Konten dari Pengguna

Hakikat Manusia Menurut Pandangan Filsafat, Manfaat, dan Faktor Penjaganya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Jelaskan Hakikat Manusia Menurut Pandangan Filsafat, serta Uraikan Martabat Manusia dan Faktor yang Dapat Menjaganya. Foto: Unsplash/Dylan Gillis
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jelaskan Hakikat Manusia Menurut Pandangan Filsafat, serta Uraikan Martabat Manusia dan Faktor yang Dapat Menjaganya. Foto: Unsplash/Dylan Gillis

Jelaskan hakikat manusia menurut pandangan filsafat, serta uraikan martabat manusia dan faktor yang dapat menjaganya menjadi topik penting dalam memahami nilai dan kedudukan manusia di dunia.

Dalam filsafat, manusia dipandang bukan hanya sebagai makhluk biologis, tetapi juga sebagai makhluk rasional dan spiritual yang memiliki kesadaran, kebebasan, serta tanggung jawab moral.

Pemahaman ini membantu manusia untuk mengenali jati dirinya, memahami tujuan hidupnya, dan menempatkan diri secara benar dalam hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

Pengertian Hakikat Manusia Menurut Pandangan Filsafat, Manfaat, dan Faktor Penjaganya

Ilustrasi Jelaskan Hakikat Manusia Menurut Pandangan Filsafat, serta Uraikan Martabat Manusia dan Faktor yang Dapat Menjaganya. Foto: Unsplash/Redd Francisco

Jelaskan hakikat manusia menurut pandangan filsafat, serta uraikan martabat manusia dan faktor yang dapat menjaganya. Mengutip Jurnal Konsep Manusia Berdasarkan Tinjauan Filsafat (Telaah Aspek Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Manusia), Nursri Hayati, (2021:109-113), berikut adalah jawabannya.

Hakikat manusia menurut pandangan filsafat membahas siapa sebenarnya manusia, dari mana asalnya, dan untuk apa ia hidup. Dalam kajian filsafat, manusia dipahami melalui tiga aspek utama, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Ontologi menelaah hakikat keberadaan manusia, epistemologi membahas asal pengetahuan serta proses penciptaan manusia, sementara aksiologi meninjau nilai, manfaat, dan tujuan hidup.

Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang dianugerahi akal, jiwa, dan fitrah, sehingga diberi amanah sebagai khalifah fil ardh untuk memakmurkan bumi.

Filsafat memandang manusia sebagai makhluk rasional dan spiritual yang memiliki dua dimensi, yaitu jasmani dan rohani. Keistimewaan manusia terletak pada kemampuannya berpikir, berkehendak, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Martabat manusia dijaga melalui pendidikan, moralitas, dan ketakwaan yang menuntun perilaku sesuai nilai kebenaran. Sebagai hamba Tuhan, manusia ditugaskan untuk beribadah dan berbuat baik, sementara sebagai khalifah, manusia memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan kehidupan sosial.

Dengan memahami hakikat manusia secara filosofi, seseorang dapat mengenali jati dirinya dan menumbuhkan sikap hidup yang bermakna.

Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kebijaksanaan menjadi faktor penjaga martabat manusia supaya tetap sejalan dengan fitrah dan tujuan penciptaannya oleh Allah Swt.

Dari pembahasan mengenai jelaskan hakikat manusia menurut pandangan filsafat, serta uraikan martabat manusia dan faktor yang dapat menjaganya, dapat disimpulkan bahwa filsafat memberikan pandangan mendalam tentang eksistensi manusia.

Martabat manusia terletak pada kemampuannya untuk berpikir, berbuat baik, dan menghargai sesama sebagai sesama ciptaan Tuhan. Ketika manusia mampu menggunakan akalnya secara bijaksana, ia hidup dalam keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani. (Dista)

Baca Juga: Penyebab Munculnya Pembelajaran Digital dan Dampaknya di Dunia Pendidikan