Contoh Garam, Pengertian, Ciri, dan Jenis-jenisnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahukah Anda bahwa garam dapur merupakan salah satu contoh garam? Ya, dalam materi pembelajaran Kimia, garam diartikan sebagai suatu zat. Lantas, apa yang dimaksud dengan garam?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “garam” dalam ilmu kimia didefinisikan sebagai hasil reaksi asam dengan basa, yaitu satu atau lebih atom hidrogen pada asam diganti oleh satu atau lebih kation suatu basa.
Garam yang paling umum dan banyak digunakan di masyarakat ialah garam NaCl, berupa padatan kristal berwarna putih yang diperoleh dari hasil penguapan air laut (berasal dari larutan garam yang bercampur dengan air laut dan mineral lainnya).
Dalam ilmu kimia, garam ialah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif (kation) dan ion negatif (anion), sehingga membentuk senyawa netral (tanpa bermuatan). Agar lebih memahaminya, simak ciri-ciri dan jenis garam berikut ini.
Ciri-Ciri Garam
Mengutip dalam buku Mudah dan Aktif Belajar Kimia milik Yayan Suryana, ciri-ciri garam adalah sebagai berikut:
Larutan garam dapat menghantarkan listrik.
Garam memiliki titik didih dan titik leleh yang tinggi.
Umumnya garam dapat larut dalam air.
Garam berwujud padatan kristal.
Garam dapat bersifat asam, basa, atau netral. Sifat tersebut tergantung pada zat pembentukannya.
Berbagai jenis larutan garam juga bisa memiliki pH yang berbeda-beda. Pertanyaannya, mengapa pH-nya bisa berbeda-beda? Hal ini terjadi akibat adanya hidrolisis.
Hidrolisis adalah bereaksinya ion dari sisa basa lemah atau asam lemah dengan air. Oleh sebab itu, pH masing-masing larutan tergantung dari sifat senyawa yang terlarut dalam airnya.
Dalam hidrolisis garam terdapat tiga klasifikasi hidrolisis, yaitu hidrolisis sempurna (hidrolisis total), hidrolisis sebagian (hidrolisis parsial), dan tidak terhidrolisis.
Sebagai informasi tambahan, garam dari asam lemah dan basa lemah atau terjadinya reaksi garam yang terhidrolisis sempurna, bergantung pada nilai Ka dan Kb. Berikut ketentuan dari Ka dan Kb pada garam terhidrolisis sempurna:
Ka = Kb, maka garam bersifat netral
Ka > Kb, maka garam bersifat asam
Ka < Kb, maka garam bersifat basa
Macam-Macam Garam
Menurut buku IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) karangan Djoko Arisworo, jenis-jenis garam berdasarkan asam dan basa pembentuknya, dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
1. Garam dari Asam Kuat dan Basa Kuat
Garam dari asam kuat dan basa kuat, misalnya garam natrium klorida (NaCI). NaCI terionisasi sempurna dalam air menurut persamaan reaksi berikut:
NaCI(aq) ↔ Na+(aq) + Cl–(aq)
Selanjutnya, air akan terionisasi menurut reaksi berikut:
H2O(ℓ) ↔ H+(aq) + OH–(aq)
Ion Na+ dari garam NaCI berasal dari basa kuat NaOH, sehingga tidak dapat bereaksi dengan ion OH– dari air. Sementara itu, ion Cl– dari garam NaCI berasal dari asam kuat (HCI), sehingga tidak dapat bereaksi dengan ion H+ dari air.
Oleh sebab itu, garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat tidak bereaksi dengan air atau tidak terhidrolisis. Harga [H+] dan [OH–] dalam air tidak berubah dengan adanya garam, sehingga pH tetap sama dengan pH air murni (pH = 7). Larutan garam ini bersifat netral.
2. Garam dari Asam Lemah dan Basa Kuat
Garam dari asam lemah dan basa kuat, contohnya garam natrium asetat (CH3COONa). CH3COONa di dalam air akan terionisasi menurut persamaan reaksi berikut:
CH3COO-Na(aq) → CH3COO–(aq) + Na+(aq)
Sementara itu, air akan terionisasi menurut reaksi berikut:
H20(ℓ)↔H+(aq) + OH–(aq)
Ion CH3COO– dari garam CH3COONa berasal dari asam lemah CH3COOH, sehingga bereaksi dengan ion H+ dari air.
CH3COO–(aq) + H2O (ℓ) →CH3COOH (aq) + OH–(aq)
3. Garam dari Asam Kuat dan Basa Lemah
Garam dari asam kuat dan basa lemah, contohnya garam amonium klorida (NH4CI). NH4CI terionisasi di dalam air menurut persamaan reaksi berikut:
NH4CI(aq) → NH+4(aq) + Cl–(aq)
Air akan terionisasi menurut reaksi berikut:
