Konten dari Pengguna

Apa Itu Mite? Ini Penjelasan Lengkapnya untuk Pelajar

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Apa Itu Mite. Foto Unsplash/Nong
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apa Itu Mite. Foto Unsplash/Nong

Apa itu mite, merupakan salah satu pertanyaan yang sering dicari jawabannya oleh para pelajar. Mite merupakan salah satu materi yang harus dipahami oleh pelajar. Materi tersebut terdapat dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran penting yang harus ada. Pasalnya, mata pelajaran ini mengajarkan tentang kebahasaan yang baik dan benar. Maka tidak heran jika mata pelajaran bahasa Indonesia sudah ada sejak SD atau sekolah dasar.

Daftar isi

Apa Itu Mite?

Ilustrasi Apa Itu Mite. Foto: Unsplash/Dariusz Sankowski

Apa itu mite? Berikut adalah penjelasan selengkapnya untuk para pelajar. Berdasarkan buku dengan judul Nilai Pendidikan: Intertekstualitas dalam Cerita Rakyat Buton, Muhammad Yusnan, (2022:43), mite berasal dari bahasa Yunani, mythos, yang berarti cerita tentang dewa dan manusia dianggap pahlawan yang dipuja-puja.

Mite adalah cerita suci yang mendukung sistem kepercayaan atau agama (religi). Mite merupakan cerita yang berhubungan dengan keyakinan masyarakat di mana mite itu ada.

Selanjutnya, ada pendapat lain yang menjelaskan bahwa mite adalah salah satu jenis cerita rakyat dalam bentuk prosa yang oleh para pewarisnya dipercaya sebagai kejadian yang benar-benar terjadi pada zaman dahulu.

Mite biasanya dijadikan semacam pedoman untuk ajaran suatu kebijaksanaan bagi manusia. Melalui mite, manusia merasa dirinya turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian, dapat pula merasakan dan menanggapi daya kekuatan alam.

Mite muncul karena manusia menyadari ada kekuatan gaib di luar dirinya. Mite juga merupakan media komunikasi manusia dalam beberapa hal tentang kehidupan masyarakat setempat.

Cerita rakyat yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari dapat dan berkembang sesuai dengan kondisi kebiasaan masyarakat pemiliknya.

Cerita rakyat dapat digolongkan ke dalam mite apabila memiliki beberapa ciri pada umumnya. Mite pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam, dan sebagainya.

Mite juga mengisahkan petualangan dewa, kisah percintaan mereka, kisah perang mereka, dan sebagainya".

Mite tidak hanya berasal dari kata yang dapat didengar kebenarannya. Namun, mite juga diciptakan melalui benda-benda, ukiran, gerakan tubuh, dan lainnya. Sejalan dengan pendapat lain yang mengatakan bahwa mite sebagai suatu jenis ujaran.

Ujaran yang dimaksudkan dalam ini adalah suatu yang mengandung pesan. Pesan yang dimaksudkan tersebut adalah perkataan maupun diluar perkataan.

Mite seringkali dimaknai faktual dalam suatu kelompok masyarakat. Rasa keyakinan tersebut menciptakan suatu aturan yang dilakoni dalam kehidupan masyarakat pemiliknya.

Mite biasanya mempengaruhi berbagai aturan yang sering kali dihubungkan dengan realita kehidupan.

Banyaknya mite yang menciptakan kearifan lokal sebagai senjata bagi masyarakat untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Pada akhirnya, masyarakat berkembang sesuai dengan kebijakan yang diciptakan melalui mite tersebut.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mite merupakan suatu cerita yang mempunyai latar belakang sejarah, dipercayai oleh masyarakat sebagai cerita yang benar-benar terjadi, dianggap suci, banyak mengandung hal-hal yang ajaib, dan umumnya ditokohi oleh dewa.

Latar ceritanya terjadinya di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti dikenal sekarang.

Dengan demikian, kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari mite begitu saja, meskipun kebenaran suatu mite belum tentu memberikan jaminan dan dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan buku Sejarah Terlengkap Agama-Agama di Dunia, M. Ali Imron, (2015:32), mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci atau sakral.

Misalnya, cerita tentang tokoh kahyangan atau tokoh supranatural yang memiliki kekuatan hebat. Tokoh mite merupakan dewa atau manusia setengah dewa, dan menyangkut peristiwa yang terjadi di dunia lain pada masa lalu.

