Karakteristik Historiografi Kolonial, Ciri-ciri Sejarah, Tujuan, dan Contohnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Historiografi kolonial merupakan penulisan sejarah pada masa pemerintahan kolonial. Karakteristik historiografi kolonial memainkan peran penting dalam memahami cara penulisan sejarah di masa kolonial.
Dikutip dari Buku Historiografi Indonesia, Imas Emalia (2006:7), terdapat ciri-ciri dan tujuan tertentu pada historiografi kolonial. Menurut bahasa, istilah historiografi ini berasal dari bahasa Yunani yaitu historia dan graphein.
Kata historia memiliki makna penyelidikan tentang gejala alam fisik. Sedangkan graphein mempunyai arti tulisan, gambaran, atau deskripsi dari sesuatu yang pernah atau sedang terjadi.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Karakteristik Historiografi Kolonial, Ciri-ciri Sejarah, dan Tujuannya
Historiografi merupakan bagian dari ilmu sejarah. Karakteristik historiografi kolonial menjadi penting untuk dipelajari agar mengetahui berbagai hasil tulisan dan karya sejarah dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Karakteristik
Historiografi berasal dari dua kata yaitu history yang artinya adalah sejarah, serta kata grafi, yaitu penggambaran atau deskripsi.
Historiografi bisa diartikan sebagai penggambaran atau penulisan peristiwa sejarah yang terjadi pada masa lalu. Pada intinya, makna dari kedua definisi adalah saling mendukung satu sama lain.
Historiografi merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana sejarah dan cara menulis sejarah. Terdapat empat jenis historiografi dalam sejarah Indonesia. yaitu historiografi tradisional, historiografi kolonial, historiografi nasional, dan historiografi modern.
Historiografi kolonial menggambarkan sejarah dari sudut pandang penjajah. Penulisan ini juga mengabaikan atau merendahkan peran serta perspektif dari suatu bangsa yang dijajah.
Diketahui pula bahwa historiografi kolonial menjadi alat bagi penguasa. Historiografi ini digunakan sebagai alat untuk mempertahankan dan membenarkan kekuasaan kolonial atau penjajahan.
Sejarahwan menjadikan historiografi sebagai tahap paling akhir dari tahapan penelitian serta penulisan sejarah. Historiografi di tanah air sudah dimulai sejak masa aksara, saat Indonesia sudah mengenal tulisan.
Pada waktu itu, bentuk historiografi yang banyak ditemukan berupa prasasti. Karya historiografi Indonesia berbentuk tulisan yang dibukukan dimulai oleh Mpu Prapanca, penulis kitab Negarakertagama di masa Kerajaan Hindu Budha.
Historiografi tradisional terus berkembang hingga masa Kerajaan-Kerajaan Islam. Selanjutnya, masuk ke era historiografi kolonial yang merupakan era penulisan peristiwa sejarah di masa imperialisme atau penjajahan di Hindia Belanda.
Bangsa penjajah yaitu Belanda, Portugis, dan Inggris menyusun historiografi kolonial Indonesia. Historiografi ini diketahui sampai sekarang, termasuk tembang macapat yang ditulis pada tahun 1662 hingga 1663.
Historiografi kolonial ini mencakup penulisan sejarah di masa pemerintahan kolonial, tepatnya Belanda yang berkuasa sekitar zaman VOC (1600 M). Masa ini berlanjut sapai dengan kedatangan tentara Jepang pada tahun 1942 M.
Saat masa pemerintahan Hindia Belanda, para ahli sejarah aktif menulis karya. Pembaca karya historiografi kolonial akan mengetahui cerita sejarah bangsa Belanda yang kwaktu itu dianggap penting di Hindia Belanda.
Istilah Hindia Belanda atau Hindia Nederland yang berarti daerah Hindia (Indonesia) dimiliki oleh Belanda. Istilah ini umum digunakan dalam historiografi kolonial yang dapat dipelajari hingga saat ini.
