Bilangan Oksidasi: Pengertian, Aturan Penulisan, dan Contoh Soal

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bilangan oksidasi atau biloks adalah salah satu materi yang bisa ditemui dalam pelajaran Kimia. Cara menentukan bilangan oksidasi ini penting untuk diketahui. Sebelumnya, pahami terlebih dahulu bahwasanya setiap muatan itu memiliki elemen positif dan negatif.
Penentuan positif dan negatif ini berasal dari keinginan sebuah atom untuk menjadi stabil melalui proses transfer elektron, yaitu peristiwa yang ditandai bahwa sebuah atom bisa melepas atau menerima sejumlah elektron.
Wati Sukmawati, M.Pd dalam bukunya Redoks dan Elektrokimia: Bintang Pusataka (2020: 36) memaparkan, bilangan oksidasi adalah jumlah muatan negatif dan positif dalam atom, yang secara tidak langsung menunjukkan elektron yang sudah diserahkan maupun diterima oleh atom lainnya.
Perlu di garis bawahi, beberapa atom hanya mempunyai satu biloks. Begitu juga sebaliknya, ada beberapa atom yang memiliki banyak biloks.
Apabila menemukan nilai dari sebuah bilangan atom pada suatu molekul atau senyawa, nantinya harus diketahui terlebih dahulu biloks atom unsur lain, yang mempunyai sifat umum (standar).
Merangkum dalam buku Pedoman Cerdas Kimia Kelas X, X & XII SMA karangan Sartono, S.Pd (2016: 48), berikut aturan cara menentukan bilangan oksidasi atau biloks.
Aturan Menentukan Bilangan Oksidasi
Bilangan oksidasi unsur bebas (atom atau molekul unsur) adalah 0 (nol).
Contoh: Ne, H2, O2, Cl2, P4, C, Cu, Fe dan Na.
Bilangan oksidasi ion monoatom dan poliatom sama dengan muatan ionnya.
Contoh 1: ion monoatom Na+, Ca2+, dan Cl– memiliki bilangan oksidasi berturut-turut +1, +2 dan -1.
Contoh 2: ion pliatom NH4+, SO42-, dan PO43- memiliki bilangan oksidasi berturut-turut +1, -2, dan -3.
Bilangan oksidasi unsur dari golongan IA adalah +1, kemudian unsur dari golongan IIA adalah +2, dan golongan IIIA adalah +3.
Contoh: Bilangan oksidasi unsur Na (unsur golongan IA) pada senyawa NaCl, Na2SO4, dan Na2O adalah +1. Bilangan oksidasi unsur Ca (unsur golongan IIA) pada senyawa CaCl2, CaSO4, dan CaO adalah +2. Bilangan oksidasi Al (Unsur golongan IIIA) dalam senyawa Al2O3 adalah +3.
Bilangan oksidasi unsur golongan VIA pada senyawa biner adalah -2 dan unsur golongan VIIA pada senyawa biner adalah -1.
Contoh: Bilangan oksidasi unsur S (unsur golongan VIIA) pada Na2S dan MgS adalah -2. Sementata itu, bilangan oksidasi unsur Cl pada NaCl, KCl, MgCl2, dan FeCl3 adalah -1.
Bilangan oksidasi unsur H yang berkaitan pada senyawa logam adalah +1, apabila berkaitan dengan senyawa non-logam -1.
Contoh: Bilangan oksidasi unsur H pada H2O, HCl, H2S, dan NH3 adalah +1. Bilangan oksidasi unsur H pada senyawa hidrida adalah -1. Misalnya, bilangan oksidasi unsur H pada NaH, CaH2, dan AlH3 adalah -1.
Bilangan oksidasi oksigen (O) dalam senyawa peroksida = -1. Bilangan oksidasi O dalam senyawa non-peroksida = -2.
Contoh: Bilangan oksidasi unsur O pada senyawa peroksida, seperti H2O2 dan BaO2 adalah -1.
Contoh Soal Menentukan Bilangan Oksidasi
1. Tentukan bilangan oksidasi atom unsur N pada senyawa N2O5
Jawab:
Biloks akan ditandai dengan X
Muatan N2O5 yaitu (2 x biloks N) + (5 x biloks O)
0 = (2 x (x)) + (5 x (-2))
0 = 2x – 10
x = +5
Jadi, bilangan oksidasi atom N pada senyawa N2O5 yaitu +5.
2. Berapa bilangan oksidasi dalam fosfor atau P dalam senyawa H3PO4 atau asam fosfat?
Jawaban:
Aturan yang digunakan adalah:
Biloks-H = +1
Biloks-O = -2
Biloks H3PO4 = 0
(3 × biloks-H) + biloks-P + (4 × biloks-O) = 0
(3 × 1) + biloks-P + (4 ×(-2)) = 0
3 + biloks-P -8 = 0
Biloks-P = 8-3 = 5
Jadi, bilangan oksidasi yang terdapat dalam asam fosfat adalah +5.
(VIO)
