Konten dari Pengguna

Bacaan Gharib dalam Al-Qur'an dan Jenisnya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bacaan Gharib. Foto: Pexels/AmirHadi Manavi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bacaan Gharib. Foto: Pexels/AmirHadi Manavi

Membaca Al-Qur’an adalah salah satu pedoman dan penuntun kehidupan bagi umat Muslim. Ketika seorang Muslim membaca Al-Qur’an harus memenuhi kaidah-kaidah yang ada dan tidak boleh asal. Salah satu yang harus dipelajari dalam Al-Qur’an yaitu bacaan gharib.

Bacaan-bacaan gharib dalam Al-Qur’an ini telah dimulai dan dipelajari sejak turunnya Al-Qur’an pada Nabi Muhammad saw.

Pembawa Al-Qur’an yaitu Malaikat Jibril, membacakan bacaan Al-Qur’an dengan sempurna, dan diantara bacaan tersebut terdapat bacaan-bacaan gharib. Bacaan tersebut tetap dipelihara dan terus diajarkan oleh para guru dan ahli.

Daftar isi

Pengertian Bacaan Gharib

Ilustrasi Bacaan Gharib. Foto: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan

Dikutip dari buku “Al-Qur’an Hadis Madrasah Tsanawiyah Kelas IX”, Aminudin dan Harjan Syuhada, (2019:68) Menurut bahasa gharib berasal dari bahasa Arab yaitu “gharaba” yang artinya adalah asing.

Menurut istilah bacaan gharib adalah bacaan yang tidak biasa di dalam Al-Qur’an karena samar, dari segi huruf, lafal, maupun maknanya.

Akibat dari bacaannya yang asing dan tidak biasa tersebut, dikhawatirkan ketika umat Muslim membacanya akan terjadi kesalahan. Jadi mempelajari gharib sangatlah penting sebagai tata krama dan acuan dalam membaca Al-Qur’an.

Di wilayah Asia khususnya di Indonesia, umat muslim menggunakan qiraat dari Imam ‘Ashim riwayat Imam Hafsh yang berasal dari jalur Asy-Syathibiyyah.

Qiraat adalah pengetahuan atau seni dalam membaca Al-Qur’an. Qiraat Imam Hafsh merupakan yang paling masyhur dan dikenal dari belahan dunia lainnya.

Jenis-Jenis Bacaan Gharib

Ilustrasi Bacaan Gharib. Foto: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan

Agar dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, banyak hal yang perlu dipelajari. Mulai dari tajwid, harakat, jenis-jenis gharib dan lain sebagainya. Berikut ini adalah jenis-jenis bacaan ghirab dalam Al-Qur’an berdasarkan dari riwayat Imam Hafsh:

Imalah

Dari segi bahasa, imalah artinya adalah condong atau miring, sedangkan menurut istilah imalah artinya adalah mencondongkan bacaan harakat fathah pada harakat kasrah sekitar dua pertiganya.

Bacaan imalah ini terdapat pada Al-Qur’an Surat Hud ayat 41 yang ditandai dengan kata imalah, sebagai berikut:

۞ وَقَالَ ارْكَبُوْا فِيْهَا بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰ۪ىهَا وَمُرْسٰىهَاۗ اِنَّ رَبِّيْ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٤١

Wa qâlarkabû fîhâ bismillâhi majr)hâ wa mursâhâ, inna rabbî laghafûrur raḫîm.

Artinya: “Dia (Nuh) berkata, “Naiklah kamu semua ke dalamnya (bahtera) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya! Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.””

Ayat tersebut di-imalah-kan untuk dapat membedakan lafaz “majraaha” yang artinya berjalan di darat dengan lafaz “majreeha” yang artinya berjalan di laut. Dalam kamus bahasa Arab, lafaz مجرىَها berasal dari kata جري yang artinya adalah berjalan atau mengalir.

Namun dalam surat tersebut karena kecenderungan perjalanan di laut tidak stabil (adanya hempasan angin dan terjangan ombak) seperti di darat, maka sangat tepat jika lafaz tersebut menjadi imalah.

