Kapan Oksigen Ditemukan? Ini Sejarahnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kapan oksigen ditemukan? Pertanyaan sederhana ini ternyata membawa seseorang pada perjalanan panjang yang melibatkan eksperimen, rasa ingin tahu, serta perkembangan ilmu pengetahuan selama berabad-abad.
Oksigen, yang hari ini terasa begitu biasa dalam kehidupan seseorang, mulai dari napas yang dihirup hingga proses pembakaran atau teknologi medis, dulu sama sekali tidak diketahui manusia.
Bahkan, pada masa awal perkembangan sains, udara dianggap sebagai satu unsur tunggal yang tidak dapat diurai.
Kapan Oksigen Ditemukan?
Kapan oksigen ditemukan? Dikutip dari laman caloxinc.com, mengungkapkan bahwa pada tahun 1771, ketika seorang ahli kimia farmasi Jerman-Swedia bernama Carl Wilhelm Scheele berhasil mengidentifikasi gas penting tersebut.
Melalui serangkaian eksperimen, Scheele memanaskan beberapa senyawa seperti merkuri oksida, perak karbonat, magnesium nitrat, dan berbagai garam nitrat lainnya.
Dari proses pemanasan itu, muncul sebuah gas yang kemudian ia sebut sebagai “fire air” karena memiliki kemampuan meningkatkan nyala api.
Penemuan ini tidak hanya membuka sudut pandang baru terhadap sifat udara, tetapi juga menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan ilmu kimia.
Enam tahun setelah penemuan awalnya, Scheele menerbitkan karya ilmiah berjudul Chemical Treatise on Air and Fire.
Dalam tulisan tersebut, ia menguraikan hasil percobaannya secara rinci, termasuk proses pembentukan gas yang kini dikenal sebagai oksigen.
Dokumen itu memberikan penjelasan mengenai bagaimana pemanasan senyawa tertentu dapat menghasilkan gas yang mendukung proses pembakaran, sehingga memperkuat pemahaman ilmiah yang sebelumnya belum terjelaskan.
Namun, perjalanan penelitian Scheele juga membawa risiko besar. Penggunaan merkuri oksida dalam eksperimennya menyebabkan paparan zat berbahaya dalam jangka panjang.
Akibatnya, ia mengalami keracunan merkuri yang kemudian memperpendek usianya.
Meskipun akhir hidupnya tercatat tragis, kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan tetap meninggalkan pengaruh besar, karena penemuan tersebut menjadi dasar penting bagi pemahaman modern mengenai udara dan unsur gas. (DANI)
Baca juga: Peran Rumah Tangga Produsen dalam Arus Lingkaran Ekonomi yang Harus Diketahui
