Contoh Batuan Sedimen dan Pengertiannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terdapat beberapa contoh batuan sedimen. Batuan sedimen terbentuk akibat adanya proses pengendapan. Proses pembentukan batuan sedimen berawal dari adanya pemecahan batuan induk menjadi bagian-bagian yang ukurannya lebih kecil.
Pecahan batuan tersebut kemudian diangkut atau dipindahkan ke tempat lain oleh zat pengangkut. Zat pengangkut tersebut bisa tenaga air yang mengalir, angin, maupun gletser sampai pada akhirnya diendapkan di suatu tempat.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Batuan Sedimen
Sebelum mengetahui contoh batuan sedimen, ketahui pengertiannya terlebih dahulu. Berikut adalah pengertian batuan sedimen berdasarkan buku yang berjudul Batuan Sedimen dan Metamorf Sebuah Tinjauan Ilmiah, Rannsi Affandy, (2019:4).
Batuan sedimen merupakan jenis batuan yang muncul akibat pemadatan bahan-bahan yang terendapkan dalam bentuk materi yang tidak terikat. Batuan ini terbentuk melalui proses konsolidasi dari sedimen yang merupakan material yang diangkut ke tempat pengendapan oleh tenaga alam seperti air, angin, es, dan gerakan tanah.
Selain itu, batuan sedimen juga dapat dibentuk dari penguapan larutan yang mengandung kalsium karbonat, silika, garam, dan bahan lain. Menurut Tucker (1991), sekitar 70% dari total batuan di permukaan bumi adalah batuan sedimen, meskipun jumlahnya hanya menyumbang 2% dari keseluruhan volume kerak bumi. Hal ini menunjukkan bahwa batuan sedimen memiliki sebaran yang luas di permukaan, namun ketebalannya kurang signifikan.
Ketebalan batuan sedimen bervariasi dari 0 hingga 13 kilometer, tetapi hanya sekitar 2,2 kilometer yang ditemukan di area benua. Struktur yang lebih besar tidak terlihat, dan setiap ekspos memiliki ketebalan yang beragam, sementara ekspos yang biasa terlihat memiliki ketebalan sekitar 1,8 kilometer.
Di dasar laut, lapisan sedimen mengisi ruang dari satu pantai ke pantai lainnya. Ketebalan lapisan tersebut selalu berubah karena penambahan material dari waktu ke waktu, dan ketebalan ini bisa berkisar antara 0,2 kilometer hingga lebih dari 3 kilometer, dengan rata-rata ketebalan mencapai sekitar 1 kilometer.
Dibandingkan dengan batuan beku, batuan sedimen hanya menyusun bagian kecil dari kerak bumi. Batuan ini hanya mewakili 5% dari total batuan yang ada di kerak bumi. Dari persentase 5% tersebut, 80% terdiri dari batu lempung, 5% dari batu pasir, dan sekitar 80% dari batu kapur (Pettijohn, 1975).
Sedimen tidak hanya berasal dari daratan, tetapi juga dapat berasal dari akumulasi yang terjadi di tepi cekungan yang mengalami pengenduran oleh gaya gravitasi. Meskipun secara teori tidak ada erosi di bawah permukaan air, tetapi energi dari air, gelombang, dan arus bawah masih dapat mengikis terumbu karang, dan hasil pengikisan tersebut akan terendapkan di area sekitarnya.
Sebelum membahas bagaimana sedimen dipindahkan dan terdeposit dalam cekungan, ada baiknya memahami prinsip-prinsip yang terdapat dalam batuan sedimen. Prinsip-prinsip ini sangat beragam, termasuk prinsip uniformitarianisme. Hal utama dari prinsip ini adalah bahwa proses geologi yang berlangsung saat ini juga terjadi di masa lalu.
Prinsip tersebut diajukan oleh Charles Lyell pada tahun 1830. Dengan menerapkan prinsip ini dalam mempelajari proses geologi saat ini, kita dapat memperkirakan beberapa aspek seperti kecepatan sedimentasi, laju pemadatan sedimen, dan juga memprediksi bentuk geologi yang terbentuk melalui proses geologi tertentu.
Lapisan horizontal pada batuan sedimen disebut sebagai bedding. Bedding ini terbentuk akibat pengendapan partikel yang dibawa oleh air atau angin. istilah sedimen berasal dari bahasa Latin "sedimentum" yang berarti endapan. Batas antar lapisan dalam batuan sedimen adalah bidang lemah di mana batu dapat mengalami keretakan dan cairan dapat mengalir.
Selama tidak terjadi perubahan atau pembalikan susunan lapisan, maka lapisan yang paling muda akan berada di bagian atas dan yang tertua di bawah. Prinsip ini dikenal sebagai prinsip superposisi. Susunan ini menjadi dasar bagi skala waktu stratigrafi atau waktu pengendapan. Observasi pertama mengenai fenomena ini dilakukan oleh Nicolaus Steno pada tahun 1669.
Contoh Batuan Sedimen
Inilah contoh batuan sedimen berdasarkan buku yang berjudul Geografi: Membuka Cakrawala Dunia, Bambang Utoyo, halaman 41.
Beberapa contoh jenis batuan sedimen antara lain breksi, konglomerat, batu gamping (kapur), batu pasir, lanau, batu bara, dan rijang. Secara umum, batuan sedimen bisa dikategorikan berdasarkan cara terbentuknya, kekuatan yang mengendapkannya, serta lokasi terjadinya pengendapan batu tersebut.
1. Berdasarkan Cara Pengendapan
Dilihat dari metode pengendapannya, batuan sedimen dibagi menjadi dua tipe, yaitu sebagai berikut.