Sehingga fathah yang seharusnya dibaca a menjadi dibaca e dan berbunyi “majreeha”.

Isymam

Dari segi bahasa isymam artinya adalah moncong atau monyong, sedangkan menurut istilah isymam adalah mengkombinasikan harakat fathah dengan harakat dammah disertai memoncongkan bibir tanpa bersuara dan bernafas untuk mengiringi huruf yang sukun sebagai isyarat dammah.

Bacaan Isymam terdapat pada Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 11, yaitu pada lafaz لَا تَأْمَنَّ۫ا sebagai berikut:

قَالُوْا يٰٓاَبَانَا مَالَكَ لَا تَأْمَنَّ۫ا عَلٰى يُوْسُفَ وَاِنَّا لَهٗ لَنٰصِحُوْنَ ۝١١

Qâlû yâ abânâ mâ laka lâ ta'mannâ ‘alâ yûsufa wa innâ lahû lanâshiḫûn.

Artinya: “Mereka berkata, “Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak memercayai kami atas Yusuf, padahal sesungguhnya kami benar-benar menginginkan kebaikan baginya?””

Pada lafaz لَا تَأْمَنَّ۫ا, tepatnya saat membaca huruf nun, bibir perlu dimoncongkan menyerupai bentuk bibir saat membaca dammah tanpa mengubah bunyi bacaan.

Kata “la ta manna” berasal dari kata “la ta manunna”, dalam panduan ilmu tajwid hanya tertulis satu nun yang ber-tajwid serta tidak ada dammah. Sehingga timbullah isymam untuk mengikuti standar penulisan ilmu tajwid.

Tashil

Dari segi bahasa tashil mempunyai akar kata yang artinya adalah mudah, sedangkan menurut istilah tashil adalah upaya memindahkan bacaan-bacaan Al-Qur’an dengan cara memindahkan harakat atau membuang huruf tertentu. Tujuannya adalah agar lafal tersebut tidak sulit untuk diucapkan.

Bacaan tashil terdapat pada Al-Qur’an Surat Fushshilat ayat 44, sebagai berikut:

وَلَوْ جَعَلْنٰهُ قُرْاٰنًا اَعْجَمِيًّا لَّقَالُوْا لَوْلَا فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗۗ ءَا۬عْجَمِيٌّ وَّعَرَبِيٌّۗ

Walau ja‘alnâhu qur'ânan a‘jamiyyal laqâlû lau lâ fushshilat âyâtuh, a a‘jamiyyuw wa ‘arabiy….

Bacaan ءَا۬عْجَمِيٌّ awalnya berbunyi “aa’jamiyyun”, karena dibaca tashil bunyinya menjadi “aha’jamiyyun.”

Naql

Dari segi bahasa naql artinya adalah memindahkan, sedangkan menurut istilah naql adalah memindahkan harakat hamzah kepada huruf sebelumnya yang sukun, dan membuang hamzah yang tidak ber-harakat lagi. Hal ini bertujuan untuk memudahkan bacaan.

Bacaan naql terdapat pada Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 11, sebagai berikut:

بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ

Bi'sa lismul-fusûqu ba‘dal-îmân,

Di dalam Al-Qur’an umumnya, lafaz بِئْسَ الِاسْمُ dibacanya adalah “Bi’sal ismu”, namun karena menurut Imam Hafs lafaz tersebut adalah bacaan gharib yang termasuk naql maka dibacanya menjadi “Bi’salismu.” Naql hanya terjadi pada bunyi bacaan saja, sedangkan dalam penulisan tidak mengalami perubahan apapun.

Ibdal

Dari segi bahasa, ibdal arrtinya adalah mengganti, sedangkan menurut istilah ibdal adalah mengganti huruf yang satu dengan huruf lainnya. Bacaan yang di-ibdal-kan dalam Al-Qur’an antara lain sebagai berikut:

1. Mengganti Hamzah Qatha (ء) dengan Alif Layyinah (ي)

Para imam yang mempelajari qiraat sepakat bahwa hamzah qatha’ yang tidak menempel pada kata sebelumnya dan terletak setelah hamzah washa, maka hamzah qatha tersebut diganti dengan alif layyinah.

