Konten dari Pengguna

Affordance dalam Konteks Digital, Pengertian dan Contoh Penerapannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi affordance dalam konteks digital. Foto: Unsplash.com/Christina @ wocintechchat.com M
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi affordance dalam konteks digital. Foto: Unsplash.com/Christina @ wocintechchat.com M

Pada penggunaan teknologi modern, yang dimaksud dengan affordance dalam konteks digital adalah berkaitan erat dengan cara seseorang mengenali fungsi antarmuka secara alami.

Setiap elemen visual pada sistem digital dirancang agar tindakan tertentu dapat dikenali tanpa memerlukan penjelasan panjang atau petunjuk berulang.

Konsep tersebut berperan penting dalam membentuk pengalaman penggunaan yang terasa intuitif, konsisten, serta mendukung interaksi berlangsung lebih lancar dari awal hingga akhir.

Yang Dimaksud dengan Affordance dalam Konteks Digital adalah Kemampuan Antarmuka

Ilustrasi affordance dalam konteks digital. Foto: Unsplash.com/Swello

Yang dimaksud dengan affordance dalam konteks digital adalah kemampuan suatu elemen pada antarmuka digital untuk memperlihatkan tindakan yang dapat dilakukan melalui petunjuk visual, susunan desain, simbol, maupun kebiasaan penggunaan yang telah dikenal.

Dikutip dari medium.com, konsep ini berfokus pada hubungan antara tampilan suatu komponen digital dan tindakan yang diperkirakan dapat dilakukan oleh pengguna, seperti menekan tombol, memilih menu, menggeser layar, atau membuka halaman lain.

Pada benda di dunia nyata, affordance muncul dari karakteristik fisiknya. Suatu gagang pintu memperlihatkan bahwa pintu dapat ditarik karena bentuknya mendukung gerakan tersebut.

Kursi menunjukkan fungsi untuk diduduki melalui ukuran, bentuk, dan konstruksinya. Ciri fisik seperti itulah yang membantu seseorang memahami fungsi sebuah benda tanpa memerlukan penjelasan tambahan.

Lingkungan digital tidak memiliki sifat fisik yang sama. Ikon, tombol, menu, dan berbagai komponen antarmuka hanya berupa tampilan grafis.

Affordance dalam dunia digital dibangun melalui desain yang mampu memberi isyarat mengenai tindakan yang tersedia.

Bentuk tombol yang menonjol, warna berbeda, efek bayangan, maupun perubahan kursor saat diarahkan ke suatu objek merupakan contoh petunjuk visual yang membantu mengenali fungsi sebuah elemen.

Desain antarmuka yang baik membuat seseorang dapat memperkirakan hasil dari suatu tindakan sebelum benar-benar melakukannya.

Ketika suatu tombol memiliki tulisan "Simpan", misalnya, tampilan tombol tersebut sekaligus memberi petunjuk bahwa data akan disimpan setelah dipilih.

Hubungan antara tampilan dan hasil tindakan inilah yang menjadi inti dari affordance dalam sistem digital.

Pakar desain interaksi Don Norman menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara affordance pada benda fisik dan affordance pada lingkungan digital. Pada benda nyata, fungsi suatu objek dapat dikenali melalui bentuk serta karakteristiknya.

Sebaliknya, pada antarmuka digital, pengenalan fungsi lebih banyak bergantung pada persepsi yang dibangun melalui kebiasaan desain yang telah digunakan secara luas.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa ikon bergambar rumah hampir selalu dipahami sebagai tombol menuju halaman utama. Ikon roda gigi identik dengan pengaturan, sedangkan kaca pembesar diasosiasikan dengan pencarian.

Hubungan antara simbol dan fungsi terbentuk karena pola desain yang digunakan secara konsisten pada berbagai perangkat maupun aplikasi.

Pengalaman sebelumnya juga memengaruhi kemampuan mengenali affordance.

