Konten dari Pengguna

Budi Pekerti Menurut Ki Hajar Dewantara, Fondasi Karakter Bangsa sejak Dini

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Budi Pekerti Menurut Ki Hajar Dewantara, Foto:Unsplash/Syahrul Alamsyah Wahid
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Budi Pekerti Menurut Ki Hajar Dewantara, Foto:Unsplash/Syahrul Alamsyah Wahid

Budi pekerti menurut Ki Hajar Dewantara merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak hanya sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak yang menjadi pedoman hidup.

Ia menekankan bahwa karakter yang kuat lahir dari pengembangan budi pekerti, yang mencakup kejujuran, tanggung jawab, empati, dan rasa hormat terhadap sesama.

Budi Pekerti Menurut Ki Hajar Dewantara

Ilustrasi Sekolah, Foto:Unsplash/Syahrul Alamsyah Wahid

Budi pekerti menurut Ki Hajar Dewantara menjadi landasan penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

Dikutip dari laman ppjp.ulm.ac.id, mengungkapkan bahwa pendidikan tidak hanya tentang mengajarkan pengetahuan atau keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak yang membimbing anak dalam bersikap dan bertindak.

Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak anak yang pintar secara intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang berbudi luhur dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat.

Salah satu konsep utama yang diperkenalkan Ki Hajar Dewantara adalah sistem trisentra pendidikan, yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Ketiga pusat ini bekerja sama untuk membimbing anak dalam mengembangkan akal, hati, dan keterampilan sosialnya. Selain itu, terdapat konsep Trikon, yang menekankan keseimbangan antara aspek intelektual, emosional, dan sosial.

Dengan pendekatan ini, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, peka terhadap lingkungan sekitar, dan memiliki kemampuan untuk menghargai orang lain.

Ki Hajar Dewantara juga menekankan pentingnya sistem among, yang meliputi pamong, ngemong, dan trisakti jiwa.

Melalui sistem ini, pendidik atau orang dewasa yang membimbing anak diharapkan dapat menuntun mereka secara penuh perhatian, sabar, dan bijaksana, sehingga nilai-nilai budi pekerti dapat tertanam secara alami.

Konsep ini menekankan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dipisahkan dari cara mendampingi dan membimbing anak dengan hati yang tulus.

Budi pekerti menurut Ki Hajar Dewantara tetap relevan hingga sekarang dan dapat diterapkan dengan penyesuaian sesuai perkembangan zaman.

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan rasa hormat, menjadi fondasi bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang matang secara emosional dan sosial.

Dengan membumikan prinsip-prinsip ini, pendidikan dapat membentuk generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berbudi pekerti dan mampu menghadapi tantangan masa depan dengan bijaksana.

Gagasan Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa budi pekerti adalah inti dari pendidikan yang sesungguhnya.

Pendidikan yang mengintegrasikan akal, hati, dan karakter akan membentuk manusia yang utuh, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi terciptanya bangsa yang berbudaya, beradab, dan beretika.(YOLAN)

Baca juga: Amanat Pembina Upacara Hari Pahlawan 2025 untuk Menyulut Tekad dan Semangat