Ada beberapa ciri dalam pengertian mite. Pertama, mite terjadi pada zaman permulaan. Kedua, kejadian alam tertentu dianggap sebagai suatu tanda adanya kejadian penting, misalnya kelahiran, kematian, dan lain sebagainya.

Ketiga, mite mengandung kekuasaan. Dengan kata lain, ketika seseorang memberi nama terhadap sebuah daya, maka daya tersebut menjadi penguasa terhadap diri orang yang memberi nama tersebut.

Dengan demikian, sangat jelas bahwa masyarakat primitif sangat mempercayai mite karena merupakan titik temu antara beberapa ajaran pokok dalam masyarakat primitif.

Sedangkan menurut buku yang berjudul Religi Suku Murba di Indonesia, Harun Hadiwijono, (2000:16), mite adalah kejadian-kejadian pada zaman bahari yang mengungkapkan atau memberi arti pada hidup dan kejadian-kejadian pada zaman sekarang, dan yang menentukan nasib pada masa depan. Kejadian-kejadian bahari itu diketahui dari cerita-cerita mistis dan alat pengungkapan yang lain.

Di dalam cerita-cerita mistis itu diungkapkan mengapa sesuatu kejadian harus terjadi demikian. Umpamanya sekarang orang menanam dan menuai padi dengan cara yang tertentu.

Orang tidak berani menyimpang dari cara yang sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin sudah berabad-abad. Cara menanam padi dan menuai harus dilakukan demikian, karena pada zaman bahari para nenek-moyang melakukan demikian juga.

Dalam kenyataannya, sudah barang tentu tidak semua kejadian dapat dijabarkan dari zaman bahari atau dari mite, sebab pengetahuan orang tentang mite jauh dari sempurna.

Banyak upacara dan perbuatan yang terjadi tanpa alasan yang jelas. Sekalipun demikian, upacara-upacara dan perbuatan-perbuatan itu dibenarkan juga oleh adat. Bagi suku murba pada umumnya, mite adalah kebenaran dan kenyataan yang sudah semestinya.

Contoh Cerita Mite

Ilustrasi Apa Itu Mite. Foto: Unsplash/Mikołaj

Inilah contoh cerita mite yang diambil dari buku dengan judul Konsep Dasar Kesusastraan: Paling Mutakhir, Rian Damariswara, M.Pd., (2018:79).

Dewi Sri, Dewi Kesuburan

Dahulu, di sebuah tempat di Jawa tengah, tersebutlah seorang raja bernama Prabu Sri Mahapunggung atau Bathara Srigati yang bertahta di sebuah kerajaan bernama Kerajaan Medang Kamulan. Bathara Srigati adalah putra Sanghyang Wisnu dan Dewi Sri Sekar atau Bathari Sri Widowati yang diutus ke bumi untuk menjaga kelestarian dunia.

Prabu Sri Mahapunggung mempunyai seorang putri bernama Dewi Sri. Ia adalah putri sulung sang Prabu yang diyakini sebagai titisan neneknya, Bathari Sri Widowati. Selain cantik dan rupawan, Dewi Sri adalah seorang putri yang cerdas, baik hati, lemah lembut, sabar, halus tutur katanya, luhur budi bahasanya, dan bijaksana.

Dewi Sri mempunyai tiga adik kandung yaitu Sadana, Wandu, dan Oya. Ia bersama adiknya, Sadana, dikenal sebagai lambang kemakmuran hasil bumi. Dewi Sri sebagai dewi padi, sedangkan Sadana sebagai dewa hasil bumi lainnya seperti umbi-umbian, kentang, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Oleh karena itu, keduanya tidak pernah dipisahkan.

Suatu ketika, Sadana diminta oleh ayah dan ibunya untuk menikahi seorang putri bernama Dewi Panitra, cucu Eyang Pancareshi. Namun, Sadana menolak karena tidak ingin mendahului kakaknya dengan alasan bahwa hal itu kerap menjadi penyebab terjadinya berbagai kesulitan di kemudian hari. Melihat sikap putranya itu, Prabu Sri Mahapunggung berupaya membujuknya.

"Sadana, Putraku. Jika kamu menikah dengan Dewi Panitra, Ayah akan menobatkanmu menjadi Putra Mahkota. Kamulah yang akan menggantikan Ayah menjadi raja negeri ini," bujuk sang Prabu. Sadana hanya terdiam. Hatinya sedang gundah gulana.

