Konten dari Pengguna

Cara Cek Sebaran Debu Vulkanik agar Bisa Mengetahui Wilayah Terdampak

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cara cek sebaran debu vulkanik. Foto: Unsplash.com/Deborah Diem
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cara cek sebaran debu vulkanik. Foto: Unsplash.com/Deborah Diem

Cara cek sebaran debu vulkanik perlu dilakukan melalui sumber resmi karena arah pergerakan abu di atmosfer dapat berubah dalam waktu tertentu.

Aktivitas erupsi dan kondisi angin pada setiap lapisan ketinggian dapat memengaruhi wilayah yang dilalui material vulkanik.

Pemantauan terbaru juga penting dilakukan saat kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat maupun perjalanan udara.

Cara Cek Sebaran Debu Vulkanik Setelah Erupsi Gunung

Ilustrasi cara cek sebaran debu vulkanik. Foto: Unsplash.com/Adrian Fiodor

Dikutip dari bmkg.go.id, berikut adalah cara cek sebaran debu vulkanik melalui layanan resmi yang menyediakan citra pemantauan dan pembaruan kondisi dari lembaga berwenang.

Buka Citra Sebaran Abu Vulkanik BMKG

Langkah pertama dapat dilakukan dengan membuka halaman Citra Sebaran Abu Vulkanik di situs resmi BMKG.

Layanan ini menampilkan hasil analisis sebaran abu yang dipantau melalui citra satelit untuk mengetahui area yang sedang terindikasi terdampak.

Pada tampilan tersebut, abu vulkanik ditunjukkan dengan warna merah dan ditandai poligon berwarna kuning.

Produk pemantauan ini dibuat mengikuti laporan aktivitas gunung api dari Volcanic Ash Advisory Center atau VAAC Darwin, sehingga pengguna perlu melihat citra terbaru yang tersedia sebelum menyimpulkan arah persebarannya.

Periksa Tanggal dan Waktu Pembaruan

Setelah membuka citra, perhatikan tanggal serta waktu pengamatan yang tercantum.

Langkah ini penting karena gambar sebaran abu menunjukkan kondisi pada waktu tertentu, sedangkan arah dan luas persebaran dapat berubah setelah pembaruan berikutnya.

Citra yang lebih lama tidak selalu menggambarkan kondisi terkini. Apabila terjadi aktivitas erupsi lanjutan atau perubahan arah angin, wilayah yang sebelumnya berada di luar jalur sebaran dapat mengalami perubahan kondisi.

Pemeriksaan waktu pembaruan membantu membedakan antara data terbaru dan hasil pemantauan sebelumnya.

Bandingkan Arah Sebaran pada Setiap Ketinggian

Abu vulkanik tidak selalu bergerak ke satu arah pada seluruh lapisan atmosfer. Karena itu, perhatikan keterangan ketinggian dan arah pergerakan yang menyertai pembaruan dari BMKG.

Sebagai contoh, pemantauan Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026 menunjukkan sebaran abu hingga ketinggian 15.000 kaki yang bergerak dominan ke arah barat.

Sementara itu, abu pada lapisan hingga 50.000 kaki terpantau lebih jauh menuju wilayah Samudra Hindia di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten.

Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya membaca arah sebaran bersama keterangan lapisan ketinggian.

Pantau Pembaruan Resmi BMKG

Citra satelit dapat dilengkapi dengan pembaruan melalui situs dan kanal resmi BMKG. Lembaga tersebut secara berkala merilis perkembangan aktivitas erupsi, pergerakan abu, kondisi cuaca, serta dampak yang mungkin terjadi terhadap wilayah sekitar.

Pemantauan Gunung Anak Krakatau, misalnya, dilakukan secara berkelanjutan selama 24 jam bersama instrumen meteorologi dan pengamatan terkait.

Pembaruan resmi juga dapat memuat perubahan wilayah terdampak yang tidak cukup dipahami hanya dengan melihat satu gambar citra.

Cek SIGMET dan NOTAM untuk Perjalanan Udara

Bagi penumpang yang memiliki jadwal penerbangan, pemantauan sebaran abu perlu dilanjutkan dengan mengecek status penerbangan.

Abu vulkanik di atmosfer dapat mengganggu keselamatan pesawat sehingga otoritas penerbangan dapat melakukan penyesuaian operasional.

BMKG menggunakan SIGMET untuk menyampaikan kondisi meteorologi signifikan yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan.

Sementara itu, NOTAM digunakan sebagai pemberitahuan resmi mengenai perubahan atau kondisi penting dalam operasional penerbangan.

Status bandara dan jadwal penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan terbaru, sehingga pengecekan perlu dilakukan mendekati waktu keberangkatan.

Ikuti Update PVMBG dan Instansi Terkait

Pemantauan sebaran abu juga perlu disertai pembaruan aktivitas gunung api dari PVMBG atau Badan Geologi. Data tersebut dapat membantu melihat perkembangan aktivitas vulkanik yang berkaitan dengan sumber material abu.

BNPB, pemerintah daerah, pengelola bandara, dan otoritas transportasi juga dapat mengeluarkan pengumuman sesuai kondisi di wilayah masing-masing.

Saat menerima unggahan mengenai sebaran debu vulkanik dari media sosial, periksa kembali sumber dan waktu publikasinya agar tidak menggunakan gambar lama atau data yang sudah berubah.

Cara cek sebaran debu vulkanik sebaiknya dilakukan secara berkala melalui citra terbaru dan pembaruan resmi dari lembaga berwenang.

Perubahan aktivitas gunung api serta kondisi atmosfer dapat memengaruhi arah sebaran, sehingga satu hasil pemantauan tidak dapat digunakan untuk menggambarkan situasi sepanjang waktu. (Shofia)

Baca Juga: Kapan Musim Kemarau Mulai 2026? Ini Informasi Resmi dari BMKG