H2O(ℓ) H+(aq) + OH–(aq)
Ion NH+4 dari garam NH4CI berasal dari basa lemah NH4OH, sehingga bereaksi dengan ion OH– dari air menurut reaksi berikut:
NH+4 (aq) + H2O(ℓ) → NH4OH(aq) + H+(aq)
4. Garam dari Asam Lemah dan Basa Lemah
Garam dari asam lemah dan basa lemah, misalnya garam amonium sianida (NH4CN). NH4CN terionisasi di dalam air menurut reaksi berikut:
NH4CN(ag) → NH+4(aq) + CN–(aq)
Air akan terionisasi menurut reaksi berikut:
H2O(ℓ) ↔ H+(aq) + OH–(aq)
Ion NH+4 dari garam NH4CN berasal dari basa lemah NH4OH, sehingga akan bereaksi dengan ion OH– dari air menurut reaksi berikut:
NH+4(aq) + H2O(ℓ) → NH4OH(aq) + H+(aq)
Ion CN– dari garam NH4CN berasal dari asam lemah HCN, sehingga akan bereaksi dengan ion H+ dari air menurut reaksi berikut:
CN–(aq) +H2O (ℓ) → HCN (aq) + OH–(aq)
Contoh Garam
Baik kation maupun anion dapat terhidrolisis dalam air. Larutan garam ini dapat bersifat asam, basa, maupun netral. Hal ini bergantung dari perbandingan kekuatan kation terhadap anion dalam reaksi dengan air.
Memperjelas materi yang sebelumnya telah dijabarkan, contoh garam yang mengalami hidrolisis total atau sempurna adalah garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah.
Contoh reaksinya sebagai berikut, suatu asam lemah HCN dicampur dengan basa lemah, NH 3 akan terbentuk garam NH 4 CN. HCN terionisasi sebagian dalam air membentuk H + dan CN –.
Sementara itu, NH 3 dalam air terionisasi sebagian membentuk NH4+ dan OH-. Anion basa CN – dan kation asam NH 4 + dapat terhidrolisis di dalam air. Sederhananya, reaksinya digambarkan sebagai berikut:
NH 4 CN (aq) → NH 4 + (aq) + CN – (aq)
NH 4 + (aq) + H 2 O → NH 3(aq) + H 3 O (aq) +
CN – (aq) + H 2 O (e) → HCN (aq) + OH – (aq)
Adapun contoh garam yang tidak terhidrolisis adalah garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat. Pelarutan garam ini tidak akan mengubah jumlah [H+] dan [OH-] dalam air, sehingga larutannya bersifat netral (pH=7). Contohnya, yaitu garam NaCl.
Di dalam air, NaCl terion sempurna membentuk ion Na+ dan Cl- dengan reaksi berikut:
NaCl(aq) Na+(aq) + Cl-(aq)
Ion Na+ berasal dari asam kuat dan ion Cl- berasal dari basa kuat, sehingga keduanya tidak bereaksi dengan air.
Na+(aq) + H2O(l) (tidak ada reaksi)
Cl-(aq) + H2O(l) (tidak ada reaksi)
Oleh sebab itu, larutan tetap bersifat netral (pH=7).
Sifat garam tergantung pada asam dan basa pembentuknya. Garam yang berasal dari reaksi antara asam dan basa dapat bersifat asam, basa, ataupun netral.
Menghimpun dalam buku Cerdas Belajar Kimia karya Nana Sutresna, berikut contoh garam yang diukur berdasarkan kadar pH-nya.
Garam yang bersifat asam memiliki pH < 7, yaitu berasal dari reaksi antara asam kuat dan basa lemah. Contohnya seperti NH4Cl (amonium klorida/salmoniak) dan NH4NO3 (amonium nitrat).
Garam yang bersifat basa memiliki pH > 7, yaitu berasal dari reaksi antara asam lemah dan basa kuat. Contoh garam yang bersifat basa adalah KNO2 (kalium nitrit), NaHCO3 (natrium bikarbonat/soda kue), NaCH3COO (natrium asetat), KCN (kalium sianida/potas), dan KF (kalium fosfat).
Garam yang bersifat netral memiliki pH = 7, yaitu berasal dari asam kuat dan basa kuat. Contohnya adalah NaCl (natrium klorida), KI (kalium iodida), dan KNO3 (kalium nitrat).
(VIO)
Frequently Asked Question Section
Larutan garam bersifat apa?

Larutan garam bersifat apa?
Garam dapat bersifat asam, basa, atau netral. Sifat tersebut tergantung pada zat pembentukannya.
Apa ciri-ciri garam?

Apa ciri-ciri garam?
Ciri-ciri garam adalah larutan garam dapat menghantarkan listrik, memiliki titik didih dan titik leleh yang tinggi, umumnya dapat larut dalam air, berwujud padatan kristal, dan bersifat asam, basa, atau netral.
Garam sumber apa?

Garam sumber apa?
Garam yang paling umum dan banyak digunakan di masyarakat ialah garam NaCl, berupa padatan kristal berwarna putih yang diperoleh dari hasil penguapan air laut (berasal dari larutan garam yang bercampur dengan air laut dan mineral lainnya).
