Disleksia pada Anak: Definisi, Gejala, dan Penyebabnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah disleksia bagi sebagian orang mungkin terdengar asing. Umumnya, kata tersebut mengacu pada ketidakmampuan individu dalam mengenal huruf dan suku kata dalam bentuk tertulis. Melansir laman Healthline, para peneliti memperkirakan bahwa disleksia dapat ditemukan pada 15 hingga 20 persen populasi sampai tingkat tertentu.
Inilah mengapa, penting bagi siapa pun untuk memahami istilah yang satu ini. Terkhusus bagi orang tua dengan anak yang mulai memasuki usia sekolah. Sebab di usia itu, anak mulai menunjukkan kemampuan belajar seperti cara membaca, menulis, dan mengeja.
Pada rentang usia sekolah, orang tua dapat memperhatikan tingkat kemampuan anak dalam proses belajarnya. Sebab, tak jarang anak mengalami kesulitan belajar yang berpotensi merujuk pada disleksia.
Apa Itu Disleksia?
Apa yang dimaksud dengan disleksia? Menurut Jovita Maria Ferliana dalam buku Living with Dyslexia yang disusun oleh Lissa Weinstein, disleksia erat kaitanya dengan gangguan proses belajar seperti ketidakmampuan dalam membaca, mengeja kata, hingga kemampuan menulis.
Menurut sumber yang sama, gangguan ini terjadi pada 5 hingga 10 persen anak di dunia. Umumnya, penderita mengalami kesulitan dalam membedakan bunyi fonetik dalam sebuah kata.
Mereka mampu menangkap kata-kata melalui indra pendengarnya. Akan tetapi, apabila kata tersebut dituangkan dalam media tulis, mereka akan kesulitan dalam menuliskannya. Secara tak langsung pula, penderita disleksia mengalami kesusahan dalam menuliskan sebuah kalimat panjang secara akurat.
Sederhananya, penderita gangguan proses belajar ini mengalami masalah dalam mengidentifikasi sebuah kata yang diucapkan menjadi bentuk huruf, kalimat, dan sebaliknya.
Dalam buku Disleksia: Deteksi, Diagnosis, Penanganan di Sekolah dan di Rumah yang disusun oleh Endang Widyorini dan Julia maria van Tiel, secara umum, terdapat dua subtipe disleksia, di antaranya:
Disleksia auditori yang menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan dalam membedakan suara, keruntutan auditori, dan ingatan bersambung maupun kesadaran fonologis.
Disleksia visual yang menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan yang berkaitan dengan kemampuan visual, seperti ingatan visual, keruntutan visual, dan mengenali kata secara cepat.
Sebuah riset mengungkapkan sekitar 60 persen dari total sampel mengalami disleksia auditori. Sementara penderita disleksia visual tercatat hanya 10 persen. Sedangkan 20 persen lainnya merupakan kombinasi dari penderita disleksia visual dan auditori, dan 10 persen lainnya tak dapat ditentukan.
Gejala Disleksia
Karena disleksia termasuk ke dalam gangguan proses belajar, tentu memunculkan pertanyaan, “berapa IQ anak disleksia?”. Perlu diketahui bahwa anak yang menderita disleksia memiliki kemampuan normal layaknya anak pada umumnya. Hanya saja yang membedakan yakni kemampuan dalam membaca atau menulis.
Widyorini dan van Tiel dalam sumber yang sama mengungkapkan bahwa disleksia tak memiliki korelasi dengan tingkat intelegensi para penderitanya. Sebab, kriteria ‘tingkat kepintaran’ pada gejala gangguan Specific Learning Disorder tersebut sudah tak digunakan lagi.
Bahkan pada beberapa kasus di luar kemampuan membaca, penderita disleksia memiliki kemampuan dan kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan anak normal pada umumnya.
Anak dengan gangguan disleksia umumnya memiliki IQ rata-rata 90 hingga 110. Artinya, kemampuan pada anak yang menderita disleksia masih optimal. Lantas, apa ciri-ciri anak disleksia? Berikut masing-masing uraiannya.
Mendeteksi Disleksia pada Anak
