Konten dari Pengguna

Faktor Penghambat Asimilasi: Fanatisme hingga Superioritas

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Faktor penghambat asimilasi, salah satunya adalah fanatisme. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Faktor penghambat asimilasi, salah satunya adalah fanatisme. Foto: Unsplash

Fenomena asimilasi yang terjadi di lingkungan masyarakat memang didorong oleh beberapa faktor. Namun di balik itu, ada juga faktor penghambat asimilasi yang jarang diketahui.

Mengutip buku IPS Terpadu yang ditulis oleh Nana Supriatna, Mamat Ruhimat, dan Kosim, asimilasi adalah proses sosial yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan yang terdapat dalam individu maupun kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Faktor pendorong yang membuat proses asimilasi ini bisa berkembang di masyarakat adalah:

  • Sikap toleransi

  • Keseimbangan dalam bidang ekonomi

  • Sikap menghargai dan bersimpati

  • Sikap terbuka dari golongan berkuasa di masyarakat

  • Adanya perkawinan campuran (amalgamasi)

Terjadinya proses asimilasi ini sebetulnya membawa banyak manfaat, salah satunya adalah dapat menghilangkan perbedaan yang ada di dalam kehidupan masyarakat.

Lebih lanjut, proses asimilasi ini juga mampu membatasi hak dan tanggung jawab warga secara proporsional.

Contoh Asimilasi

Salah satu contoh asimilasi adalah perayaan Hari Valentine. Foto: Unsplash

Mengutip buku Komunikasi Antar Budaya: Panduan Komunikasi Efektif antar Manusi Berbeda Budaya karya Dr. Ade Tuti Turistiati, dkk, contoh asimilasi yang terjadi di lingkungan masyarakat adalah perayaan Valentine Day di Indonesia setiap 14 Februari.

Seperti yang diketahui, Hari Valentine bukanlah kebudayaan Indonesia, namun banyak orang Indonesia yang berbondong-bondong merayakannya.

Hal ini juga berlaku pada Hari Halloween di setiap tanggal 31 Oktober. Sama dengan Valentine, Halloween bukanlah budaya yang biasanya dirayakan oleh rakyat Indonesia.

Sebetulnya, asimilasi memang tidak bisa dipandang positif ataupun negatif. Namun sebetulnya, hal tersebut tergantung dari bagaimana masyarakat bisa menerima proses asimilasi itu.

Faktor Penghambat Asimilasi

Meski fenomena asimilasi memiliki faktor pendorong yang cukup baik, ternyata ada juga beberapa faktor penghambat yang membuat asimilasi tidak bisa merata.

Mengutip buku Antropologi: Mengungkap Keragaman Budaya karya Tedi Sutardi, berikut adalah faktor penghambat asimilasi, yakni:

1. Fanatisme dan prasangka

Fanatisme dan prasangka melahirkan sikap takut terhadap kebudayaan lain yang umumnya terjadi di antara masyarakat yang merasa rendah dalam menghadapi kebudayaan luar yang lebih tinggi.

2. Kurangnya pengetahuan kebudayaan

Kurangnya pengetahuan kebudayaan yang menyebabkan sikap toleransi dan simpati kurang berkembang di antara suku bangsa.

3. Perasaan superioritas

Perasaan superioritas yang besar pada individu-individu dari satu kebudayaan terhadap kebudayaan masyarakat lain. Contohnya, antara masyarakat kolonial dan masyarakat pribumi, sehingga integrasi yang terjalin antara yang menjajah dan yang dijajah tidak berkembang.

4. Terisolasinya kehidupan suatu golongan

Terisolasinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat yang akan berakibat pada tidak adanya kebebasan untuk bergaul dengan masyarakat luar.

5. Adanya in-group yang kuat

In-group feeling artinya suatu perasaan yang kuat sekali bahwa individu terikat pada kelompok dan budaya kelompok yang bersangkutan.

(JA)