"Sudahlah, Putraku. Kamu tidak usah memikirkan kakakmu. Sudah menjadi kewajiban kami untuk menikahkannya jika kelak menemukan jodohnya," ujar sang Prabu. Meskipun berkali-kali dibujuk, Sadana tetap bersikukuh menolak pernikahan tersebut.

"Maafkan Sadana, Ayahanda Prabu. Tidak sepantasnya seorang adik mendahului kakaknya menikah," kata Sadana. Rupanya, perkataan Sadana itu membuat marah ayahandanya. la dianggap sudah berani bersikap lancang karena tidak patuh pada nasehat orang tua. Untung sang Ibu berhasil meredam kemarahan ayah Sadana.

Pada malam harinya, Sadana sulit memejamkan mata. Pikirannya sangat kacau, sedih, dan bingung. Baginya, perjodohan itu bertentangan dengan perinsip hidupnya. Setelah memikirkan segala resikonya, akhirnya malam itu Sadana pergi meninggalkan istana secara diam-diam.

Alangkah murkanya sang Prabu saat mengetahui hal itu. Kemarahannya pun ia lampiaskan kepada Dewi Sri karena dianggap sebagai penyebab minggatnya Sadana. Tuduhan itu membuat sedih hati sang Putri. Karena merasa serba salah hidup di istana, akhirnya ia pun ikut kabur dari istana.

Perginya Dewi Seri dari istana membuat Prabu Sri Mahapunggung semakin murka. Saking marahnya, sang Prabu mengutuk Dewi Sri menjadi ular sawah, sedangkan Sadana dikutuk menjadi burung sriti. Dewi Sri berjalan ke arah timur tanpa tujuan yang pasti, sedangkan Sadana terbang tanpa arah dan tujuan.

Suatu ketika, ular sawah penjelmaan Dewi Sri tiba di Dusun Wasutira. Karena lelah, ular sawah itu kemudian tidur melingkar di lumbung padi milik seorang penduduk bernama Kyai Brikhu. Petani itu memiliki seorang istri bernama Ken Sanggi yang sedang mengandung bayi pertama mereka.

Pada malam harinya, Kyai Brikhu bermimpi mendapat petunjuk bahwa bayi yang dikandung istrinya adalah titisan Dewi Tiksnawati. Kelak setelah lahir, bayi itu akan dijaga oleh seekor ular sawah. Jika ular sawah itu mati, maka bayinya pun akan mati.

"Oh, alangkah bahagianya hidupku jika mimpi itu kelak menjadi kenyataan. Aku pun berjanji akan menjaga dan merawat ular sawah itu," gumam Kyai Brikhu dengan perasaan gembira. Hari itu, persediaan beras Kyai Brikhu untuk dimasak oleh istrinya telah habis. Ketika hendak mengambil padi di lumbungnya, ia dikejutkan oleh seekor ular sawah yang melingkar di atas tumpukan padinya. Petani itu pun langsung teringat pada mimpinya.

"Mungkin ular inilah yang menjaga anakku kelak," gumamnya. Kyai Brikhu pun akhirnya merawat ular sawah itu dengan baik. Ketika istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan, ia kemudian meletakkan ular sawah itu di dekat bayinya yang berada di kamar tengah di rumahnya. Sejak itulah, Kyai Brikhu bersama sang Istri merawat anak mereka bersama ular sawah itu dengan hati-hati. Setiap hari, mereka memberi makan ular itu dengan katak.

Suatu malam, Kyai Brikhu kembali bermimpi. Dalam mimpinya, ular sawah itu menolak diberi makan katak. Ular itu minta diberi sesajen berupa sedah ayu, yakni sirih beserta perlengkapannya, bunga, dan lampu yang harus selalu dinyalakan.

Ketika terbangun, Kyai Brikhu pun langsung menyiapkan sesaji sebagaimana permintaan ular sawah itu. Sementara itu, Dewi Tiksnawati yang menitis pada tubuh anak Kyai Brikhu membuat huru-hara di kediaman para dewa. Hal itu membuat Sang Hyang Jagadnata atau Batara Guru murka.

"Wahai, para dewa! Pergilah ke bumi, beri bencana pada bayi tempat Dewi Tiksnawati menitis!" titah sang Batara Guru.