Seseorang yang telah terbiasa menggunakan berbagai aplikasi biasanya lebih cepat memahami fungsi ikon atau menu baru karena terdapat kemiripan dengan desain yang pernah ditemui.

Sebaliknya, antarmuka yang berbeda jauh dari kebiasaan umum memerlukan waktu adaptasi lebih lama karena pengguna harus mencoba setiap fitur untuk mengetahui fungsinya.

Dalam desain antarmuka, konsistensi memiliki peran penting. Tata letak menu yang tetap, penggunaan ikon yang sama, serta bentuk tombol yang seragam membantu membangun kebiasaan selama menggunakan sistem.

Konsistensi tersebut membuat proses berpindah dari satu halaman ke halaman lain terasa lebih mudah karena pola interaksi tetap sama.

Affordance juga berkaitan dengan kualitas petunjuk visual yang diberikan. Elemen yang mudah dikenali disebut memiliki affordance yang jelas karena pengguna langsung memahami tindakan yang tersedia.

Sebaliknya, fitur yang tidak menampilkan petunjuk memadai membuat pengguna harus mencoba secara acak sebelum menemukan fungsi sebenarnya.

Terdapat pula kondisi ketika suatu elemen tampak dapat digunakan, tetapi ternyata tidak menjalankan fungsi apa pun. Situasi seperti ini dikenal sebagai false affordance.

Contohnya berupa gambar yang menyerupai tombol, tetapi tidak memberikan respons saat dipilih. Desain semacam itu dapat menimbulkan kebingungan karena tampilan dan fungsi yang sesungguhnya tidak selaras.

Sebaliknya, hidden affordance terjadi ketika suatu fungsi memang tersedia, tetapi petunjuk visualnya sangat minim.

Contohnya adalah menu yang baru muncul setelah layar digeser ke arah tertentu tanpa adanya tanda bahwa tindakan tersebut dapat dilakukan. Pengguna baru berpeluang melewatkan fitur tersebut karena tidak memperoleh isyarat yang cukup.

Selain tampilan visual, teks singkat juga membantu memperjelas affordance. Label seperti "Unduh", "Kirim", "Masuk", atau "Lanjutkan" memberi penjelasan mengenai hasil yang akan diperoleh setelah tombol dipilih.

Kombinasi antara bentuk tombol dan keterangan yang jelas membuat kemungkinan kesalahan menjadi lebih kecil.

Faktor lain yang turut mendukung affordance ialah umpan balik atau feedback. Setiap tindakan idealnya diikuti perubahan yang langsung terlihat.

Tombol dapat berubah warna setelah ditekan, halaman menampilkan animasi pemuatan, atau muncul tanda centang ketika proses selesai.

Respons semacam itu memberi kepastian bahwa sistem telah menerima perintah sehingga pengguna tidak perlu mengulang tindakan yang sama.

Kemudahan menemukan fitur juga tidak kalah penting. Tombol yang terlihat jelas belum tentu mudah ditemukan apabila diletakkan pada lokasi yang tidak lazim.

Penempatan menu yang logis membantu pengguna mengenali fungsi lebih cepat tanpa harus menelusuri seluruh tampilan aplikasi.

Affordance yang dirancang dengan baik menghasilkan pengalaman penggunaan yang lebih efisien karena setiap tindakan dapat diprediksi sejak awal.

Hubungan antara tampilan, fungsi, dan hasil interaksi terasa selaras sehingga proses menggunakan aplikasi berlangsung lebih lancar tanpa menimbulkan kebingungan.

Yang dimaksud affordance dalam konteks digital dapat dipahami sebagai konsep desain yang membantu setiap elemen antarmuka memperlihatkan fungsi melalui petunjuk yang mudah dikenali.

Penerapan konsep tersebut mendukung terciptanya sistem digital yang intuitif, konsisten, mudah dipelajari, sekaligus mampu mengurangi kesalahan saat proses interaksi berlangsung. (Shofia)

Baca Juga: Digitalisasi Pembelajaran Mempercepat Penguatan Literasi, Numerasi, dan Sains