Konten dari Pengguna

Hukum Tidak Membayar Zakat yang Harus Diketahui Umat Muslim

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Hukum Tidak Membayar Zakat. Pexels/ Vie Studio
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hukum Tidak Membayar Zakat. Pexels/ Vie Studio

Sebagaimana diketahui bahwa zakat merupakan rukun Islam yang keempat. Rukun sendiri memiliki arti sesuatu yang harus dipenuhi seseorang dalam suatu perkara. Lalu, bagaimana hukum tidak membayar zakat bagi orang muslim?

Mengutip dari baznas.go.id, zakat merupakan bagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan tiap muslim jika sudah mencapai syarat yang ditetapkan yang nantinya akan diberikan kepada kelompok yang berhak menerima zakat.

Sedangkan dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 52 tahun 2014 dijelaskan bahwasanya zakat merupakan harta yang harus dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha yang dimiliki oleh orang Islam untuk diberikan kepada yang berhak menerima zakat sesuai dengan syariat Islam.

Hukum Tidak Membayar Zakat dan Penjelasannya

Ilustrasi Hukum Tidak Membayar Zakat. Pexels/ Bilguun Bayarmagnai

Berdasarkan dari baznas.jogjakota.go.id, hukum zakat dalam Islam adalah wajib bagi setiap muslim yang telah mencapai syarat-syarat tertentu. Sebelum membahas tentang hukum tidak membayar zakat, berikut hukum zakat berdasarkan pada dalil dari Al-Qur'an dan hadis:

1. QS. Al-Baqarah (2) ayat 43

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

Wa aqimush-shalaata wa atuz-zakaata waska’u ma’ar-raaki’iin.

Artinya: “Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”

2. QS. At-taubah ayat 103

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Khudz min amwâlihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkîhim bihâ wa shalli ‘alaihim, inna shalâtaka sakanul lahum, wallâhu samî‘un ‘alîm.

Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka, dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

3. Hadis Bukhari dan Muslim

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ» رَوَاهُ البُخَارِي وَمُسْلِمٌ.

‘An abii ‘abdullah-ibni ‘umara-bnilkhatabi radhiyallahu ‘anhuma qaala: sami;tu rasuulallahi shallallahu ‘alaihi wa sallam: buniyal islaamu ‘ala khamsin: syahadati an laa ilaaha illallahu wa anna muhammadan rasulullahi, wa iqaamash-shalati wa iitaa-izzakati wa hijjul-bayti wa shauma ramadhaana.

Artinya: Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibagun di atas lima hal: syahadat lâ ilâha illâllâh dan Muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari beberapa rujukan di atas, menguatkan bahwa membayar zakat adalah sebuah keharusan bagi muslim laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan penjelasan dari uinsgd.ac.id, orang yang mendirikan salat, berpuasa dan bahkan sudah beribadah haji, tetapi belum mengeluarkan zakat, maka Allah tidak akan menerima ibadah salat, puasa dan hajinya itu sebelum orang tersebut menunaikan zakat.

Hal itu disebabkan, semua perkara tersebut saling berkaitan satu sama lain, Tuhan tidak akan menerima dari hambanya setengah ibadahnya, sehingga orang tersebut menyempurnakan semuanya.

Pada dasarnya, zakat yang dikeluarkan berasal dari harta yang dimiliki oleh seseorang. Namun, tidak semua harta dikenakan wajib zakat, berikut syarat harta untuk dizakati:

  1. Harta tersebut merupakan barang yang halal dan didapatkan dengan cara yang juga halal.

  2. Harta tersebut mempunyai hak milik secara penuh oleh pemiliknya.

  3. Harta yang dikenai zakat adalah harta yang dapat berkembang.

  4. Harta yang dimiliki mencapai nisab (batas minimal kepemilikan harta) sesuai dengan jenis hartanya.

  5. Harta tersebut sudah melewati haul.

  6. Pemilik harta tidak memiliki utang jangka pendek yang harus dilunasi.

Jenis-jenis Zakat

Secara umum, zakat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu zakat fitrah dan zakat mal, sebagaimana mengutip dari baznas.go.id.

Zakat fitrah merupakan zakat yang diwajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki dan perempuan di bulan Ramadan berupa makanan pokok.

Adapun zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas segala jenis harta, yang secara zat maupun substansi pemerolehannya, tidak bertentangan dengan syariat agama.

Contoh zakat mal adalah uang, emas, surat berharga, penghasilan profesi, peternakan dan perikanan, perindustrian, pendapatan dan jasa, dan rikaz. .

Syarat Zakat Mal dan Zakat Fitrah

Bagi seorang muslim penting untuk mengetahui syarat zakat mal dan zakat fitrah, berikut syarat zakat mal:

  1. Harta yang dikenai zakat harus memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

  2. Harta yang dimiliki merupakan hak milik penuh, halal, mencapai nisab dan haul.

  3. Syarat haul tidak berlaku bagi zakat pertanian, perkebunan dan kehutanan, perikanan, pendapatan dan jaza, serta zakat rikaz.

Sedangkan untuk syarat zakat fitrah antara lain:

  1. Beragama Islam.

  2. Hidup saat bulan Ramadan.

  3. Memiliki kelebihan kebutuhan pokok pada malam hari raya idul fitri.

Hukuman bagi Para Pembangkang Zakat

Sebagai seorang muslim, rukun Islam merupakan pilar agama yang menjadi pengetahuan dasar dalam beragama. Di mana, terdapat zakat termasuk dalam salah satu ruku Islam dan memiliki posisi yang penting dalam Islam.

