Apa Itu Hidrometeorologi? Simak Penjelasannya di Sini

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa itu hidrometeorologi? Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas, terutama ketika mendengar berita tentang banjir, kekeringan, atau cuaca ekstrem.
Hidrometeorologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara fenomena atmosfer, seperti hujan, suhu, angin, dan kelembapan, dengan proses hidrologi seperti aliran sungai, penguapan, hingga penyimpanan air di bumi.
Secara sederhana, ilmu ini membantu kita memahami bagaimana cuaca dan air saling memengaruhi dalam keseharian.
Apa Itu Hidrometeorologi?
Apa itu bencana hidrometeorologi? Berdasarkan penjelasan dari BMKG, istilah ini menggambarkan bencana alam atau proses merusak yang terjadi akibat fenomena di atmosfer, perairan daratan, atau lautan.
Dikutip dari laman bpbd.bulelengkab.go.id, mengungkapkan bahwa perubahan cuaca seperti siklus hidrologi, curah hujan, suhu udara, pola angin, dan kelembapan menjadi faktor pemicu utama.
Jenis bencana hidrometeorologi dapat berupa kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, tanah longsor, angin puting beliung, gelombang dingin, hingga gelombang panas.
Dampaknya sangat luas, mulai dari jatuhnya korban jiwa, gangguan kesehatan, kerusakan lingkungan dan harta benda, hingga terganggunya aktivitas ekonomi serta kehidupan sosial masyarakat.
Potensi bencana hidrometeorologi terlihat beragam. Banjir menjadi salah satu yang paling sering muncul, terutama di wilayah dengan topografi lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya.
Catatan dari BPBD menunjukkan bahwa kejadian banjir biasanya terjadi saat musim hujan di desa-desa dataran rendah, walau dalam beberapa tahun terakhir, banjir juga mulai terjadi di dataran tinggi dengan kontur tanah yang tetap lebih rendah dari area sekelilingnya.
Banjir bandang juga berpotensi muncul di kawasan yang berdekatan dengan sungai, terutama jika bagian hulunya memiliki tingkat kerawanan longsor sedang hingga tinggi.
Risiko tanah longsor lebih banyak ditemukan di bagian selatan wilayah tersebut, terutama di daerah dengan kemiringan lereng bergelombang hingga terjal. Kondisi geografis menjadi faktor yang sangat memengaruhi tingkat kerentanannya.
Selain itu, ancaman gelombang ekstrem dan abrasi juga hadir di seluruh wilayah pesisir. Dampak yang muncul berbeda-beda, tergantung pada karakteristik garis pantai.
Pesisir dengan kondisi tanah datar memiliki kemungkinan mengalami dampak yang lebih besar dibandingkan dengan kawasan yang bertopografi curam.
Fenomena ini umumnya muncul di area yang memiliki lahan terbuka luas dan dataran landai, serta dapat menimbulkan kerusakan yang signifikan dan mengganggu tatanan kehidupan masyarakat. (DANI)
Baca juga: Penyebab Banjir Sumatera dan Dampak yang Ditimbulkannya
