Konten dari Pengguna

Bacaan Niat Itikaf di Masjid dan Tata Caranya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bacaan Niat Itikaf di Masjid, Foto: Unsplash/Sangga Rima Roman Selia
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bacaan Niat Itikaf di Masjid, Foto: Unsplash/Sangga Rima Roman Selia

Bulan Ramadan erat kaitannya dengan itikaf yang merupakan amalan sunah bagi umat muslim. Saat ingin mengamalkan tentunya perlu mengetahui bacaan niat itikaf di masjid agar ibadah tersebut makin sempurna dan diterima di sisi Allah swt. Itikaf biasanya dilaksanakan pada 10 malam terakhir di bulan Ramadan dengan tujuan agar dapat meraih Lailatul Qadar.

Itikaf dalam ilmu fiqih memiliki arti berdiam diri di dalam masjid dengan tata cara tertentu dan disertai dengan niat. Itikaf adalah bentuk ibadah penyerahan diri kepada Allah swt dengan memenjarakan diri di dalam masjid dan menyibukkan diri dengan salat dan zikir.

Daftar isi

Pengertian dan Makna Itikaf

Ilustrasi Bacaan Niat Itikaf di Masjid, Foto: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan

Dikutip dari artikel ilmiah I’tikaf Sebagai Mediasi Islam, Naelul Muna dkk, (2023:320) Itikaf secara bahasa berasal dari kata “akafa-ya’kufu’akfan” yang artinya pencegahan, lalu ditambah alif pada fa’fi’il dan ta’ pada ayn fi’il menjadi “I’takafa-ya’takifu-I’tikaf” yang artinya mengasingkan atau tetap tinggal.

Itikaf secara syara yaitu “al-mukst fi al-masjid min syakhsy makhsus bisifah makhsus” yang artinya berdiam diri di masjid yang dilakukan secara khusus dengan niat dan syarat-syarat tertentu.

Dapat disimpulkan bahwa itikaf adalah hal yang dilakukan seorang muslim yang telah dewasa dan berakal untuk menetapkan diri di dalam masjid. Hal ini dengan maksud beribadah yang dilakukan bersamaan dengan puasa untuk menghindari melakukan persetubuhan atau bermesraan sehari atau lebih dengan niat itikaf.

Itikaf memiliki makna mendalam sebagai aktivitas spiritual paling utama untuk ber-taqqarub atau mendekatkan diri kepada Allah swt yang sudah dilakukan sejak zaman Nabi. Itikaf juga dapat diartikan sebagai meditasi dalam agama Islam yang dilakukan dengan penuh konsentrasi dan kesadaran untuk dapat merefleksikan pikiran dalam menjalankan ibadah.

Zaman dahulu, para sufi atau kekasih Allah telah melalukan itikaf sebagai bentuk meditasi yang dinamakan meditasi sufistik. Dalam praktiknya pada saat melaksanakan zikir dengan menyebut nama Allah dan Rasul-Nya dapat dimanfaatkan sebagai meditasi dengan duduk bersila, relaksasi, memejamkan mata dan memanjatkan puji-pujian kepada Allah Swt.

Secara psikologis tujuan dari itikaf adalah untuk memiliki perkembangan wawasan atau persepsi dan memperoleh perkembangan kesejahteraan seperti ketenangan hidup. Seseorang akan merasa lebih tenang, meningkatkan rasa ksaihnya kepada Sang Pencipta dan bersyukur atas segala kebesaran-Nya.

Bacaan Niat Itikaf di Masjid

Ilustrasi Bacaan Niat Itikaf di Masjid, Foto: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan

Itikaf adalah “syar’u man qablana” yang artinya adalah syariat dari umat terdahulu. Itikaf adalah bagian dari syariat Nabi Ibrahim as sebagaimana tercantum dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 125 yang berbunyi:

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

wa idz ja‘alnal-baita matsâbatal lin-nâsi wa amnâ, wattakhidzû mim maqâmi ibrâhîma mushallâ, wa ‘ahidnâ ilâ ibrâhîma wa ismâ‘îla an thahhirâ baitiya lith-thâ'ifîna wal-‘âkifîna war-rukka‘is-sujûd

Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Ka‘bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. (Ingatlah ketika Aku katakan,) “Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.” (Ingatlah ketika) Kami wasiatkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, serta yang rukuk dan sujud (salat)!””.

