Apakah Backrooms Itu Nyata? Ini Penjelasannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah Backrooms itu nyata? Hal yang dipertanyakan setelah gambar ruang kuning kosong dengan lorong panjang beredar luas di internet.
Banyak orang menganggap tempat itu terasa familiar meskipun sulit menjelaskan alasan yang membuat suasananya tampak janggal dan mengganggu.
Cerita mengenai ruang tanpa ujung terus berkembang dari satu unggahan sederhana hingga melahirkan berbagai versi yang berbeda.
Apakah Backrooms Itu Nyata dalam Ruang Tanpa Ujung?
Apakah Backrooms itu nyata? Sampai sekarang tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Backrooms benar-benar ada sebagai lokasi atau dimensi tersembunyi yang dapat ditemukan di dunia nyata.
Dikutip dari usatoday.com, Backrooms merupakan konsep fiksi yang lahir dari internet. Awalnya, suatu gambar memperlihatkan ruangan kosong dengan dinding kuning kusam, karpet bermotif sederhana, serta lampu neon yang menyala tanpa henti.
Tampilan tempat tersebut terlihat biasa, tetapi memunculkan perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Setelah gambar itu muncul dalam forum daring pada 2019, seseorang menambahkan cerita bahwa ada kemungkinan manusia keluar dari realitas melalui kesalahan tertentu dan terjatuh ke dalam Backrooms.
Tempat itu digambarkan sebagai labirin tak berujung yang dipenuhi ruangan kosong dengan bentuk hampir sama.
Cerita tersebut berkembang karena banyak orang merasa gambar awal Backrooms memberikan kesan tidak nyaman. Ruangan itu tidak terlihat menyeramkan seperti rumah hantu atau bangunan terbengkalai.
Sebaliknya, tempat tersebut tampak terlalu normal hingga terasa salah. Perasaan inilah yang membuat Backrooms menarik perhatian banyak pengguna internet.
Dalam dunia psikologi dan desain lingkungan, terdapat istilah liminal space.
Istilah ini merujuk pada lokasi yang berada di antara dua kondisi, seperti sekolah yang kosong saat malam hari, koridor kantor tanpa penghuni, atau pusat perbelanjaan yang sepi.
Tempat-tempat semacam itu sering memunculkan rasa asing meskipun sebenarnya tidak berbahaya.
Konsep Backrooms memanfaatkan kesan tersebut. Karena itulah banyak orang merasa seolah-olah pernah melihat lokasi yang mirip, meskipun kenyataannya tidak pernah berada di sana.
Sensasi familiar sekaligus asing menjadi salah satu alasan cerita ini mudah diingat.
Perkembangan Backrooms semakin pesat ketika kreator muda Kane Parsons mengunggah film pendek bergaya found footage di YouTube pada 2022.
Video berdurasi singkat itu menampilkan seseorang yang tersesat di dalam lorong-lorong Backrooms dan menemukan makhluk misterius. Hasil visual yang realistis membuat sebagian penonton sempat mengira lokasi tersebut benar-benar ada.
Padahal lingkungan dalam video itu dibuat menggunakan perangkat lunak grafis digital.
Kane Parsons merancang ruangan, pencahayaan, dan efek kamera sehingga tampak seperti rekaman nyata. Karya tersebut kemudian ditonton puluhan juta kali dan melahirkan banyak lanjutan cerita.
Kesuksesan serial YouTube itu akhirnya berkembang menjadi film layar lebar berjudul "Backrooms".
Dalam versi film, Backrooms digambarkan sebagai dimensi aneh yang berisi ruangan tak terbatas dengan benda-benda yang tersusun secara tidak masuk akal.
Ada ruang yang hanya berisi rambu lalu lintas, tumpukan kursi, atau struktur lain yang terlihat acak.
Cerita film juga memperluas makna Backrooms. Tempat tersebut digambarkan sebagai semacam ruang yang menyimpan sisa-sisa ingatan dan jejak pengalaman yang tersusun secara keliru.
Gambaran itu merupakan bagian dari cerita fiksi dan tidak dimaksudkan sebagai penjelasan ilmiah mengenai dunia nyata.
Seiring berkembangnya komunitas penggemar, Backrooms tidak lagi hanya terdiri dari satu ruangan kuning. Muncul ratusan level dengan tema berbeda.
Ada level yang menyerupai gudang, kantor, hotel, terowongan, hingga kawasan kota yang kosong. Setiap level memiliki aturan, karakteristik, dan ancaman tersendiri.
Walaupun detail ceritanya semakin luas, seluruh level tersebut merupakan hasil kreativitas komunitas internet.
Tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan keberadaan Backrooms. Tidak ada laporan resmi yang menunjukkan bahwa seseorang pernah menemukan lokasi seperti yang digambarkan dalam cerita.
Sebagian orang menghubungkan Backrooms dengan teori dimensi paralel, simulasi realitas, atau gangguan ruang dan waktu.
Namun hubungan tersebut hanya berupa dugaan dan spekulasi. Sampai saat ini tidak ada bukti yang dapat diverifikasi untuk mendukung klaim tersebut.
Daya tarik Backrooms justru berasal dari kemampuannya memanfaatkan ketakutan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ruangan kosong, lorong panjang, suara dengung lampu, dan suasana sepi merupakan hal yang sebenarnya biasa ditemukan. Ketika unsur-unsur tersebut disusun dengan cara yang tidak wajar, muncul perasaan tidak nyaman yang kuat.
Apakah Backrooms itu nyata? Jawabannya tetap tidak, karena seluruh konsep Backrooms berasal dari cerita fiksi yang berkembang melalui internet dan karya kreatif.
Meskipun demikian, kisah tersebut terus dibicarakan karena mampu menghadirkan gambaran ruang yang terasa dekat sekaligus asing dalam waktu bersamaan. (Shofia)
Baca Juga: Apakah Benar 28 Maret Medsos Dibatasi? Inilah Jawabannya
