Konten dari Pengguna

Cara Pengangkatan Umar bin Khattab Menjadi Khalifah

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cara pengangkatan Umar bin Khattab menjadi khalifah. Foto: Unsplash.com/David Monje
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cara pengangkatan Umar bin Khattab menjadi khalifah. Foto: Unsplash.com/David Monje

Pembahasan tentang bagaimana cara pengangkatan Umar bin Khattab menjadi khalifah terus menarik perhatian karena proses suksesi tersebut berlangsung pada masa yang sarat ketegangan politik dan pertimbangan moral.

Pemilihan pemimpin setelah Abu Bakar sakit mencerminkan pentingnya keseimbangan antara karakter, pengalaman, dan kemampuan menjaga stabilitas umat.

Pemahaman menyeluruh mengenai dinamika itu membuka ruang untuk melihat bagaimana keputusan besar dibangun melalui musyawarah dan kepekaan terhadap kondisi zaman.

Cara Pengangkatan Umar bin Khattab Menjadi Khalifah

Ilustrasi cara pengangkatan Umar bin Khattab menjadi khalifah. Foto: Unsplash.com/Damla Özkan

Bagaimana cara pengangkatan Umar bin Khattab menjadi khalifah? Pengangkatan Umar dilakukan melalui penunjukan langsung oleh Abu Bakar ash-Shiddiq menjelang akhir hidupnya.

Hal ini dilakukan setelah melalui proses musyawarah dengan para sahabat senior dan mempertimbangkan kebutuhan umat.

Mengutip buku Sejarah Kebudayaan Islam di Asia Barat Jilid I, Prof. Dr. Maidir Harun (2016:75-77), keputusan ini menjadi semakin jelas ketika kondisi kesehatan Abu Bakar mulai melemah dan kebutuhan akan pemimpin penerus yang mampu menjaga stabilitas umat semakin mendesak.

Kekhawatiran muncul bahwa tanpa penetapan yang jelas, umat dapat memasuki masa perpecahan karena situasi politik belum sepenuhnya stabil setelah berbagai gejolak pasca wafatnya Nabi Muhammad.

Oleh sebab itu, Abu Bakar mulai menimbang figur yang mampu memegang kendali dengan ketegasan, tetapi tetap memiliki kelembutan yang diperlukan untuk menuntun masyarakat luas.

Kriteria tersebut lahir dari pengalaman langsung selama dua tahun kepemimpinannya menghadapi pemberontakan dan persoalan internal yang memerlukan respons cepat dan tegas.

Dari beberapa tokoh terkemuka, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib menonjol sebagai calon yang dinilai paling potensial.

Umar dikenal dekat dengan Abu Bakar dalam berbagai urusan pemerintahan, sekaligus berperan besar dalam penyatuan masyarakat di Tsaqifah Bani Sa’idah, sebuah momen penentu ketika Abu Bakar ditetapkan sebagai khalifah pertama.

Karakter Umar yang tegas, jernih dalam berpikir, dan kuat dalam pengambilan keputusan menjadi pertimbangan penting dalam menghadapi ancaman eksternal yang belum mereda.

Ali tetap dihormati sebagai sosok berilmu dan berwibawa, tetapi hubungannya yang tidak terlalu intens dalam struktur pemerintahan Abu Bakar membuatnya tidak menjadi pilihan utama pada masa itu.

Abu Bakar tidak ingin keputusan ini menjadi sumber ketegangan baru sehingga prosesnya tidak dilakukan secara sepihak.

Tokoh-tokoh berpengaruh seperti Abd al-Rahman bin Auf, Usman bin Affan, Asid bin Hadhir, dan Said bin Zaid diminta memberikan pandangan jujur mengenai figur yang paling layak memimpin umat.

Hasil musyawarah menunjukkan dominasi dukungan kepada Umar, terutama karena sifat ketegasannya dianggap sangat sesuai dengan kebutuhan pada masa yang masih dipenuhi ancaman politik dan militer.

Kesepakatan luas ini menguatkan keyakinan bahwa pengangkatan Umar adalah langkah yang tepat.

Setelah memperoleh persetujuan dari para sahabat, Abu Bakar menyusun surat resmi yang menegaskan penunjukan Umar sebagai penerus setelah dirinya wafat.

Surat tersebut ditulis dengan nada penuh kehati-hatian, mencerminkan tanggung jawab besar untuk menjamin kelanjutan kepemimpinan tanpa menciptakan polemik.

Abu Bakar menegaskan harapan agar Umar berlaku adil, sekaligus mengakui bahwa masa depan adalah sesuatu yang hanya dapat dilihat oleh Allah.

Ketika Abu Bakar wafat, Umar menerima amanah itu pada usia sekitar 52 tahun dan memulai pemerintahan yang berlangsung hampir sepuluh tahun dengan pusat pemerintahan tetap di Madinah.

Sebagai penutup, kejelasan mekanisme dalam cara pengangkatan Umar bin Khattab menjadi khalifah memperlihatkan contoh suksesi yang disandarkan pada musyawarah, kecermatan, dan kesadaran akan kondisi bangsa.

Keputusan tersebut kemudian menjadi fondasi kuat bagi kepemimpinan Umar yang dikenal visioner dan membawa perubahan besar dalam sejarah Islam. (Khoirul)

Baca Juga: 2 Hikmah di Balik Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad ke Madinah