Penulisan historiografi kolonial kerap kali menjadikan pihak Belanda sebagai subjek utama. Sedangkan masyrakat pribumi sendiri dijadikan sebagai bagian objek cerita sejarah.
Karakteristik historiografi kolonial dapat dilihat dari penulisan-penulisan berpola pada penyebutan pahlawan pejuang. Umumnya, pahlawan Indonesia ditulis dengan kesan negatif, seperti penjahat dan pemberontak.
Salah satu karakteristik historiografi pada masa kolonial adalah bersifat belandasentris atau Neerlandosentris. Neerlandosentris artinya berpusat pada kehidupan atau aktivitas penjajahan bangsa Belanda di Indonesia. Karena itu, historiografi kolonial menggunakan sudut pandang atau pendekatan penulisan sejarah yang cenderung bersifat subjektif. Artinya, penulisannya kurang membahas peranan bangsa Indonesia dalam sejarah.
Ciri-ciri
Terdapat beberapa penanda pendekatan penulisan historigrafi kolonial. Berikut adalah beberapa ciri-ciri dari historiografi kolonial untuk membedakan dengan jenis-jenis historiografi lainnya:
Bersifat ahistoris, yaitu pihak koloni dianggap sebagai sosok yang sempurna dalam berbagai bidang kehidupan di Nusantara.
Proses penulisan cenderung berfokus pada sumber dari pihak koloni dan mengabaikan sumber lokal.
Mempunyai pandangan sentrisme Belanda, artinya lebih melihat peristiwa dari kacamatan kepentingan orang Belanda di Hindia Belanda.
Menggunakan sumber sejarah yang berasal dari penjajah atau orang yang bersimpati dengan penjajah, seperti dokumen resmi, laporan, surat, memoar, buku harian, dan lain-lain.
Menceritakan sejarah dari orang-orang besar dan penting di masa penjajahan, seperti Raffles dan Daendels.
Sumber-sumber sejarah yang digunakan cenderung bersifat sepihak, tidak objektif, dan tidak lengkap.
Sumber tulisan yang dipakai berasal dari pemerintah Hindia Belanda baik yang ada di negara asalnya maupun laporan yang disimpan di daerah jajahannya.
Bersifat mitologisasi, yaitu banyak peristiwa yang dicatat tanpa melihat kejadian sebenarnya.
Memfokuskan pada penulisan yang ditekankan pada peranan bangsa Belanda di Hindia Belanda.
Menekankan pada aspek ekonomi, politik, dan institusional, seperti menjadikan pahlawan Indonesia sebagai tokoh aksi militer, tokoh pemberontak, dan perusuh.
Menyajikan sejarah sebagai proses linear, deterministik dan progresif. Artinya, sejarah dipandang sebagai rangkaian peristiwa yang saling berhubungan secara sebab-akibat dan mengarah pada kemajuan peradaban manusia.
Menekankan pada peristiwa militer dan politik di masa-masa sekitar VOC.
Tidak menonjolkan peran bangsa Indonesia sendiri dalam masa pemerintahan kolonial.
Masyaraka Indonesia tidak memperoleh peran yang layak dalam pengisahan sejarah.
Terlihat dramatis tetapi tokoh Indonesia hanya berperan sebagai pelengkap kisah sejarah.
Raja sentris, artinyamengedepankan peran kerajaan dengan para pendiri tokoh Belanda.
Terjadi pada saat jauh sebelum masa kemerdekaan Indonesia.
Mempromosikan ideologi dan nilai-nilai penjajah sebagai universal dan superior. Sebagai contoh, mengagungkan ras, agama, bahasa, hukum, sistem politik, ekonomi, dan sosial penjajah lebih unggul daripada bangsa yang dijajah.
Menstigmatisasi atau mendiskreditkan ras, agama, bahasa, hukum, sistem politik, ekonomi, dan sosial bangsa yang dijajah dianggap lebih rendah atau primitif.
Menekankan peran dan prestasi penjajah dalam sejarah. Sebagai contoh, menyoroti keberhasilan penjajah dalam menaklukkan, menguasai, mengatur, membangun, dan membudayakan bangsa yang dijajah.