Mengendap secara mekanis. Tipe sedimen ini dikenal sebagai endapan klastik. Berdasarkan ukuran butiran yang terdapat, sedimen klastik terbagi atas dua kategori, yaitu sebagai berikut.
a. Butiran kasar, biasanya terdeposit di area daratan, sungai, atau danau. Contoh dari jenis ini meliputi breksi, konglomerat, dan batu pasir.
b. Butiran halus, umumnya ditemukan di lingkungan laut. Contohnya termasuk batu lempung, lanau, serpih, dan napal.
Mengendap akibat pelarutan. Proses ini dibagi menjadi langsung dan tidak langsung.
a. Proses langsung. Karena adanya kombinasi elemen lain, batuan dapat larut dan secara cepat mengendap membentuk batuan baru. Salah satu contohnya adalah batuan sedimen evaporit. Batuan ini terbentuk dari penguapan larutan yang mengandung komponen dari batuan tersebut. Beberapa syarat untuk pembentukan batuan evaporit di antaranya adalah sebagai berikut.
(a) Tersedianya area perairan dengan larutan kimia yang cukup pekat, seperti larutan garam.
(b) Area perairan tersebut harus berupa waduk yang tertutup, seperti danau atau laut yang terisolasi (laut pedalaman benua). Proses penguapan ini akan meningkatkan konsentrasi unsur-unsur dalam larutan.
(c) Tingkat penguapan yang sangat tinggi sehingga membentuk endapan dalam jumlah besar menjadi batuan sedimen evaporit. Contoh batuan sedimen evaporit meliputi gips, anhidrit, dan batu garam.
b. Proses tidak langsung. Pembentukan batuan baru melalui waktu yang cukup lama dan pengaruh dari bahan organik. Salah satu contohnya adalah sedimen batubara. Batubara merupakan jenis batuan sedimen yang berasal dari bahan organik berupa sisa tumbuhan, terutama pakis.
Setelah tumbuhan mati, bagian-bagiannya tidak langsung membusuk. Dengan tekanan dan suhu tinggi selama jangka waktu yang lama, sisa tumbuhan itu menjadi endapan batubara.
2. Berdasarkan Tenaga Pengendapan
Dari segi kekuatan yang mengendapkan, batuan sedimen dapat diklasifikasikan menjadi empat tipe, yaitu sebagai berikut.
Endapan aeolis atau aeris. Proses pengendapan materi batuan terjadi dengan bantuan angin, contohnya barchan.
Endapan aquatis. Proses pengendapan materi batuan terjadi melalui pengaruh air, contohnya delta.
Endapan glasial. Proses penumpukan materi batuan yang terjadi berkat energi es. Proses ini hanya ditemukan di daerah pegunungan tinggi. Contoh yang paling nyata adalah gletser.
Gletser bergerak dengan sangat lambat karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi, sehingga menghasilkan kekuatan besar yang cukup untuk mengikis permukaan tanah. Dampak pengikisan oleh gletser dapat terlihat dari pola gerakannya, yang menciptakan jalur lebar berbentuk huruf V, serta menciptakan cekungan dalam yang disebut cirques, dan mengubah seluruh area yang dilaluinya.
Gletser juga mengangkut material batuan dalam jumlah besar yang dihancurkan oleh es dari pegunungan dan mengendapkan material tersebut dalam bentuk besar yang dikenal sebagai morain.
Endapan marine. Proses pengendapan batuan terjadi dengan bantuan ombak laut. Air laut yang mencapai pantai membawa berbagai material hasil pengikisan yang terjadi akibat gelombang. Material ini kemudian terendapkan di daratan, membentuk area baru, seperti gosong pasir.
3. Berdasarkan Lokasi Pengendapan
Berdasarkan lokasi mengendap, batuan sedimen dikategorikan menjadi lima tipe, sebagai berikut.
Sedimen terencentri. Tipe batuan sedimen ini terbentuk di daratan dan dipengaruhi oleh kekuatan air, es, serta angin. Proses ini dapat menciptakan bentuk lahan baru.
Sedimen laut. Ini adalah tipe batuan sedimen yang terbentuk di dalam laut, biasanya kaya akan mineral karbonat (kapur). Formasi ini berasal dari sisa-sisa cangkang organisme laut, seperti moluska, alga, dan foraminifera. Batuan karbonat terbentuk di area laut yang dangkal. Contoh dari sedimen karbonat meliputi batu kapur, dolomit, dan kalkarenit.
Sedimen limni. Batuan sedimen ini terbentuk di danau atau rawa, yang mengandung banyak unsur organik.
Sedimen aliran sungai. Tipe batuan sedimen ini ditemukan di daerah sekitar sungai dan merupakan hasil dari proses pengendapan yang dilakukan oleh aliran air sungai. Sedimen aliran sungai sering dijumpai di bagian hilir atau muara sungai, di mana laju aliran air sudah berkurang, contohnya delta.
Sedimen glasial. Ini adalah batuan sedimen yang diendapkan pada ujung proses sebuah massa es. Salah satu contohnya adalah iceberg. Iceberg adalah potongan es besar di ujung gletser yang mengapung di laut. Es yang terpisah disebut sebagai pemahatan. Fenomena ini sering terjadi ketika gelombang laut menggerakkan lapisan es naik atau turun, terutama pada musim panas, ketika bongkahan es mulai melemah.
Baca juga: Apa Itu Air Keras? Ini Pengertian dan Bahayanya
Penjelasan mengenai contoh batuan sedimen dapat memperluas pengetahuan pembaca tentang batuan sedimen. (Adm)