Berikut ini akan dijelaskan bagaimana bacaan niat itikaf di masjid yang dibagi menjadi tiga, yaitu:

Bacaan Niat Itikaf Mutlak

Itikaf mutlak dilaksanakan dalam waktu yang lama, namun cukup membaca niat sebagai berikut:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ للهِ تَعَالَى

Nawaitu an a’takifu fi-hadzal masjidil-lillahi ta’ala.

Artinya: “Aku berniat itikaf di masjid ini karena Allah ta’ala.”

Bacaan Niat Itikaf terikat Waktu tanpa Terus-Menerus

Bacaan niat itikaf fi masjid selanjutnya yaitu itikaf yang terikat waktu selama satu hari, satu malam penuh, atau satu bulan niatnya adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَوْمًا/لَيْلًا كَامِلًا/شَهْرًا لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu an a’tafiku fi-hadzal masjidil yauman/lailan kamilan/syahron-lillahi ta’ala.

Artinya: “Aku berniat itikaf fi masjid ini selama satu hari/satu malam penuh/satu bulan karena Allah ta’ala.”

Bacaan Niat itikaf terikat Waktu dan Terus-Menerus

Itikaf yang terikat waktu dan terus-menerus atau berturut-turut niatnya adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا

Nawaitu an a’tafiku fi-hadzal masjidi syahron muthathabiann.

Artinya: “Aku berniat itikaf di masjid ini selama satu bulan berturut-turut karena Allah ta’ala.”

Tata Cara Pelaksanaan Itikaf, Hal yang Membatalkannya, dan Hal yang Diperbolehkan

Ilustrasi Bacaan Niat Itikaf di Masjid, Foto: Unsplash/Rachid Oucharia

Berikut ini akan dijelaskan bagaimana tata cara pelaksanaan itikaf dan hal apa saja yang dapat membatalkan itikaf:

Tata Cara Pelaksanaan Itikaf

Rasulullah saw menyatakan bahwa ketika umatnya melaksanakan itikaf di 10 malam terakhir Ramadan, maka dapat diibaratkan beritikaf dengan beliau. Di 10 malam terakhir Ramadan keutamaannya jauh lebih besar karena sebagai upaya untuk meraih malam Lailatul Qadar.

Lalilatul Qadar adalah malam penetapan Allah swt bagi perjalanan hidup manusia. Malam ini adalah malam yang mulia dan tidak ada bandingannya, karena malam ini dipilih sebagai malam diturunkannya Al-Quran.

Berikut ini adalah tata cara pelaksanaan Itikaf yang perlu dipahami:

  1. Membaca niat salat itikaf dengan sungguh-sungguh baik secara lisan maupun dalam hati.

  2. Mengawali dengan salat sunnah tahiyatul masjid, salat lail, salat itikaf dua rakaat, dan dikerjakan seperti salat sunnah lainnya.

  3. Berzikir dengan menyebut nama Allah Yang Maha Esa.

  4. Memperbanyak membaca Al-Quran dan memaknainya.

  5. Memperbanyak doa secara khusyuk.

Hal yang Membatalkan Itikaf

Berikut ini adalah hal-hal yang dapat membatalkan itikaf, yaitu:

  1. Jima’ atau berhubungan suami istri, hal ini ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya: “…dan janganlah kamu melakukan persetubuhan ketika kamu beritikaf di dalam masjid…”

