Konten dari Pengguna

Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dalam Akuntansi

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan. Foto: Unsplash/Ashraf Ali.
zoom-in-whitePerbesar
Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan. Foto: Unsplash/Ashraf Ali.

Cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) sangat penting untuk dipahami. Ilmu ini akan sangat bermanfaat dalam berbisnis. Selain berbisnis, juga bisa digunakan dalam perdagangan. HPP membantu untuk menghitung laba atau ruginya penjualan sebuah produk.

Mengutip dari Jurnal Moneter, Widyastuti, dkk. (2018), dalam perhitungan HPP di industri terdapat beberapa unsur yang harus diperhatikan, diantaranya adalah elemen pembentuk harga pokok produksi yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

Perusahaan perlu mengkalkulasikan biaya produksi sebagai dasar perhitungan harga pokok produksi. Terkait menghitung HPP, masih banyak yang belum mengerti bagaimana cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP). Lantas, bagaimana cara menghitung HPP?

Daftar isi

Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

Cara Menghitung Harga Pokok Pejualan. Foto: Unsplash/charlesdeluvio.

Cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) biasanya dipelajari di masa SMA atau sederajat, akan tetapi pelajaran ini juga akan kembali dibahas pada masa perkuliahan di jurusan ekonomi dan bisnis, khususnya program studi akuntansi.

Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah salah satu komponen penting dalam perhitungan keuangan bisnis. Secara istilah, Harga Pokok Penjualan (HPP) merupakan jumlah saldo awal persediaan dan harga pokok barang yang dibeli dikurangi dengan jumlah persediaan akhir pada periode tertentu.

Dalam arti lain, HPP bisa diartikan sebagai total biaya yang dikeluarkan dalam menjalankan suatu proses produksi dalam sebuah badan usaha. Salah satu fungsi utama HPP adalah untuk menghitung laba (keuntungan) dan kerugian dalam badan usaha.

Untuk menentukan berapa harga jual suatu produk secara tepat dan hasil penjualan terukur, maka diperlukan pemahaman yang krusial terkait Harga Pokok Penjualan (HPP). Dalam menghitung HPP harus benar-benar teliti, jangan sampai ada kekeliruan.

Hal ini dikarenakan bisa mengakibatkan kerugian pada perusahaan. Dalam konteks usaha, HPP adalah metrik penting yang membantu para pebisnis atau pedagang menentukan dan menghitung laba kotor dan juga margin kotor.

Untuk menentukan HPP dengan benar, yang harus dilakukan adalah memperhitungkan semua komponen yang terlibat, mulai dari biaya produksi hingga biaya operasional.

Salah satu cara menghitung HPP yakni dengan menambah laba kotor dengan pendapatan. Kemudian, untuk mendapatkan margin kotor, laba kotor tersebut dibagi dengan hasil penjualan. Berikut adalah rumusnya secara umum:

Laba Kotor = Harga Pokok Penjualan – Pendapatan

Harga Pokok Penjualan = Laba Kotor + Pendapatan

Margin Kotor = Laba Kotor : Hasil Penjualan

Dari rumus di atas, perlu untuk diingat bahwa laba kotor dan harga pokok penjualan berbanding terbalik. Jadi, semakin besar nilai HPP, maka akan semakin kecil laba kotor yang diperoleh badan usaha.

Untuk lebih memahami mengenai cara menghitung HPP, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini:

1. Penjualan Bersih

Langkah awal dalam perhitungan HPP adalah menentukan nilai penjualan bersih. Terdapat rumus yang bisa digunakan untuk menentukan nilai penjualan bersih, yaitu:

Penjualan Bersih = Total Penjualan – (Retur + Diskon).

Sebagai contoh, saat sebuah usaha memiliki total penjualan bulanan sebesar Rp8.000.000, dengan retur Rp2.000.000 dan potongan Rp1.500.000, diperoleh nominal penjualan bersihnya adalah Rp4.500.000.

2. Pembelian Bersih

Setelah mengetahui berapa nilai penjualan bersih, langkah selanjutnya yaitu menghitung pembelian bersih. Adapun rumus yang bisa digunakan adalah sebagai berikut:

Pembelian Bersih = (Pembelian Kotor + Ongkir) – (Retur + Diskon).

Contoh, jika pembelian kotor sebuah perusahaan atau sebuah bisnis yaitu sebesar Rp4.000.000 dan ongkos pengiriman Rp500.000, dengan retur Rp250.000 dan potongan Rp400.000, maka diperoleh total pembelian bersihnya yakni sebesar Rp3.850.000.

3. Persediaan Item

Berikutnya yang harus dipahami terkait perhitungan HPP yaitu, perhitungan dilakukan guna mengetahui berapa nilai persediaan item. Rumus yang dapat diaplikasikan adalah:

Persediaan Item = Persediaan Awal + Pembelian Bersih.

Misalnya, jika persediaan awal sebuah perusahaan atau sebuah bisnis senilai Rp5.000.000 dan persediaan akhirnya Rp2.000.000, diperoleh total persediaan item yaitu Rp7.000.000.

4. Harga Pokok Penjualan (HPP)

Sesudah mengetahui nilai persediaan akhir dan total persediaan, langkah terakhir adalah menghitung HPP. Terdapat beberapa rumus HPP yang bisa digunakan dalam menghitung nilainya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

HPP = Persediaan Item - Persediaan Akhir

HPP = (Persediaan Awal + Pembelian Bersih) – Persediaan Akhir.

Dengan contoh sebelumnya, jika total persediaan item yaitu Rp7.000.000 dan persediaan akhirnya Rp2.500.000, maka HPP yang didapatkan adalah Rp4.500.000.

