Asal Usul Rebo Wekasan, Tradisi Tolak Bala Masyarakat Jawa

Kabar Harian
Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
Konten dari Pengguna
12 September 2023 11:05 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Among-among Budaya Memaknai Bencana Melalui Perspektif Budaya: Pengetan Rebo Wekasan dari sisi tradisi, sejarah, dan upaya pengurangan risiko bencana di Balairung UGM, Selasa (20/9/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Among-among Budaya Memaknai Bencana Melalui Perspektif Budaya: Pengetan Rebo Wekasan dari sisi tradisi, sejarah, dan upaya pengurangan risiko bencana di Balairung UGM, Selasa (20/9/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
ADVERTISEMENT
Masyarakat di beberapa daerah di Indonesia mengenal tradisi Rebo Wekasan yang dilaksanakan setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar. Asal-usul Rebo Wekasan sendiri dipercaya sudah ada sejak abad ke-17. Di tahun 2023 ini, Rebo Wekasan jatuh pada hari Rabu, 13 September 2023.
ADVERTISEMENT
Rebo Wekasan juga disebut Rebo Pungkasan yang artinya Rabu terakhir dalam bahasa Jawa. Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di hari Selasa malam atau malam Rabu ini, masyarakat akan mengadakan upacara tertentu.
Hingga saat ini, upacara Rebo Wekasan masih dilaksanakan di beberapa daerah, seperti Wonokromo, Bantul, DIY, dan Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Lalu, bagaimana asal-usul Rebo Wekasan dan sejarahnya? Apa makna dari peringatan ini bagi masyarakat setempat?

Asal Usul Rebo Wekasan menurut Masyarakat Jawa

Ilustrasi asal-usul Rebo Wekasan. Foto: Unsplash
Dikutip dari laman Warisan Budaya Takbenda Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud) serta laman Dinas Kebudayaan DIY, Rebo Wekasan dipercaya sudah ada sejak tahun 1784. Sejarahnya tak jauh dari peran tokoh penting di masa lalu, yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono I.
ADVERTISEMENT
Asal usul Rebo Wekasan disinyalir karena hari Rabu terakhir di bulan Safar adalah hari pertemuan antara Sri Sultan HB I dengan Kyai Faqih Usman atau Kyai Wonokromo. Pada masa itu, Kyai Faqih Usman dipercaya mempunyai kelebihan ilmu di bidang agama dan ketabiban atau penyembuhan penyakit.
Dalam cerita tersebut dijelaskan bahwa Kyai Faqih Usman menjadi terkenal karena dapat menyembuhkan wabah atau pagebluk di suatu desa. Mendengar hal ini, Sri Sultan HB I pun tertarik untuk bertemu dengan Kyai Faqih Usman.
Pertemuan tersebut jatuh di hari Rabu terakhir bulan Safar. Akhirnya, masyarakat memercayai bahwa perlu diadakan upacara di hari Rebo Wekasan untuk menolak bala dan kesialan.
ADVERTISEMENT

Peringatan Rebo Wekasan di Indonesia

Asal-usul Rebo Wekasan. Foto: Unsplash
Upacara Rebo Wekasan berbeda-beda di tiap daerah. Dikutip dari laman resmi Desa Suci, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, tradisi Rebo Wekasan di sana diselenggarakan berdasarkan instruksi salah satu Wali Songo yaitu Sunan Giri yang diajarkan melalui muridnya, Syeikh Jamaludin Malik. Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak 1483.
Pelaksanaan upacaranya ini disesuaikan dengan situs bersejarah, seperti Sumur Gede, masjid, telaga, dan lain-lain yang ada di sana. Rebo Wekasan di Gresik tidak hanya diikuti oleh warga Suci, namun juga desa-desa lain di sekitarnya.
Makna Tradisi Rebo Wekasan sendiri menunjukkan bagaimana proses internalisasi ajaran ajaran Islam ke dalam tradisi masyarakat setempat dan proses akulturasi budaya masyarakat. Rebo Wekasan mengandung nilai-nilai karakter seperti religiusitas, gotong royong, kerjasama, peduli, kerja keras, toleransi, dan hal baik lainnya.
ADVERTISEMENT
Sementara itu di Wonokromo, DIY, Rebo Wekasan dilaksanakan dengan kirab lemper raksasa. Masyarakat membuat tiruan lemper yang berukuran tinggi 2,5 m dengan diamter 45 cm. Lemper tersebut kemudian diarak dari Masjid Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo sejauh 2 km.
Selama lemper raksasa dikirabkan, akan ada banyak tamu undangan yang menunggu kehadiran lemper di balai desa. Lemper tersebut langsung ditempatkan di panggung yang telah disediakan.
Beberapa saat kemudian, upacara dibuka oleh ketua panitia, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan pejabat di lingkungan pemerintahan yang diundang seperti camat, kepala dinas, dan sebagainya.
(TAR)