Apa Itu Kepiting Setan atau Devil Crab? Ini Penjelasannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa itu kepiting setan atau Devil Crab menjadi pertanyaan yang mencuat setelah kasus tragis yang melibatkan seorang kreator konten kuliner di Filipina.
Nama yang terdengar unik ini sesungguhnya merujuk pada spesies kepiting beracun yang hidup di kawasan terumbu karang Indo-Pasifik.
Perbincangan mengenai hewan laut ini membuka kesadaran tentang bahaya biota laut beracun yang kerap disalahartikan sebagai bahan pangan biasa.
Apa Itu Kepiting Setan atau Devil Crab
Apa itu kepiting setan atau Devil Crab? Dikutip dari straitstimes.com, istilah tersebut merujuk pada spesies kepiting karang bernama ilmiah Zosimus aeneus yang dikenal luas di Filipina sebagai “devil crab”.
Kepiting ini hidup di lingkungan terumbu karang dan wilayah mangrove di kawasan Indo-Pasifik. Ciri fisiknya mencolok, dengan cangkang bermotif tutul berwarna merah, cokelat, dan kadang kekuningan yang tampak kontras.
Warna tersebut sering dianggap eksotis, padahal justru menjadi penanda alami akan kandungan racun di dalam tubuhnya.
Daging Zosimus aeneus mengandung campuran neurotoksin berbahaya seperti tetrodotoxin dan saxitoxin. Kedua racun ini dikenal juga ditemukan pada beberapa spesies ikan buntal dan organisme laut tertentu.
Racun tidak hilang meski melalui proses pemasakan suhu tinggi. Struktur kimianya stabil terhadap panas, sehingga merebus atau mengolah dengan santan sekalipun tidak membuatnya aman dikonsumsi.
Fakta ini menjadikan kepiting setan termasuk salah satu kepiting paling beracun di wilayah Indo-Pasifik menurut pengamatan para ahli biologi laut.
Kasus kematian seorang kreator kuliner di Puerto Princesa, Palawan, memperlihatkan dampak fatal dari konsumsi kepiting ini.
Diketahui korban kehilangan kesadaran tidak lama setelah menyantap kepiting tersebut dan dinyatakan meninggal dua hari kemudian di rumah sakit.
Seorang kenalan yang ikut mencicipi juga dilaporkan wafat. Peristiwa ini memicu peringatan dari aparat desa setempat agar warga pesisir tidak mengonsumsi kepiting bercorak mencolok tersebut.
Gejala keracunan dapat muncul dalam hitungan menit hingga jam setelah konsumsi. Sensasi awal biasanya berupa kesemutan pada bibir dan ujung jari, diikuti mual, muntah, serta kelemahan otot.
Dalam kondisi berat, racun menyerang sistem saraf pusat dan melumpuhkan otot pernapasan. Gagal napas menjadi penyebab utama kematian pada kasus serius.
Data otoritas kesehatan di Filipina menunjukkan sekitar setengah dari kasus keracunan berat berakhir fatal. Asal racun pada kepiting ini diyakini berasal dari rantai makanan.
Kepiting mengonsumsi alga dan mikroorganisme tertentu yang menghasilkan toksin alami. Racun tersebut kemudian terakumulasi dalam jaringan tubuhnya.
Proses bioakumulasi membuat kadar racun meningkat tanpa mengubah rasa secara signifikan, sehingga sulit dideteksi hanya melalui indera pengecap.
Fenomena ini juga berkaitan dengan tren konten kuliner ekstrem di media sosial. Keinginan menghadirkan pengalaman unik kerap mengabaikan aspek keamanan pangan.
Namun, pengetahuan ilmiah mengenai spesies beracun seharusnya menjadi pertimbangan utama sebelum menjadikan biota liar sebagai konsumsi.
Apa itu kepiting setan atau Devil Crab bukan sekadar istilah sensasional, melainkan peringatan tentang bahaya nyata dari spesies laut beracun.
Pemahaman yang tepat mengenai karakteristik dan risikonya dapat mencegah tragedi serupa terulang di masa mendatang. (Khoirul)
Baca Juga: Apa Itu Seablings? Ini Arti dan Penjelasannya
