Konten dari Pengguna

Interkoneksi antara Faktor Biologi, Psikologi, dan Sosial-Lingkungan

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi interkoneksi antara faktor biologi, psikologi, dan sosial-lingkungan, foto: unsplash/Sydney Latham
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi interkoneksi antara faktor biologi, psikologi, dan sosial-lingkungan, foto: unsplash/Sydney Latham

Apa yang dimaksud dengan interkoneksi antara faktor biologi, psikologi, dan sosial-lingkungan dalam model biopsikososial?

Konsep ini menjelaskan bahwa setiap individu adalah hasil dari kombinasi kompleks ketiga faktor tersebut yang bekerja secara dinamis dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Model biopsikososial yang diperkenalkan oleh George L. Engel pada tahun 1977 menghadirkan cara pandang baru dalam memahami kesehatan manusia.

Jika sebelumnya kesehatan hanya dilihat dari sisi fisik semata, kini dipahami bahwa kesejahteraan seseorang merupakan hasil interaksi yang saling memengaruhi antara aspek biologis, psikologis, dan sosial-lingkungan.

Konsep dan Penerapan Model Biopsikososial

Ilustrasi interkoneksi antara faktor biologi, psikologi, dan sosial-lingkungan, foto: unsplash/Louis Reed

Apa yang dimaksud dengan interkoneksi antara faktor biologi, psikologi, dan sosial-lingkungan dalam model biopsikososial?

Mengutip situs lib.poltekkespalembang.ac.id, dalam pendekatan biopsikososial, kesehatan dan penyakit tidak hanya bergantung pada kondisi tubuh atau genetik, tetapi juga pada bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan lingkungan mereka.

Aspek biologis mencakup faktor genetik, kondisi fisik, serta fungsi tubuh. Sementara itu, faktor psikologis meliputi emosi, motivasi, dan perilaku individu.

Di sisi lain, faktor sosial-lingkungan mencakup pengaruh keluarga, status ekonomi, budaya, dan komunitas tempat seseorang hidup.

Melalui pendekatan ini, para tenaga profesional seperti dokter, psikolog, dan pekerja sosial menggunakan asesmen biopsikososial untuk menilai kondisi seseorang secara menyeluruh.

Hal ini membuat proses penanganan menjadi lebih efektif karena mempertimbangkan semua aspek kehidupan klien.

Contohnya dapat dilihat dalam penelitian mengenai anak-anak dengan kondisi stunting.

Dalam konteks ini, model biopsikososial membantu memahami bahwa stunting tidak hanya dipengaruhi oleh gizi buruk (biologis), tetapi juga oleh perkembangan kognitif dan emosional anak (psikologis), serta lingkungan keluarga dan kebijakan sosial (sosial-lingkungan).

Dengan pemahaman tersebut, penanganan stunting dapat dilakukan secara lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Kesimpulannya, apa yang dimaksud dengan interkoneksi antara faktor biologi, psikologi, dan sosial-lingkungan dalam model biopsikososial adalah keterhubungan erat antara ketiga faktor utama yang membentuk kondisi kesehatan dan perilaku manusia.

Pendekatan ini menegaskan bahwa untuk memahami manusia secara utuh, dibutuhkan pandangan yang holistik, bukan hanya melihat satu sisi dari kehidupan individu. (Echi)

Baca juga: Jenis-Jenis Sasaran Operatif dalam Suatu Organisasi