Apa yang Harus Dimiliki Guru untuk Memahami Emosi Siswa? Ini yang Perlu Dikuasai

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Guru hendaknya memahami emosi siswa bisa menilai situasi yang dapat mempengaruhi perilaku siswa dalam hal ini, guru harus memiliki kemampuan yang membuatnya mampu melihat lebih dari sekadar sikap yang tampak di dalam kelas.
Seorang guru perlu mampu membaca kondisi tersebut dengan bijaksana agar respons yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa.
Apa yang Harus Dimiliki Guru untuk Memahami Emosi Siswa yang Tampak di Kelas?
Guru hendaknya memahami emosi siswa bisa menilai situasi yang dapat mempengaruhi perilaku siswa dalam hal ini, guru harus memiliki kepekaan terhadap emosi siswa, empati, serta kemampuan mengenali, memahami, dan merespons emosi siswa secara bijaksana.
Dikutip dari Jurnal Pentingnya Pemahaman Emosi dalam Proses Pembelajaran di MI Al-Masrhi Pangkalan Balai-Banyuasin oleh Mutyati, dkk (2023) ketiga kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi pendidik untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman.
Sekaligus membantu peserta didik menghadapi berbagai tantangan emosional yang muncul selama proses pembelajaran.
Di dalam kelas, setiap siswa membawa pengalaman, karakter, dan kondisi emosional yang berbeda. Ada siswa yang mudah bersemangat ketika belajar, tetapi ada pula yang datang ke sekolah dengan perasaan cemas, sedih, atau kehilangan motivasi.
Salah satu kemampuan yang perlu dimiliki adalah kepekaan terhadap emosi siswa. Guru yang peka mampu menangkap perubahan sikap, ekspresi wajah, atau perilaku peserta didik yang menunjukkan adanya masalah.
Kepekaan ini membuat guru lebih mudah membantu siswa yang sedang mengalami stres, kecemasan, atau perasaan negatif lainnya sebelum kondisi tersebut mengganggu proses belajar.
Selain itu, guru juga perlu memiliki empati. Empati bukan sekadar merasa iba, tetapi kemampuan untuk memahami apa yang sedang dirasakan siswa dari sudut pandang siswa.
Ketika guru mendengarkan tanpa menghakimi dan mencoba memahami alasan di balik perilaku siswa, hubungan yang terjalin menjadi lebih hangat. Suasana kelas pun terasa lebih aman karena siswa tidak takut menyampaikan pendapat maupun menceritakan kesulitannya.
Kemampuan berikutnya adalah mengenali, memahami, dan merespons emosi siswa secara bijaksana. Guru perlu mampu membaca perubahan emosional yang dialami peserta didik, kemudian memberikan respons yang sesuai dengan kondisi tersebut.
Misalnya, ketika seorang siswa tiba-tiba menjadi pendiam atau sulit berkonsentrasi, guru tidak langsung memberikan hukuman, melainkan mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu.
Ketiga kemampuan tersebut juga sejalan dengan salah satu dimensi dalam kerangka CASEL, yaitu Social Awareness (Kesadaran Sosial).
Dimensi ini menekankan kemampuan seseorang untuk memahami perasaan, kebutuhan, sudut pandang, dan kondisi orang lain, kemudian menunjukkan empati dalam berinteraksi.
Dalam praktiknya, guru yang berusaha memahami emosi siswa dan mengenali berbagai situasi yang mempengaruhi perilaku siswa sedang menerapkan dimensi ini.
Setelah memahami kondisi yang dihadapi siswa, guru dapat menentukan bentuk dukungan yang paling sesuai, baik melalui komunikasi yang lebih terbuka, pendampingan, maupun penyesuaian strategi pembelajaran.
Memahami emosi siswa bukan hanya membantu mengatasi persoalan yang muncul di dalam kelas, tetapi juga membangun hubungan yang lebih positif antara guru dan peserta didik. (shr)
Baca juga: Kondisi Peserta Didik dalam Pembelajaran Sosial Emosional di Kelas