Bacaan ini terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahqaf ayat 4 pada kata ائْتُوْنِيْ, sebagai berikut:

قُلْ اَرَءَيْتُمْ مَّا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَرُوْنِيْ مَاذَا خَلَقُوْا مِنَ الْاَرْضِ اَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى السَّمٰوٰتِۖ ائْتُوْنِيْ بِكِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ هٰذَآ اَوْ اَثٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٤

Qul a ra'aitum mâ tad‘ûna min dûnillâhi arûnî mâdzâ khalaqû minal-ardli am lahum syirkun fis-samâwâti'tûnî bikitâbim ming qabli hâdzâ au atsâratim min ‘ilmin ing kuntum shâdiqîn.

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah! Perlihatkanlah kepadaku (bagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka memiliki peran serta dalam (penciptaan) langit! Datangkanlah kepadaku kitab yang sebelum ini (Al-Qur’an) atau peninggalan dari pengetahuan (generasi terdahulu) jika kamu adalah orang-orang benar.””

Ada dua cara membaca kata ائْتُوْنِيْ, yaitu:

  • Jika wakaf, maka huruf ta di-sukun-kan, dan hamzah watha’ yang sukun diganti ya sukun, dibacanya menjadi “iituunii”.

  • Jika washal, maka cara membacanya sesuai dengan teks yaitu, “samaawaati’tuunii.”

2. Mengganti huruf Shad (ص) dengan Sin (س)

Dalam penggantian ini terdapat beberapa ketentuan, yaitu:

  • Sebagian ulama mengganti huruf shad dengan huruf sin pada dua kata, yaitu pada Surat Al-Baqarah ayat 245 yaitu وَيَبْصُۣطُۖ dan Surat Al-A’raf ayat 69 yaitu بَصْۣطَةً. Hal ini agar lafaz tersebut kembali ke asalnya.

  • Huruf shad tidak diganti sin pada kata yang terdapat pada Al-Qur’am Surat Al-Ghasyiyah ayat 22 yaitu بِمُصَيْطِرٍۙ, karena sudah sesuai dengan panduan ilmu tajwid.

  • Boleh mengganti huruf shad dengan sin ataupun tidak. Ketentuan ini berlaku pada kata dalam Al-Qur’an Surat At-Thur ayat 37 yaitu الْمُصَۣيْطِرُوْنَ.

Faktor Sulitnya dalam Membaca Bacaan-bacaan Gharib

Ilustrasi Bacaan Gharib. Foto: Pexels/Abdulmeilk Aldawsari

Berikut adalah beberapa faktor sulitnya membaca bacaan-bacaan gharib:

  • Lafaz tidak berubah, hampur semua bacaan-bacaan gharib hanya terjadi pada perubahan bacaannya saja sedangkan teksnya tidak ada perubahan. Bagi yang tidak mempelajarinya lebih dalam tentu akan mengalami kesulitan.

  • Tidak memahami istilah yang disematkan di ayat. Pada bacaan seperti imalah dan ibdal ada istilah khusus di tulisan bagian atas atau bawah ayat. Bagi sebagian orang yang tidak memahami ilmu tajwid dengan baik akan mengalami kesulitan.

  • Kesulitan dalam mengucapkan karena perbedaan dialek. Bagi orang Asia, sejak kecil harakat yang diajarkan dalam Al-Qur’an adalah fathah, kasrah, dan dammah. Ketika ada yang berbeda dari ketiga tersebut, sebagian orang tentu akan mengalami kesulitan.

Baca Juga: Bagaimana Ketentuan Menaati Ulil Amri? Ini Penjelasannya Menurut Islam

Demikian adalah bagaimana memahami bacaan gharib dalam Al-Qur'an dan jenisnya yang perlu diketahui. Pelajarilah lebih dalam, agar mencapai kesempurnaan dalam membaca Al-Quran. (Mit)