Freedom dalam FOSS Menurut Richard Stallman dan Dampaknya pada Teknologi

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu freedom dalam FOSS menurut Richard Stallman adalah gagasan bahwa pengguna harus memiliki kendali penuh atas perangkat lunak yang mereka gunakan, bukan sekadar menjadi konsumen pasif dari produk digital.
Bagi Stallman, kebebasan ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut hak moral pengguna untuk mempelajari cara kerja program, memodifikasinya sesuai kebutuhan, hingga membagikannya kembali demi kemajuan bersama.
Empat pilar kebebasan yang ia rumuskan, kebebasan menjalankan, mempelajari, mendistribusikan, dan mengembangkan ulang perangkat lunak, menjadi fondasi gerakan Free Software yang kemudian mengguncang cara dunia memahami teknologi modern.
Freedom dalam FOSS Menurut Richard Stallman
Dikutip dari laman imilkom.usu.ac.id, salah satu freedom dalam FOSS menurut Richard Stallman adalah kebebasan untuk mempelajari dan mengubah source code, dan inilah yang menjadi dasar mengapa perangkat lunak bebas mampu tumbuh besar serta memberi dampak luas pada teknologi modern.
Kebebasan tersebut memungkinkan siapa pun melihat cara kerja sebuah perangkat lunak, memahami strukturnya, lalu ikut berkontribusi dalam pengembangannya.
Prinsip sederhana ini menjadi pondasi bagi gerakan perangkat lunak bebas yang kemudian membentuk ekosistem teknologi seperti yang dikenal saat ini.
Di tengah dominasi berbagai sistem operasi, data menunjukkan bahwa Android/Linux justru menjadi platform yang paling banyak digunakan.
Pangsa pasar Android, yang dibangun di atas kernel Linux, mencapai lebih dari 40 persen sejak 2020. Popularitas telepon pintar yang terus meningkat membuat posisi Android kian kuat, hingga pada pertengahan 2020 perangkat bergerak menjadi platform paling dominan secara global.
Selain itu, Linux juga memimpin di bidang superkomputer; sejak 2017 seluruh 500 superkomputer terkuat di dunia menjalankan distribusi Linux. Sekitar 80 persen server web pun memilih Linux sebagai tulang punggungnya.
FOSS, atau Free and Open-Source Software, bekerja dengan prinsip bahwa perangkat lunak dapat dibagikan secara gratis dan dikembangkan secara terbuka.
Seorang pengembang dapat merilis perangkat lunak lengkap dengan kode sumbernya, memungkinkan siapa saja memodifikasi atau menyempurnakannya.
Walau terlihat idealis, hasilnya terbukti nyata. Linux sendiri dimulai oleh Linus Torvalds pada 1991 sebagai proyek kecil saat ia masih kuliah. Tanpa disangka, kolaborasi ribuan kontributor menjadikannya salah satu sistem operasi paling berpengaruh.
GitHub kemudian menjadi ruang utama bagi kolaborasi tersebut. Platform ini menampung puluhan juta proyek open-source dan memudahkan pengembang di seluruh dunia untuk bekerja bersama.
Banyak perusahaan besar memanfaatkan FOSS dalam produk mereka karena sifatnya yang fleksibel dan hemat biaya.
Sebagian besar aplikasi modern menggunakan kode open-source, dan kontribusi ekonominya pun signifikan yaitu di Inggris, perangkat lunak open-source menyumbang puluhan miliar poundsterling terhadap PDB setiap tahun.
Meski memberi manfaat besar, terdapat tantangan di baliknya. Banyak proyek FOSS bergantung pada sukarelawan yang bekerja tanpa dukungan besar.
Namun, kekuatan komunitas membuat ekosistem ini tetap berjalan. Bagi yang sedang belajar pemrograman, FOSS membuka akses langsung untuk memahami cara perangkat lunak dibangun, berlatih secara nyata, dan terlibat dalam proyek global yang dapat memperkaya portofolio.
Dengan demikian, FOSS tidak hanya menjadi fondasi teknologi modern, tetapi juga ruang pembelajaran yang luas dan inklusif. (KIKI)
Baca juga: 2 Contoh Surat Pemberitahuan Libur Sekolah sebagai Referensi
