Konten dari Pengguna

Dampak Selat Hormuz Ditutup bagi Ekonomi dan Energi

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dampak Selat Hormuz ditutup. Foto: Unsplash.com/Josh Berendes
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dampak Selat Hormuz ditutup. Foto: Unsplash.com/Josh Berendes

Dampak Selat Hormuz ditutup menjadi perhatian serius karena jalur ini menghubungkan pusat produksi energi Timur Tengah dengan pasar global utama.

Ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dan gas dunia.

Perubahan kecil pada arus pelayaran di wilayah itu berpotensi memicu reaksi berantai pada harga komoditas dan kondisi ekonomi internasional.

Dampak Selat Hormuz Ditutup

Ilustrasi dampak Selat Hormuz ditutup. Foto: Unsplash.com/Matic

Dikutip dari aljazeera.com, berikut adalah dampak Selat Hormuz ditutup terhadap pasar energi, jalur perdagangan, serta stabilitas ekonomi global secara menyeluruh.

Strait of Hormuz terletak di antara Iran di satu sisi dan Oman serta Uni Emirat Arab di sisi lain. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Lebarnya sekitar 33 kilometer pada titik tersempit, sementara jalur pelayaran efektif hanya sekitar tiga kilometer di masing-masing arah. Kondisi geografis tersebut menjadikan kawasan ini sangat strategis sekaligus rentan terhadap gangguan militer.

Sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi selat ini berdasarkan data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat pada 2024. Volume tersebut setara dengan sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak global melalui jalur laut.

Selain minyak mentah, hampir seperlima perdagangan gas alam cair dunia juga melewati koridor yang sama, dengan Qatar sebagai eksportir utama.

Penutupan total akan langsung menghentikan aliran energi dari Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar menuju pasar internasional.

Lonjakan harga minyak menjadi konsekuensi paling cepat terasa. Pernyataan analis menunjukkan bahwa penutupan dapat mendorong harga minyak melonjak tajam dalam waktu singkat.

Kenaikan tidak hanya terjadi karena gangguan fisik distribusi, melainkan juga faktor psikologis pasar yang merespons risiko geopolitik.

Harga minyak yang menembus 100 dolar Amerika Serikat per barel berpotensi menambah tekanan inflasi global hingga sekitar 0,6 hingga 0,7 persen jika bertahan dalam periode tertentu.

Gangguan pelayaran juga telah terlihat melalui peningkatan jumlah kapal tanker yang berhenti di perairan terbuka sekitar Teluk Oman dan Teluk Persia. Setidaknya 150 kapal tanker dilaporkan menunda perjalanan akibat risiko keamanan.

Aktivitas militer signifikan di kawasan tersebut memperbesar ketidakpastian asuransi maritim serta biaya logistik. Negara seperti Yunani bahkan mengimbau kapal berbendera nasional untuk menghindari lintasan tersebut sementara waktu.

Asia menjadi kawasan yang paling terdampak karena sekitar 84 persen ekspor minyak yang melewati selat ditujukan ke pasar Asia.

China, India, Jepang, dan Korea Selatan menyerap sekitar 69 persen dari total aliran minyak dan kondensat yang melalui jalur tersebut.

Ketergantungan tinggi sektor industri, transportasi, dan pembangkit listrik di negara-negara tersebut membuat potensi gangguan pasokan berdampak langsung pada biaya produksi dan harga energi domestik.

Dampak lanjutan merembet ke sektor non-energi. Biaya bahan bakar yang meningkat akan menaikkan ongkos transportasi dan distribusi barang. Tekanan inflasi dapat memaksa bank sentral menahan atau memperlambat kebijakan pelonggaran moneter.

Negara berkembang cenderung lebih sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas sehingga risiko perlambatan ekonomi menjadi lebih besar dalam jangka menengah.

Dampak Selat Hormuz ditutup tidak hanya berkaitan dengan gangguan fisik pasokan energi, tetapi juga menyentuh stabilitas keuangan global.

Ketidakpastian berkepanjangan di jalur vital ini berpotensi memperpanjang volatilitas harga dan mempersempit ruang kebijakan ekonomi banyak negara. (Shofia)

Baca Juga: Selat Hormuz adalah Apa? Simak Penjelasannya di Sini