Para dewa pun segera meluncur ke bumi. Namun, usaha mereka memberi bencana pada bayi itu gagal karena pengaruh tolak bala dari Kyai Brikhu dan ular sawah. Berkali-kali para dewa itu berupaya melakukan hal itu, namun mereka tetap saja gagal. Setelah melakukan penyelidikan, para dewa dan Batara Guru pun mengetahui bahwa kegagalan mereka disebabkan oleh Dewi Sri yang setia melindungi bayi itu.

Atas perintah Batara Guru, para bidadari pun turun ke bumi untuk membujuk Dewi Sri agar mau menjadi bidadari di Kahyangan.

"Wahai, Dewi Sri! Kami diutus oleh Batara Guru untuk memintamu ke Kahyangan. Sang Batara Guru akan menjadikanmu bidadari untuk melengkapi kami para bidadari yang ada di Kahyangan," bujuk salah satu bidadari.

"Baiklah, para bidadari. Saya bersedia menerima permintaan Batara Guru, tapi dengan satu syarat," ujar Dewi Sri. "Apakah syarat itu, wahai Dewi Sri?" tanya bidadari.

"Saya mohon adik saya, Sadana, yang telah dikutuk menjadi burung sriti agar dikembalikan wujudnya menjadi manusia," pinta Dewi Sri.

Para bidadari pun menyanggupi permintaan Dewi Seri. Namun, ketika mereka hendak memenuhi permintaan tersebut, ternyata Sadana telah dikembalikan menjadi manusia oleh sosok yang sakti, yaitu Bagawan Brahmana Marhaesi, putra Sang Hyang Brahma. Bahkan, Sadana telah dinikahkan dengan seorang putri bernama Dewi Laksmitawahni. Kelak bila mereka telah memiliki putra, Sadana akan diangkat menjadi dewa.

Berita tentang Sadana kemudian disampaikan kepada Dewi Sri. Dewi Sri pun menyambutnya dengan perasaan senang. Karena keinginannya telah terkabulkan, akhirnya Dewi Sri yang berwujud ular sawah itu dikembalikan ke wujud aslinya oleh para bidadari ke wujud aslinya, yakni seorang gadis yang cantik jelita.

Sementara itu, Kyai Brikhu amat terkejut karena ular sawah di petanen-nya telah lenyap. Yang dilihatnya hanya seorang gadis cantik yang sedang duduk di samping bayinya.

"Hai, anak gadis. Kamu siapa dan kenapa berada di sini?" tanya Khai Brikhu heran. Dewi Sri pun memperkenalkan dirinya lalu menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi di rumah itu. Akhirnya, Kyai Brikhu pun tahu bahwa Dewi Sri adalah putri Prabu Mahapunggung dari Kerajaan Medang Kamulan.

Sesuai dengan janjinya, Dewi Sri pun akan segera ke Kahyangan untuk dijadikan bidadari. Sebelum pergi, Dewi Sri tidak lupa berterima kasih dan berpesan kepada Kyai Brikhu.

"Terima kasih, Kyai Brikhu atas segala bantuannya selama saya tinggal di rumah ini," ucap Dewi Sri, "Agar sandang dan pangan keluargamu selalu tercukupi, jangan lupa untuk memberi memberikan sesajen di ruang tengah rumahmu."

Usai berpesan, Dewi Sri pun moksa dan kemudian menuju ke Kahyangan. Sepeninggal Dewi Sri, Kyai Brikhu pun langsung menyediakan sesajen di ruang tengah rumahnya. Sejak itulah, orang Jawa selalu menyimpan atau memajang gambar ular di kamar tengah rumah mereka sebagai perlambangan sosok Dewi Sri yang telah memberikan kemakmuran dan kesuburan dalam kehidupan mereka.

Tidak hanya itu, orang juga percaya bahwa jika ada ular masuk ke dalam rumah, itu berarti pertanda sawahnya akan memberikan hasil atau rezeki yang baik. Itulah sebabnya, masyarakat petani di Jawa amat menghargai ular sawah dengan cara memberinya sesaji.

Demikianlah penjelasan dari pertanyaan "apa itu mite". Semoga dengan membaca uraian di atas, para pelajar dapat memahami dengan mudah pengertian cerita mite. (Adm)

Baca juga: 3 Contoh Cerita Pengalaman Hari Raya Idul Fitri yang Seru