  2. Mengeluarkan sperma.

  3. Mabuk dengan sengaja.

  4. Murtad atau keluar dari agama Islam.

  5. Haid dan nifas.

  6. Keluar tanpa alasan atau kebutuhan yang mendesak.

  7. Keluar untuk memenuhi kewajiban yang dapat ditunda.

  8. Keluar dengan alasan hingga berkali-kali, padahal atas keinginan sendiri.

Ketika larangan di atas dilakukan maka batallah itikaf seseorang. Jika dilakukan pada saat itikaf yang terikat waktu terus-menerus maka orang tersebut perlu mengawali itikaf dari awal. Sedangkan pada itikaf yang terikat waktu tanpa terus-menerus waktu batal tidak dihitung sebagai bagian dari itikaf. Saat memulainya lagi, maka perlu niat kembali dan menggabungkannya dengan itikaf sebelumnya.

Dalam itikaf mutlak, ketika larangan di atas dilakukan yang batal hanya kelangsungan itikafnya saja, sehingga tidak bisa digabungkan dengan itikaf sebelumnya, dan juga tidak bisa diperbaharui. Namun itikaf tetap dianggap sah dan berdiri sendiri-sendiri.

Hal yang diperbolehkan saat Itikaf

Berikut ini adalah beberapa hal yang diperbolehkan saat itikaf, yaitu:

  1. Makan dan minum namun dengan syarat tidak mengotori masjid.

  2. Tidur, Mu’takif diperbolehkan tidur di masjid untuk beristirahat dan tidak membatalkan itikafnya.

  3. Berbicara atau diam, Mu’takif diperbolehkan untuk berbicara namun tidak membicarakan hal yang negatif dan mampu untuk menjaga lisannya.

  4. Memakai pakaian yang bagus dan menggunakan parfum namun tidak boleh berlebihan, seperti yang disampaikan dalam Al-Quran surat Al-Araf ayat 31 yang artinya: “wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap masjid, makan dan minumlah , dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Rukun Itikaf dan Syaratnya

Ilustrasi Bacaan Niat Itikaf di Masjid, Foto: Unsplash/Positive Moslem Attitude

Ulama menyepakati bahwa rukun itikaf terdiri dari 4 yang harus dipenuhi, antara lain yaitu:

  1. Mu’takif, atau orang yang melaksanakan itikaf. Orang tersebut harus memiliki syarat yang sah yaitu muslim, sudah akil baligh, mummayiz atau seseorang yang sudah dapat menentukan mana yang baik dan yang buruk, dan suci dari hadas kecil maupun besar.

  2. Niat beritikaf, hal inilah yang membedakan ibadah itikaf dengan yang lainnya, karena banyak orang yang berdiam diri di masjid namun bukan untuk beribadah atau beritikaf seperti duduk dan mengobrol. Maka dari itu fungsi dari niat itikaf adalah untuk menegaskan hukum itikaf.

  3. Tempat itikaf adalah masjid, tempat sah bagi Mu’takif untuk melakukan itikaf yaitu di masjid Jami atau masjid yang setiap waktu salat dilakukan berjamaah, ada imam dan makmum. Wanita diperbolehkan beritikaf di dalam masjid jika keberadaannya tidak menimbulkan fitnah, namun dika dikhawatirkan menimbulkan fitnah maka diperbolehkan melakukan itikaf di rumah.

  4. Menetap di dalam masjid, Mu’takif dilarang keluar masjid kecuali pada keadaan mendesak atau terpaksa yang mengharuskan keluar dari masjid. Ada perbedaan mazhab yang menegaskan durasi itikaf, menurut mazhab Hanafi, Syafi,i dan Hanbali durasi minimal yaitu 60 menit. Sedangkan mazhab Maliki durasi yaitu sehari semalam tanpa putus.

Baca Juga: Kapan Terjadinya Malam Lailatul Qadar? Ini Penjelasan dan Dalilnya

Demikianlah penjelasan mengenai bacaan niat itikaf di masjid yang dapat dipahami dan dipelajari. Semoga pada Ramadan tahun ini umat muslim dapat lebih memaksimalkan ibadahnya salah satunya dengan itikaf. (Mit)