Menurut islam.nu.or.id, berikut sanksi bagi para orang-orang yang lalai dan enggan membayar zakat:

1. Mendapat siksa yang sangat pedih

Dalam QS. At-Taubah ayat 34, Allah Swt. berfirman seperti berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ، وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Yâ ayyuhalladzîna âmanû inna katsîram minal-aḫbâri war-ruhbâni laya'kulûna amwâlan-nâsi bil-bâthili wa yashuddûna ‘an sabîlillâh, walladzîna yaknizûnadz-dzahaba wal-fidldlata wa lâ yunfiqûnahâ fî sabîlillâhi fa basysyir-hum bi‘adzâbin alîm.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya banyak dari para rabi dan rahib benar-benar memakan harta manusia dengan batil serta memalingkan (manusia) dari jalan Allah. Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah, berikanlah kabar ‘gembira’ kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih."

2. Mendapat siksa berupa batu panas

Beberapa hadis juga menyebutkan, bahwa ada siksaan bagi orang yang melalaikan dan enggan menunaikan zakat berupa batu-batu yang dipanaskan dengan api neraka Jahanam.

بَشِّرِ الْكَانِزِيْنَ بِرَضْفٍ يُحْمَى عَلَيْهِ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ، ثُمَّ يُوْضَعُ عَلَى حِلْمَةِ ثَدْيِ أَحَدِهِمْ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ نُغْضِ كَتْفَيْهِ، وَيُوْضَعُ عَلَى نُغْضِ كَتْفِهِ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ حَلْمَةِ ثَدْيِهِ يَتَزَلْزَلُ

Basy-syiril kanziina bi radhfin yuhmaa ‘alaihi min naari jahannama, tsumma yuudha’u hilmati tsadyi ahadihim hatta yakhruja min nughdhin katfayhi, wa yuudha’i ‘alaa nughdhin katfihi hatta yakhruja min halmati tsadyihi yatazalzalu.

Artinya: “Beritakan kabar gembira kepada para penyimpan harta (yang harus dizakatkan) dengan batu-batu yang dipanasi api neraka Jahanam, lalu diletakkan di puting susu salah seorang dari mereka sehingga bergerak-gerak keluar dari ujung tulang pundak, dan diletakkan di ujung tulang pundak sehingga bergerak-gerak keluar dari puting susunya.” (HR. Al-Bukhari).

3. Tusukan besi membara

Seperti sabda Nabi saw., dalam hadis Muslim yang berbunyi:

بَشِّرِ الْكَانِزِينَ بِكَىٍّ فِى ظُهُورِهِمْ يَخْرُجُ مِنْ جُنُوبِهِمْ وَبِكَىٍّ مِنْ قِبَلِ أَقْفَائِهِمْ يَخْرُجُ مِنْ جِبَاهِهِمْ

Basy-syiril kanziina bikiyyin dzhuhurihim yakhruju min junuubihim wa bikayyin min qibali aqfaa-ihim min jibaahihim.

Artinya: “Beritakanlah kabar gembira kepada para penyimpan harta (yang harus dizakatkan) dengan besi membara (yang ditusukkan) di punggung mereka yang (tembus) keluar dari lambung mereka dan besi membara (yang ditusukkan) di tengkuk mereka yang keluar dari jidat mereka.”

4. Binatang mengamuk

Jika hartanya berupa binatang, maka binatang yang dimilikinya akan mengamuk, seperti sabda Nabi saw.

مَا مِنْ صَاحِبِ إِبِلٍ وَلاَ بَقَرٍ وَلاَ غَنَمٍ لاَ يُؤَدِّي زَكَاتَهَا إِلاَّ جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْظَمَ مَا كَانَتْ، وَأَسْمَنَهُ تَنْطِحُهُ بِقُرُونِهَا وَتَطَؤُهُ بِأَظْلاَفِهَا، كُلَّمَا نَفِدَتْ أُخْرَاهَا عَادَتْ عَلَيْهِ أُوْلَاهَا حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

Ma min shaahibi ibilin wa laa waqarin wa laa ghanamin laa yu-addii zakaatahaa illaa jaa-at yaumal qiyaamati a’dzhama maa kaanat, wa asmanahuu tanthihuhu biquruunihaa wa tatha-uhuu bi-adzlafihaa, kullamaa ukhrajahaa ‘aadat ‘alaihi uulaahaa hatta yuqdhaa banyan-naas.

Artinya: "Tidaklah pemilik onta, sapi, dan kambing yang tidak mengeluarkan zakatnya, melainkan pada hari kiamat (hewan piaraannya itu) menjadi sangat besar dan gemuk, mengamuknya dengan tanduk dan menginjaknya dengan kaki, ketika yang terakhir selesai maka yang pertama (datang) kembali padanya, sehingga diputuskan (nasib) manusia.” (HR Muslim).

5. Diambil paksa dan dihukum

Zakat bisa diambil paksa oleh pemerintah yang berwenang dan si pembagkang zakat dikenai sanksi yang akan membuatnya jera. Seperti penjelasan Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi dalam kitab Al-Muhaddzab yang artinya:

“Siapa saja yang wajib membayar zakat dan mampu mengeluarkannya, maka ia tidak boleh menunda-nundanya karena zakat adalah hak yang wajib dibayarkan kepada orang yang berhak menerimanya, yang mana tuntutan zakat telah mengarah kepadanya, sehingga tidak boleh ditunda. Hal ini seperti barang titipan ketika pemiliknya hendak mengambilnya.”

Zakat merupakan ibadah bagi umat Islam yang berkaitan dengan nilai ekonomi, sosial dan keagamaan. Penjelasan mengenai hukum tidak membayar zakat di atas, semoga bisa dijadikan pengetahuan, karena menahan hak zakat suatu harta adalah dosa besar. (fat)

Baca juga: Pengertian Zakat Fitrah, Niat, Tujuan, dan Ketentuan Pembayarannya