Mengetahui cara menghitung HPP merupakan kewajiban bagi setiap pelaku usaha, karena hal ini membantu penentuan harga jual suatu produk.

Dengan memahami proses ini, para pelaku usaha dapat mengelola usahanya dengan lebih efektif dan mendapatkan hasil penjualan yang menguntungkan.

Komponen Harga Pokok Penjualan (HPP)

Cara Menghitung Harga Pokok Pejualan. Foto: Unsplash/charlesdeluvio.

HPP menjadi nilai yang penting dalam laporan finansial suatu badan usaha atau bisnis. Hal ini tentu saja diperoleh dari hitungan beragam komponen pada suatu proses produksi beserta operasional badan usaha.

Untuk mengetahui cara menghitung HPP, para pelaku usaha juga perlu memahami komponen-komponen apa yang termasuk dan apa saja yang bukan.

1. Komponen Termasuk HPP

Harga pokok penjualan mencakup sejumlah komponen, yaitu stok awal, pembelian stok, dan stok akhir. Berikut adalah daftar dan penjelasan ringkasnya:

  1. Stok Awal

    Salah satu komponen penting dalam HPP adalah stok awal item. Sebelum menghitung HPP, para pelaku usaha perlu memperhitungkan persediaan item saat awal periode produksi.

    Hal ini mencakup biaya untuk bahan baku yang dibutuhkan dalam proses produksi.

  2. Pembelian Stok

    Pembelian stok item penjualan juga merupakan bagian dari hitungan harga pokok penjualan. Adapun tujuannya yakni untuk memastikan ketersediaan stok yang cukup untuk dijual.

    Untuk mengoptimalkan biaya pembelian suatu stok, kamu bisa memanfaatkan diskon, mengembalikan item yang tidak terpakai, serta memaksimalkan penggunaan transportasi ketika pembelian.

  3. Stok Akhir

    Cara menghitung HPP yang akurat memerlukan data tentang stok item saat akhir periode. Ini termasuk sisa persediaan item yang belum terjual.

    Dengan mempertimbangkan stok akhir, kamu dapat menyesuaikan produksi dan merencanakan pembelian bahan baku untuk periode berikutnya.

Untuk menghitung harga pokok penjualan dengan benar, sangat perlu memperhatikan semua komponen di atas serta menggunakan rumus yang sesuai. Tidak hanya itu, teliti juga komponen apa saja yang seharusnya tidak termasuk ke dalam hitungan harga pokok penjualan.

2. Komponen Tidak Termasuk HPP

Sekali lagi, perlu diingat bahwa dalam proses menghitung HPP, tidak segala unsur yang terlibat dalam aktivitas produksi termasuk dalam perhitungan.

Terdapat beberapa komponen yang dikecualikan yaitu seperti biaya non-operasional beserta biaya administrasi. Di bawah ini adalah detail daftarnya:

  1. Biaya Non-operasional

    Biaya non-operasional mencakup segala biaya yang tidak langsung terkait dengan proses produksi. Ini termasuk biaya pendanaan lewat pinjaman usaha dan pembayaran imbal hasil yang harus kamu tanggung.

    Meskipun biaya ini penting bagi kelangsungan usaha, namun tidak relevan dengan perhitungan HPP yang fokus pada biaya produksi langsung.

  2. Biaya Administrasi

    Di sisi lain, biaya administrasi mencakup berbagai pengeluaran yang terkait dengan pengelolaan usaha secara keseluruhan. Ini termasuk biaya akuntansi, manajemen, pembayaran gaji karyawan, sewa properti, dan lain-lain.

Meskipun kedua biaya di atas penting untuk menjalankan usaha dengan lancar, akan tetapi keduanya tidak termasuk dalam perhitungan HPP.

Dikarenakan fokus utama HPP adalah pada biaya-biaya produksi yang langsung terkait dengan pembuatan produk atau penyediaan jasa.

Jadi, saat menghitung HPP, para pelaku usaha hanya perlu mempertimbangkan biaya-biaya yang secara langsung terlibat dalam proses produksi.

Contoh Soal Penghitungan HPP

Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan. Foto: Unsplash/Scott Graham.

Sebuah toko yang menjual pakaian sedang menyusun laporan keuangan akhir tahun dan menghitung jumlah persediaan seperti informasi berikut:

Persediaan awal barang tahun 2021 = Rp500.000.000,00

Pembelian baru selama tahun 2021 = Rp800.000.000,00

Persediaan akhir barang tahun 2021 = Rp600.000.000,00

Bagaimana cara menghitung HPP nya?

HPP = Pembelian Bersih + Persediaan Awal Barang – Persediaan Akhir Barang

HPP = Rp800.000.000 + Rp500.000.000 – Rp300.000.000

HPP = Rp1.000.000.000,00

Jadi, toko pakaian tersebut menjual barang dagangannya sebesar Rp1.000.000.000,00 selama tahun ini. Untuk memperoleh HPP yang akurat, maka laporan neraca lajur yang dimiliki sebuah perusahaan pun harus tepat.

Perhitungan neraca lajur disarankan untuk tepat dan teliti agar pengambilan harga pokok sesuai dengan yang diperlukan.

Selain itu, pertimbangan harga dengan kompetitor juga bisa berpengaruh. Mengambil nilai yang sesuai dengan kualitas produk dan beberapa pertimbangan seperti di atas.

Dengan memahami ulasan mengenai cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) di atas, tak akan ada lagi case atau kasus kesalahan dalam menentukan harga jual per produk. (Nisa)

Baca juga: Pengertian Rumus Dilatasi dan Contoh Soalnya