Crocodile Tears Film Tentang Apa? Cek Sinopsis Lengkapnya di Sini

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Crocodile Tears merupakan film Indonesia yang lebih dulu berkeliling festival internasional. Menjelang penayangannya di bioskop, banyak penonton penasaran dan bertanya-tanya, “rocodile Tears film tentang apa?
Disutradarai oleh Tumpal Tampubolon, film ini telah diputar di lebih dari 30 festival dunia, termasuk pemutaran perdana di Toronto International Film Festival 2024 dan Busan International Film Festival 2024.
Debut Sutradara Tumpal Tampubolon, Crocodile Tears Film Tentang Apa?
Crocodile Tears film tentang apa? Mengutip situs https://rri.co.id/, Crocodile Tears menjadi debut film panjang sutradara Tumpal Tampubolon yang akhirnya tayang reguler di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026.
Film ini langsung menarik perhatian karena menghadirkan drama psikologis dengan nuansa intim, sunyi, sekaligus menegangkan lewat hubungan ibu dan anak yang perlahan berubah menjadi penuh tekanan emosional.
Cerita film berpusat pada Johan, seorang pemuda yang hidup terisolasi bersama ibunya di sebuah peternakan buaya tua di wilayah terpencil.
Sejak kecil, dunia Johan hanya berkisar pada peternakan tersebut dan rutinitas membantu sang ibu merawat buaya tanpa banyak bersentuhan dengan kehidupan luar.
Situasi mulai berubah ketika Johan bertemu Arumi dan merasakan cinta pertamanya. Kehadiran Arumi membuat Johan mulai mempertanyakan hidup yang selama ini dijalaninya dan memunculkan keinginan untuk mengenal dunia di luar peternakan.
Sayangnya, hubungan itu justru memicu konflik baru. Sang ibu yang selama ini sangat protektif perlahan menunjukkan sikap obsesif dan sulit menerima kenyataan bahwa anaknya mulai ingin hidup mandiri.
Ketegangan emosional di antara para karakter berkembang menjadi konflik psikologis yang semakin intens.
Film ini tidak hanya membahas cinta keluarga, tetapi juga memperlihatkan bagaimana rasa sayang yang berlebihan dapat berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan dan menakutkan.
Film ini dibintangi Yusuf Mahardika sebagai Johan, Zulfa Maharani sebagai Arumi, dan Marissa Anita sebagai sang ibu. Ketiganya tampil dengan pendekatan akting yang cenderung minimalis namun tetap mampu menghadirkan emosi yang kuat sepanjang cerita.
Secara visual, latar peternakan buaya menjadi simbol penting dalam film ini. Suasana terpencil, sunyi, dan penuh keterasingan memperkuat gambaran hubungan yang terkunci dalam trauma serta kontrol emosional.
Unsur realisme magis dan teror psikologis juga terasa kental, membuat penonton ikut masuk ke dalam atmosfer yang perlahan terasa tidak nyaman sekaligus menghantui.
Sebelum tayang di bioskop Indonesia, Crocodile Tears sudah lebih dulu menjalani pemutaran di berbagai festival besar dunia.
Film ini melakukan world premiere di Toronto International Film Festival lalu melanjutkan perjalanan ke Busan International Film Festival, BFI London Film Festival, Torino Film Festival, hingga Red Sea International Film Festival.
Di Indonesia sendiri, film ini juga sempat diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival dan Jakarta Film Week dengan respons positif dari penonton festival.
Tak hanya mendapat apresiasi internasional, film produksi Mandy Marahimin ini juga berhasil masuk dalam beberapa nominasi Festival Film Indonesia, termasuk kategori Film Terbaik.
Pencapaian tersebut semakin memperkuat posisi Crocodile Tears sebagai salah satu film Indonesia yang paling dinantikan tahun ini.
Dengan pendekatan cerita yang personal, atmosfer yang kuat, dan konflik emosional yang terasa dekat dengan realitas manusia, Crocodile Tears menawarkan pengalaman menonton yang reflektif sekaligus mengganggu secara psikologis.
Film ini menjadi bukti bahwa drama keluarga sederhana bisa berkembang menjadi kisah yang intens dan membekas lama setelah film selesai ditonton. (Fikah)
Baca juga: Agak Laen 3 Kapan Tayang? Cari Tahu Info Detailnya di Sini
