Cobaan Terberat Selama Ramadhan Ketika Hati Mulai Lalai

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cobaan terberat selama ramadhan sering kali hadir di saat yang tidak terduga, ketika suasana terasa tenang namun hati justru diuji secara perlahan.
Di balik rutinitas sahur, berbuka, dan ibadah yang dijalani setiap hari ada pergulatan batin yang tak selalu terlihat oleh orang lain.
Cobaan Terberat Selama Ramadhan
Dikutip dari situs rri.co.id cobaan terberat selama ramadhan sering kali bukan datang dari rasa lapar dan dahaga, melainkan dari hal yang tampak sepele namun berdampak besar yaitu menjaga lisan.
Di tengah suasana ibadah yang seharusnya penuh ketenangan, tanpa disadari hati bisa mulai lalai ketika ucapan tidak lagi terkontrol.
Salah satu ujian yang paling berat adalah ghibah atau menggunjing, kebiasaan yang kerap dianggap biasa padahal mampu menggerus pahala puasa sedikit demi sedikit.
Ustadz Agus Rasidi menjelaskan bahwa menahan diri dari makan dan minum sebenarnya masih bisa dikendalikan dengan niat dan komitmen. Aktivitas fisik selama ramadhan pun relatif dapat dijaga, namun berbeda dengan lisan.
Ucapan yang keluar dari mulut sering kali meluncur begitu saja tanpa dipikirkan panjang. Di situlah letak tantangan sebenarnya.
Ketika seseorang tidak berhati-hati dalam berbicara, ia berisiko terjerumus dalam ghibah membicarakan keburukan orang lain di belakangnya yang dapat mengurangi bahkan merusak pahala puasanya.
Dalam suasana ramadhan, kegiatan seperti ngabuburit atau menunggu waktu berbuka tentu diperbolehkan. Berjalan santai sore hari, berburu takjil, atau berkumpul bersama teman bukanlah hal yang dilarang.
Ustadz Agus mengingatkan agar setiap aktivitas tersebut tetap diisi dengan hal-hal yang bernilai positif. Percakapan yang terjadi seharusnya membawa kebaikan, bukan justru menjadi pintu masuk munculnya gosip dan pembicaraan yang menjatuhkan orang lain.
Momen nongkrong dan berbincang santai sering kali membuat seseorang lengah. Tanpa sadar, obrolan bisa bergeser menjadi membahas aib, kekurangan, atau kesalahan orang lain.
Dari situlah ghibah bermula, padahal dalam ajaran islam ghibah termasuk dosa besar dan hukumnya haram.
Bahkan Allah Swt mengibaratkan perbuatan tersebut seperti memakan bangkai daging saudara sendiri sebuah gambaran yang menunjukkan betapa buruk dan menjijikkannya perbuatan itu.
Dosa ghibah juga masuk dalam kategori hablum minannas, yaitu kesalahan yang berkaitan dengan sesama manusia.
Berbeda dengan dosa kepada Allah Swt yang bisa dihapus melalui tobat dan istigfar, dosa terhadap sesama tidak cukup hanya dengan memohon ampun kepada-nya.
Penyelesaiannya harus melalui permintaan maaf secara langsung kepada orang yang telah digunjing atau disakiti hatinya.
Satu-satunya jalan untuk benar-benar membersihkan diri dari dosa ghibah adalah dengan mendatangi orang yang telah dibicarakan, mengakui kesalahan, dan meminta maaf dengan tulus.
Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri, bukan justru menambah beban dosa.
Itulah cobaan terberat selama ramadhan yang sering kali tidak disadari, ketika hati mulai lalai dan lisan tak lagi terjaga. Di tengah semangat beribadah, godaan untuk membicarakan orang lain bisa datang begitu saja tanpa terasa. (shr)
Baca juga: Contoh Mukadimah Nuzulul Quran 2026 yang Bisa Dijadikan Inspirasi
