Kata Hubung: Definisi, Ciri-Ciri, dan Jenis-jenisnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Kata hubung atau konjungsi dalam penulisan bahasa Indonesia digunakan untuk menghubungkan dua klausa, kalimat, atau paragraf. Fungsi dari kata hubung ini adalah untuk menjaga kalimat dengan kalimat agar tetap berhubungan satu sama lain.
Pemilihan kata hubung harus tepat agar makna kalimat mudah dipahami. Selain itu, kata hubung juga bisa membuat kalimat-kalimat dalam sebuah paragraf menjadi padu.
Dalam bahasa Indonesia, kata hubung terdiri dari berbagai jenis. Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Definisi Kata Hubung
Kata hubung disebut juga dengan konjungsi, kata sambung, atau kata penghubung. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata hubung merupakan partikel atau kata tugas yang digunakan untuk menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat.
Dua satuan bahasa sederajat yang dimaksud, yaitu frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, dan paragraf dengan paragraf.
Kata hubung bukanlah sebuah objek dan tak berfungsi untuk menambah arti dari sebuah kata atau kalimat. Namun, hanya berfungsi untuk menghubungkan klausa atau kalimat
Baca Juga: Ciri-Ciri Teks Argumentasi, Pengertian, Struktur, dan Contohnya
Ciri-Ciri Kata Hubung
Merangkum dari karya ilmiah berjudul Penggunaan Konjungsi pada Teks Eksplanasi karya Siswa Kelas VIII-C MTs Aswaja Tunggangri oleh Rahmania Nur Aili, diterbitkan uinsatu.ac.id, berikut ini adalah ciri-ciri kata hubung.
1. Tak Dapat Bergabung dengan Afiks
Ciri pertama dari kata hubung adalah tak dapat bergabung dengan afiks atau tak dapat menjadi dasar kata. Sementara itu, salah satu ciri kata dasar adalah dapat diberi imbuhan, sehingga konjungsi tak dapat diberi imbuhan.
2. Tak Mengandung Makna Leksikal
Kata hubung juga tak mengandung makna leksikal yang artinya tak memiliki makna tetap. Konjungsi baru dapat dipahami maknanya apabila sudah dikaitkan dengan frasa atau kalimat lain.
3. Statis
Kata hubung tak dapat berubah-ubah atau statis karena konjungsi tak akan berkurang atau bertambah.
Jenis-Jenis Kata Hubung
Ada banyak jenis kata hubung yang bisa digunakan untuk menghubungkan frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, hingga paragraf dengan paragraf.
Disadur dari karya ilmiah berjudul Jenis Konjungsi dan Hubungan Semantisnya pada Tajuk Rencana dalam Surat Kabar Kompas Edisi Desember 2021 oleh Desta Dwi Kartono, terbitan repository.ump.ac.id, berikut ini jenis-jenis kata hubung atau konjungsi:
1. Konjungsi Koordinatif
Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih konstituen yang kedudukannya sederajat. Contoh konjungsi koordinatif, yaitu:
Dan: penanda hubungan penjumlahan atau penambahan.
Atau: penanda hubungan pemilihan.
Tetapi: penanda hubungan perlawanan.
Melainkan: penanda hubungan perlawanan.
Padahal: penanda hubungan perlawanan.
Sedangkan: penanda hubungan perlawanan.
Dan/atau: penanda hubungan jumlah atau pilihan.
2. Konjungsi Korelatif
Konjungsi korelatif adalah konjungsi yang terdiri dari dua pasang yang menghubungkan kata, frasa, atau klausa yang sederajat. Konjungsi korelatif harus berpasangan, apabila tidak maka penggunaannya menjadi tak sempurna. Berikut ini beberapa contoh konjungsi korelatif:
Baik ... maupun ... : penanda hubungan penjumlahan atau penambahan.
Tidak hanya ..., tetapi juga ... : penanda hubungan perlawanan.
Bukan hanya ..., melainkan juga ... : penanda hubungan perlawanan.
Apakah ... atau ... : penanda hubungan pemilihan.
Entah ... entah ... : penanda hubungan pemilihan.
Jangankan ... pun ... : penanda hubungan penegasan.
3. Konjungsi Subordinatif
Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih. Sementara itu, klausa tersebut tak memiliki status sintaksis yang sama.
Konjungsi ini umumnya digunakan untuk menghubungkan klausa pada kalimat majemuk bertingkat, yaitu klausa induk atau utama dan klausa anak. Berikut ini contoh konjungsi subordinatif yang dibagi menjadi beberapa kelompok:
Konjungsi subordinatif waktu: sejak, semenjak, sewaktu, ketika, sementara, seraya, setelah, sesudah, sehabis, seusai, hingga, sampai.
Konjungsi subordinatif syarat: jika, kalau, jikalau, asalkan, bila, manakala.
Konjungsi subordinatif pengandaian: andaikan, seandainya, umpamanya.
Konjungsi subordinatif tujuan: agar, supaya, biar.
Konjungsi subordinatif konsesif: biarpun, meskipun, walaupun, sekalipun, kendati.
Konjungsi subordinatif pembanding: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagaimana, laksana, ibarat, daripada, alih-alih.
Konjungsi subordinatif sebab: sebab, karena, oleh karena.
Konjungsi subordinatif hasil: sehingga, sampai, maka.
Konjungsi subordinatif alat: dengan, tanpa.
Konjungsi subordinatif cara: dengan, tanpa.
Konjungsi subordinatif komplementasi: bahwa.
Konjungsi subordinatif atributif: yang.
Konjungsi subordinatif perbandingan: sama ... dengan, lebih ... daripada ....
3. Konjungsi Antarkalimat
Konjungsi antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan kalimat dengan kalimat. Penggunaan konjungsi ini berada di awal kalimat. Berikut ini contoh konjungsi antarkalimat yang telah dibagi berdasarkan kelompoknya masing-masing:
Konjungsi antarkalimat yang menyatakan kesimpulan: oleh karena itu, dengan demikian, itulah sebabnya.
Konjungsi antarkalimat yang menyatakan pertentangan: namun, akan tetapi, sebaliknya, meskipun demikian, meskipun begitu, walaupun demikian, walaupun begitu, biarpun begitu.
Konjungsi antarkalimat yang menyatakan penambahan: tambahan pula, tambahan lagi, demikian pula, selain itu.
Konjungsi antarkalimat yang menyatakan urutan: setelah itu, sesudah itu, sebelum itu, selanjutnya, kemudian.
Konjungsi antarkalimat yang menyatakan penegasan: lagipula, bahkan.
Contoh Penggunaan Kata Hubung
Agar lebih paham, berikut ini dijabarkan beberapa contoh penggunaannya:
Ibu sedang memasak dan ayah membaca koran.
Dia bisa melanjutkan pendidikan asalkan ada yang membiayai.
Rana tetap membeli baju itu walaupun tabungannya sudah hampir habis.
Jangankan gaji, fasilitas penunjang pun tidak dipenuhi dengan baik oleh perusahaan itu.
Derry jauh lebih tinggi daripada Dio.
Dikta boleh pulang, meskipun tugasnya belum sepenuhnya selesai.
Aku akan datang jika diundang.
(NSF)