Mengidentifikasi anak dengan gangguan disleksia sebenarnya cukup mudah dilakukan saat anak menginjak usia prasekolah. Menurut buku Disleksia: Deteksi, Diagnosis, Penanganan di Sekolah dan di Rumah, berikut karakteristik disleksia pada anak:
Terdapat keterlambatan dalam berbicara dan berbahasa.
Adanya hambatan saat mempelajari tugas sederhana yang melibatkan keruntutan aktivitas. Misalnya, mengingat instruksi secara runtut atau meniru bentuk yang tersusun dari manik-manik berwarna.
Mengalami kendala dalam memusatkan perhatian.
Ketidakmampuan dalam mengulang beberapa angka secara runtut, kesulitan dalam belajar sajak, dan dalam perkembangan bahasa.
Sementara itu, dalam buku Living with Dyslexia, kekurangan penderita gangguan belajar dalam aspek membaca dapat diketahui melalui beberapa hal berikut:
Kecepatan membaca cukup lamban dan terkesan tidak yakin dengan yang diucapkan.
Melewatkan beberapa suku kata, kata, frasa, bahkan beberapa baris dalam teks yang dibaca hingga membolak-balikkan susunan huruf atau suku kata dengan memasukkan huruf lainnya.
Terdapat kesalahan dalam melafalkan kata meski kata tersebut sering diucapkan.
Membuat kata-kata sendiri yang tak memiliki arti.
Menambahkan kata atau frasa yang tak terdapat pada teks yang sedang dibaca.
Sedangkan dalam aspek menulis, penderita disleksia menunjukkan beberapa tindakan berikut:
Menuliskan huruf dengan urutan yang salah dalam sebuah kata.
Melewatkan sejumlah huruf dalam kata yang akan dituliskan.
Mengganti sebuah huruf dengan huruf lainnya, sekalipun bunyi huruf tersebut tak sama.
Mengabaikan tanda baca pada teks yang sedang dibaca.
Menuliskan sederet huruf yang tak berhubungan dengan bunyi kata yang ingin ditulis.
Penyebab Disleksia
Mengutip Healthline, meski penyebab disleksia belum diketahui secara pasti, akan tetapi terdapat perbedaan neurologis pada penderita gangguan belajar yang satu ini. Sebuah studi menemukan bahwa corpus callosum pada penderita disleksia memiliki perbedaan dengan individu pada umumnya.
Di samping itu, otak bagian kiri pada penderita disleksia juga berpotensi memiliki perbedaan dengan orang pada umumnya. Akan tetapi, perbedaan tersebut belum jelas terbukti sebagai penyebab disleksia.
Para ahli telah mengidentifikasi beberapa gen yang terhubung dengan perbedaan otak tersebut. Mereka menyebutkan bahwa disleksia dapat disebabkan oleh faktor genetik. Sebab, sebuah riset menunjukkan bahwa anak dengan disleksia rata-rata memiliki orang tua dengan gangguan yang sama.
Lalu, apakah disleksia bahaya? Berdasarkan uraian di atas, disleksia bukanlah gangguan yang berbahaya. Meski tak dapat disembuhkan, gangguan tersebut dapat dideteksi dan ditangani melalui beberapa tindakan khusus yang dapat meningkatkan kemampuan belajar seperti membaca dan menulis.
Maka dari itu, penting bagi lingkungan sekitar, terutama orang tua dan guru untuk memberikan bimbingan sekaligus dukungan secara intens bagi penderita disleksia.
(ANM)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan disleksia?

Apa yang dimaksud dengan disleksia?
Gangguan proses belajar seperti ketidakmampuan dalam membaca, mengeja kata, hingga kemampuan menulis.
Apa ciri-ciri anak disleksia?

Apa ciri-ciri anak disleksia?
Terlambat dalam berbicara dan berbahasa, memiliki hambatan saat mempelajari tugas sederhana yang melibatkan keruntutan aktivitas, mengalami kendala dalam memusatkan perhatian, ketidakmampuan mengulang beberapa angka secara runtut, kesulitan dalam belajar sajak serta perkembangan bahasa.
Berapa IQ anak disleksia?

Berapa IQ anak disleksia?
Anak dengan gangguan disleksia umumnya memiliki IQ rata-rata 90 hingga 110. Meski begitu, disleksia tak memiliki korelasi dengan tingkat intelegensi penderitanya.
