Konten dari Pengguna

Hari Kunjung Perpustakaan 14 September 2026, Ini Sejarah Peringatannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Hari Kunjung Perpustakaan 14 September 2026, Foto: Unsplash/Susan Q Yin
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hari Kunjung Perpustakaan 14 September 2026, Foto: Unsplash/Susan Q Yin

Kalau biasanya ke perpustakaan hanya saat ada tugas, mungkin Hari Kunjung Perpustakaan 14 September 2026 bisa jadi pengingat untuk kembali melirik tempat yang satu ini karena perpustakaan punya peran penting sebagai ruang untuk belajar dan bertukar pengetahuan.

Menariknya, peringatan ini bukan muncul begitu saja dan punya sejarah yang cukup panjang. Ada cerita apa di balik Hari Kunjung Perpustakaan dan mengapa tanggal 14 September dipilih?

Sejarah Hari Kunjung Perpustakaan 14 September 2026

Ilustrasi Kunjung Perpustakaan, Foto: Unsplash/CHUTTERSNAP

Sejarah Hari Kunjung Perpustakaan 14 September 2026? Mengutip situs https://dinarpustaka.lamongankab.go.id, Hari Kunjung Perpustakaan pertama kali ditetapkan pada 14 September 1995 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Peringatan ini bertujuan mendorong masyarakat agar lebih terbiasa datang ke perpustakaan sekaligus meningkatkan kegemaran membaca.

Perpustakaan diharapkan tidak hanya dipandang sebagai tempat meminjam buku, tetapi juga sebagai salah satu pintu menuju dunia pengetahuan.

Penetapan Hari Kunjung Perpustakaan berawal dari gagasan Mastini Hardjoprakoso, Kepala Perpustakaan Nasional RI pertama. Ia mengusulkan agar ada pencanangan Hari Perpustakaan.

Usulan tersebut kemudian mendapat ketetapan dari Presiden Soeharto melalui Surat Nomor 020/A1/VIII/1995 yang diterbitkan pada 11 Agustus 1995. Surat tersebut memuat usulan agar Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap 14 September.

Melalui penetapan tersebut, Presiden Soeharto berharap peringatan ini dapat membawa dampak positif bagi gerakan intelektual di Indonesia, terutama dalam mendorong budaya membaca di kalangan generasi bangsa.

September juga menjadi bulan yang berkaitan dengan gerakan literasi karena diperingati sebagai Bulan Gemar Membaca.Gagasan mengenai pentingnya membaca sebenarnya memiliki latar belakang yang lebih panjang.

Dalam tulisan Mastini Hardjoprakoso yang dimuat di Majalah Himpunan Perpustakaan Chusus Indonesia (HPCI), disebutkan bahwa Indonesia pernah menjadi negara yang cukup produktif dalam menerbitkan berbagai judul buku.

Semangat tersebut juga tidak terlepas dari perhatian Presiden RI pertama, Soekarno, yang dikenal gemar membaca. Pada masa itu, penerbitan buku, kegiatan membaca, hingga upaya pemberantasan buta huruf menjadi bagian dari prioritas yang mendapat dukungan.

Perkembangan penerbitan buku di Indonesia terlihat pada sekitar 1963. Saat itu, semakin banyak buku yang diterbitkan dan pihak swasta mulai berani membangun usaha di bidang penerbitan serta perbukuan.

Perkembangan tersebut bahkan menarik perhatian Amerika Serikat hingga membuka kantor cabang Perpustakaan Nasional Amerika Serikat di Indonesia untuk memperoleh buku-buku terbitan Indonesia.

Bukan hanya Amerika Serikat yang tertarik terhadap penerbitan Indonesia. Badan literasi Belanda Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) juga berfokus mengakuisisi buku-buku Indonesia.

Buku yang diakuisisi oleh (KITLV) khusus yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan. Australia pun menunjuk agen untuk mendapatkan berbagai terbitan Indonesia, terutama buku dalam bidang ilmu pengetahuan sosial.

Untuk memperingati Hari Kunjung Perpustakaan pada 14 September, masyarakat dapat memulainya dengan datang langsung ke perpustakaan.

Manfaatkan kesempatan tersebut untuk melihat koleksi buku, mengikuti kegiatan yang tersedia, sekaligus menikmati suasana perpustakaan sebagai ruang yang mendukung aktivitas literasi.

Peringatan ini juga bisa diisi dengan mendukung berbagai program literasi yang diselenggarakan perpustakaan.

Masyarakat dapat ikut menjadi sukarelawan, misalnya dengan membantu kegiatan membaca untuk anak-anak, mengajarkan literasi dasar, atau bergabung dalam klub buku.

Cara lainnya adalah mendonasikan buku yang sudah tidak lagi digunakan. Buku-buku tersebut dapat diberikan kepada perpustakaan sehingga koleksinya semakin beragam dan bisa dimanfaatkan oleh lebih banyak orang.

Jadi, sejarah Hari Kunjung Perpustakaan 14 September 2026 berawal dari usulan Mastini Hardjoprakoso yang kemudian ditetapkan melalui Surat Nomor 020/A1/VIII/1995 pada masa Presiden Soeharto.

Lebih dari sekadar peringatan tahunan, momentum ini mengajak masyarakat kembali mendekat dengan perpustakaan dan membangun kebiasaan membaca.

Dengan berkunjung ke perpustakaan, ikut kegiatan literasi, atau berbagi buku, peringatan Hari Kunjung Perpustakaan bisa jadi langkah sederhana untuk membuat budaya membaca semakin hidup. (FIkah)

Baca juga: Acara TV 14 September 2026 yang Hadir di Berbagai Stasiun Televisi