Mengabaikan atau meremehkan perlawanan, kebudayaan, dan identitas bangsa yang dijajah.
Di dalam historiografi kolonial Indonesia, penulis tidak menganggap keberadaan bangsa Hindia Timur sebelum kedatangan orang Eropa atau Belanda. Penulismenganggap sejarah bangsa baru dimulai ketika Eropa datang.
Bentuk tulisannya berupa laporan khusus berisi informasi peluasan wilayah pejabat dan kekuasaan ke pemerintah pusat yang ada di Batavia. Laporan juga berisi memori tulisan serah jabatan beserta data statistik dari suatu daerah.
Tujuan
Terdapat alasan di balik penulisannya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Berikut adalah tujuan dari historiografi kolonial:
Bertujuan untuk meredam perlawanan rakyat pribumi dan mempertahankan kekuasaan penjajah atas negara jajahannya.
Mempengaruhi persepsi dan sikap bangsa yang dijajah terhadap diri mereka sendiri dan penjajah. Tujuannya untuk menanamkan rasa takut, hormat, patuh, terima kasih, kagum, atau malu pada bangsa yang dijajah.
Berusaha untuk menimbulkan rasa bangga, percaya diri, superioritas, atau puas pada penjajah.
Membangun legitimasi dan otoritas penjajah atas bangsa yang dijajah.
Bertujuan untuk meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa penjajahan adalah hal yang wajar, sah, dan bermanfaat.
Membentuk identitas dan kesadaran nasional bangsa yang dijajah sesuai dengan kepentingan penjajah.
Berupaya untuk menciptakan atau memperkuat perbedaan atau konflik antara kelompok-kelompok bangsa yang dijajah.
Menghalangi atau menghambat proses integrasi atau persatuan bangsa yang dijajah.
Mempertahankan atau memperpanjang dominasi penjajah atas bangsa yang dijajah.
Memengaruhi pandangan dan pengetahuan generasi-generasi berikutnya tentang sejarah.
Menimbulkan reaksi atau kritik dari bangsa yang dijajah.
Contoh Historiografi Kolonial
Tercatat, ada beberapa karya yang menjadi bagian dari penulisan historiografi kolonial. Berikut adalah beberapa karya yang masih dikenal hingga saat ini:
Schets eener Economische Geschiedenis van Nederlands-Indie atau Kondisi Ekonomi Hindia Belanda yang ditulis oleh orang Belanda G. Gonggrijp.
History of Java atau Sejarah Jawa adalah contoh karya historiografi kolonial tahun 1817 yang ditulis oleh Thomas S. Raffles.
Geschiedenis van Indonesia (Sejarah Indonesia) oleh H.J. de Graaf.
Geschiedenis van Nederlands-Indie (Sejarah Hindia Belanda) merupakan contoh buku historiografi kolonial yang terdiri dari 6 jilid dengan editor utama Dr. F.W Stapel. Diterbitkan bertahap sejak tahun 1938 sampai 1940.
Geschiedenis van den Indischen Archipel atau Sejarah Kepulauan Hindia ditulis oleh B.H.M Vlekke.
Reizen atau Catatan Perjalanan ditulis oleh Nicholaus de Graff sejak tahun 1600-an.
Historiografi kolonial menjadi bagian sejarah bangsa Indoesia. Berbagai karya yang ada atau masih tetap lestari hingga saat ini menjadi bukti nyata bagian dari sejarah.
Dengan ciri, tujuan dan dampak yang berkaitan dengan kepentingan dan pandangan penjajah, historiografi kolonial menekankan keberpihakan pada penjajah.
Karakteristik historiografi kolonial digunakan untuk membenarkan dan mempertahankan kekuasaan kolonialisme. Selain itu, juga dapat menimbulkan reaksi atau kritik dari bangsa yang dijajah.(Aww)
Baca juga: Zaman Neozoikum: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Pembagiannya
