zulhijah, Yogyakarta juga menggelar tradisi grebeg Syawal pada Idul Fitri dan grebeg Maulud pada Maulid Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: 12 Keutamaan Berkurban di Hari Raya Idul Adha yang Harus Diketahui
5. Kurban Kerbau di Kudus
Di daerah Kudus, Jawa Tengah, ada larangan untuk menjadikan sapi sebagai hewan yang dikurbankan. Kepercayaan trsebut tidak terlepas dari sejarah penyebaran agama Islam di Kudus pada abad ke-16.
Sunan Kudus mencoba menarik simpati masyarakat dengan cara melarang pengikutnya menyembelih sapi. Pada saat itu, sapi merupakan hewan yang disucikan oleh umat Hindu.
Sampai saat ini, tradisi larangan menyembelih sapi saat Idul Adha masih berlanjut. Sebagai gantinya, masyarakat muslim Kudus menyembelih Kerbau dan dijadikan sebagai kuliner khas kota tersebut.
6. Gamelan Sekaten di Cirebon
Tradisi ini merupakan cara dakwah dari Sunan Gunung Jati. Gamalean Sekaten selalu digelar saat hari besar agama Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Alunan gamelannya berasal dari area Keraton Kesepuhan Cirebon.
Selain penabuhan gamelan yang berusia lebih dari 600 tahun, acara ini juga dimeriahkan dengan penyucian gamelan, mengingat gamelan tersebut tidak bisa dikeluarkan sembarangan karena nilai kesakrahan yang amat tinggi.
7. Kaul Negeri dan Abda’u di Maluku Tengah
Kaul Negeri dan Abda’u merupakan penyembilan kambing, yang terdiri atas kambing inti dan dua kambing pendamping. Tradisi ini sudah berjalan ratusan tahun sejak 1600 Masehi dan diselenggarakan secara terus menerus.
Tujuannya untuk menolak bala serta meminta perlindungan kepada Tuhan. Ketiga kambing itu akan digendong oleh pemuka adat dan agama untuk diarak keliling menuju Masjid Ngeri Tulehi. Arak-arakan ini diiringi dengan sholawat dan takbir.
8. Toron dan Nyalase di Madura
Masyarakat Madura juga memiliki tradisi unik di hari raya Idul Adha. Toron merupakan tradisi mudik pada hari raya Idul Adha. Saat toron ke Madura, warga setempat akan melakukan nyalase.
Dalam bahasa Madura, nyalase artinya nyekar atau ziarah ke makam untuk mendoakan para leluhur. Tradisi ini menjadi cukup istimewa karena menunjukkan sifat warga Madura yang mempunyai ikatan kuat dengan kampung halaman, sebagai tempat mereka dilahirkan.
9. Accera Kalompoang di Gowa
Accera Kalompoang merupakan tradisi pencucian benda-benda pusaka Kerajaan Gowa. Tradisi ini melibatkan keluarga Kerajaan dan pemerintah kabupaten Gowa. Accera Kalompoang dilaksanakan setiap 10 Dzulhijah setelah selesai salat Idul Adha.
Selanjutnya, Raja Gowa akan melakukan penyembelihan hewan yang sesuai dengan syariat Islam. Tradisi ini tercantum sebagai warisan tak benda yang mendapat sertifikat resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 10 Oktober 2018.
(IPT)
