Konten dari Pengguna

Apa Itu Consent? Ini Pengertian dan Peran Pentingnya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Apa itu consent. Foto: Unsplash.com/Glenn Carstens-Peters
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apa itu consent. Foto: Unsplash.com/Glenn Carstens-Peters

Istilah apa itu consent semakin sering dibicarakan dalam kehidupan sosial modern karena berkaitan dengan batasan pribadi, relasi sehat, serta penghormatan tubuh setiap individu.

Konsep ini tidak hanya relevan dalam hubungan romantis, tetapi juga mencakup interaksi sehari-hari yang membutuhkan persetujuan jelas tanpa tekanan atau paksaan.

Pemahaman yang tepat membantu mencegah pelanggaran, menjaga martabat, serta memastikan setiap keputusan terkait tubuh dan batas diri dibuat secara sadar dan sukarela.

Ilustrasi Apa itu consent. Foto: Unsplash.com/Etienne Boulanger

Apa itu consent? Dikutip dari ashasexualhealth.org, persetujuan yang diberikan secara sadar, sukarela, dan tanpa tekanan dari pihak mana pun dalam suatu interaksi atau aktivitas tertentu.

Konsep ini menekankan bahwa setiap individu memiliki kendali penuh atas tubuh serta keputusan pribadi, sehingga tidak boleh ada paksaan dalam bentuk apa pun.

Consent bukan sekadar kata “ya”, melainkan kesepakatan yang lahir dari kondisi bebas tekanan, ancaman, atau manipulasi.

Persetujuan yang sah hanya dapat terjadi ketika semua pihak benar-benar memahami situasi yang sedang berlangsung serta merasa nyaman dengan keputusan tersebut.

Oleh sebab itu, komunikasi menjadi elemen utama dalam memastikan adanya consent yang jelas dan berkelanjutan.

Dalam praktiknya, consent harus diberikan secara sukarela. Segala bentuk tekanan, baik secara emosional, verbal, maupun fisik, dapat membatalkan persetujuan yang diberikan.

Bahkan jika seseorang mengatakan setuju, tetapi berada di bawah tekanan atau ancaman, maka persetujuan tersebut tidak dapat dianggap sah.

Selain itu, consent harus diberikan dalam kondisi sadar. Seseorang yang berada di bawah pengaruh alkohol, obat-obatan, atau dalam keadaan tidak sadar tidak dapat memberikan persetujuan yang valid.

Kondisi ini penting karena kemampuan untuk membuat keputusan rasional menjadi terganggu, sehingga tidak ada dasar yang kuat untuk menyatakan persetujuan.

Consent juga bersifat berkelanjutan. Persetujuan tidak hanya diberikan sekali untuk seterusnya, melainkan harus ada dalam setiap tahap interaksi.

Seseorang dapat menarik kembali persetujuan kapan saja, meskipun sebelumnya telah menyatakan setuju. Ketika persetujuan ditarik, seluruh aktivitas harus dihentikan tanpa pengecualian.

Di samping itu, consent perlu disertai kejelasan dan kesadaran penuh terhadap situasi. Setiap pihak harus memahami apa yang disepakati, termasuk batasan, ekspektasi, serta konsekuensi yang mungkin terjadi.

Misalnya, perbedaan persepsi mengenai suatu aktivitas dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak dibicarakan secara terbuka sejak awal.

Penting juga memahami bahwa consent tidak selalu harus disampaikan secara verbal, tetapi komunikasi terbuka tetap menjadi cara terbaik untuk memastikan tidak ada kebingungan.

Ekspresi nonverbal bisa saja disalahartikan, sehingga percakapan yang jelas lebih dianjurkan untuk menjaga batasan tetap dihormati.

Dalam konteks yang lebih serius, pelanggaran terhadap consent dapat mengarah pada tindakan yang disebut sebagai kekerasan seksual.

Tindakan ini mencakup berbagai bentuk perilaku tanpa persetujuan, seperti sentuhan yang tidak diinginkan hingga pemaksaan aktivitas seksual.

Oleh sebab itu, memahami consent menjadi langkah penting dalam mencegah terjadinya pelanggaran tersebut.

Selain kekerasan seksual, terdapat pula istilah pemaksaan seksual atau sexual coercion. Hal ini terjadi ketika seseorang menggunakan tekanan, manipulasi, atau ancaman untuk memperoleh persetujuan.

Contohnya termasuk memaksa secara terus-menerus setelah penolakan, menggunakan rasa bersalah, atau memberikan tekanan emosional agar pihak lain menyetujui suatu tindakan.

Kesadaran terhadap pentingnya consent membantu menciptakan hubungan yang sehat dan saling menghargai.

Setiap individu memiliki hak penuh atas tubuh dan keputusan pribadi, sehingga batasan yang ditetapkan harus dihormati tanpa pengecualian.

Pemahaman mendalam mengenai apa itu consent menjadi dasar penting dalam menjaga interaksi yang sehat, aman, dan saling menghormati di berbagai situasi kehidupan.

Penerapan prinsip ini secara konsisten membantu mencegah konflik sekaligus melindungi hak setiap individu dalam menentukan batasan pribadi. (Suci)

Baca Juga: Pengertian FOSS dan Manfaatnya untuk Pengguna