Konten dari Pengguna

Apa yang Terjadi dengan Bendera Merah Putih Pertama Indonesia? Ini Sejarahnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Apa yang terjadi dengan bendera Merah Putih pertama Indonesia. Foto: Unsplash.com/Nick Agus Arya
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apa yang terjadi dengan bendera Merah Putih pertama Indonesia. Foto: Unsplash.com/Nick Agus Arya

Apa yang terjadi dengan bendera Merah Putih pertama Indonesia berkaitan dengan kondisi fisiknya yang semakin rapuh setelah digunakan dalam sejarah awal kemerdekaan.

Bendera tersebut dikenal sebagai Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih dan pertama kali dikibarkan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Kini, bendera asli itu tidak lagi digunakan dalam upacara kenegaraan untuk menjaga kondisinya.

Apa yang Terjadi dengan Bendera Merah Putih Pertama Indonesia yang Dikibarkan?

Ilustrasi Apa yang terjadi dengan bendera Merah Putih pertama Indonesia. Foto: Unsplash.com/Mufid Majnunmufidpwt

Apa yang terjadi dengan bendera Merah Putih pertama Indonesia? Dikutip dari setneg.go.id, Bendera Pusaka yang dijahit oleh Fatmawati kini disimpan sebagai benda bersejarah karena kainnya sudah rapuh dan tidak memungkinkan untuk digunakan secara rutin.

Kain Bendera Pusaka berasal dari dua blok kain merah dan putih berbahan katun yang diberikan kepada Fatmawati melalui Chairul Basri dari Hitoshi Shimizu, pimpinan Barisan Propaganda Jepang.

Kain tersebut kemudian dijahit menggunakan mesin jahit tangan hingga menjadi bendera dengan warna merah di bagian atas dan putih di bagian bawah.

Bendera tersebut memiliki perbandingan ukuran 2:3. Setelah selesai dibuat, Sang Merah Putih menjadi bagian dari momen Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Seusai Soekarno membacakan Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, Bendera Pusaka dikibarkan pada tiang bambu yang dipimpin oleh Latief Hendraningrat. Pengibaran berlangsung diiringi lagu Indonesia Raya.

Bendera Pusaka kemudian digunakan dalam upacara peringatan kemerdekaan di Istana Merdeka. Pemakaian berlangsung hingga kondisi kain semakin rapuh sehingga diperlukan penggantian dengan bendera duplikat.

Sejak 1969, bendera yang dikibarkan dalam upacara kenegaraan di Istana Merdeka merupakan duplikat, sedangkan bendera asli tetap dijaga.

Duplikat pertama dibuat pada 1969 atas permohonan Husein Mutahar. Bendera tersebut digunakan selama sekitar 15 tahun hingga 1984. Duplikat kedua kemudian digunakan mulai 1985 sampai 2014, sedangkan duplikat ketiga mulai dikibarkan pada 2015.

Pembuatan duplikat dilakukan untuk menjaga keberlangsungan tradisi pengibaran Sang Merah Putih tanpa mempertaruhkan kondisi Bendera Pusaka asli.

Bendera asli tidak lagi diperlakukan sebagai perlengkapan upacara biasa, tetapi sebagai peninggalan sejarah yang memerlukan konservasi.

Pada 2017, terdapat rencana pemindahan Bendera Pusaka ke Ruang Kemerdekaan di Monumen Nasional atau Monas. Tempat penyimpanan tersebut dirancang dengan perlindungan khusus, termasuk vitrin berkaca antipeluru serta pengaturan suhu dan kelembapan.

Bendera Pusaka juga perlu dijaga dari paparan cahaya berlebihan dan tidak dianjurkan dilipat karena dapat mempercepat kerusakan serat kain.

Penanganan semacam itu diperlukan karena bahan tekstil yang telah berusia puluhan tahun memiliki kondisi berbeda dibandingkan kain bendera baru.

Nilai Bendera Pusaka tidak hanya terletak pada bahan pembuatnya, tetapi juga pada perannya dalam sejarah kemerdekaan.

Bendera tersebut menjadi saksi pengibaran Sang Merah Putih pada hari Proklamasi dan menjadi bagian dari perjalanan awal Republik Indonesia.

Kini, Bendera Pusaka tetap dipertahankan sebagai benda bersejarah, sedangkan pengibaran dalam upacara kenegaraan menggunakan bendera duplikat.

Apa yang terjadi dengan bendera Merah Putih pertama Indonesia menunjukkan bahwa bendera asli dijaga agar nilai sejarahnya tetap terpelihara tanpa mengalami kerusakan akibat penggunaan berulang. (Shofia)

Baca Juga: Penulisan HUT RI ke-81 yang Benar, Lengkap dengan Contoh Penulisannya