Kebudayaan yang Menjunjung Tinggi Kebersamaan Melalui Kegiatan Memasak

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu kebudayaan yang menjunjung tinggi kebersamaan melalui kegiatan memasak dan makan bersama adalah tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Di berbagai daerah, setiap suku memiliki cara tersendiri dalam merayakan kebersamaan melalui hidangan khas yang disiapkan secara gotong royong, baik untuk acara adat, perayaan keagamaan, maupun kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
Kebudayaan yang Menjunjung Tinggi Kebersamaan Melalui Kegiatan Memasak dan Makan Bersama
Dikutip dari laman rri.co.id, dan budaya-indonesia.org, salah satu kebudayaan yang menjunjung tinggi kebersamaan melalui kegiatan memasak dan makan bersama adalah tradisi Mebat di Bali dan Bancakan di Jawa.
Kedua tradisi tersebut menjadi cerminan nilai gotong royong yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Meski berasal dari daerah yang berbeda, Mebat dan Bancakan sama-sama mengajarkan pentingnya saling membantu, berbagi, serta mempererat hubungan antarsesama melalui aktivitas yang melibatkan makanan.
Di Bali, masyarakat mengenal Tradisi Mebat atau Ngebat, yakni kegiatan memasak bersama yang dilakukan secara gotong royong menjelang pelaksanaan upacara keagamaan, seperti pernikahan, ngaben, potong gigi, hingga upacara keluarga lainnya.
Warga sekitar akan berkumpul sejak dini hari untuk menyiapkan berbagai hidangan yang nantinya disajikan kepada tamu. Tradisi ini umumnya dikerjakan oleh kaum laki-laki, sementara perempuan menyiapkan sesaji dan perlengkapan upacara.
Selain meringankan beban keluarga yang mengadakan acara, Mebat juga memperkuat rasa persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian antarwarga sehingga tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, masyarakat Jawa memiliki Tradisi Bancakan, yaitu kegiatan makan bersama sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Bancakan biasanya digelar untuk memperingati hari kelahiran (weton), syukuran atas suatu pencapaian, maupun momentum penting lainnya.
Tradisi ini diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan menikmati hidangan sederhana, seperti nasi dan urap beserta lauk-pauk, yang dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar.
Melalui kebiasaan tersebut, Bancakan tidak hanya menjadi sarana berbagi rezeki, tetapi juga mempererat silaturahmi, menumbuhkan kepedulian sosial, serta mengingatkan pentingnya hidup dalam kebersamaan tanpa memandang perbedaan status sosial.
Baik Mebat maupun Bancakan menunjukkan bahwa makanan bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan juga menjadi media untuk memperkuat ikatan sosial dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya Indonesia.
Di tengah arus modernisasi, kedua tradisi ini tetap dipertahankan sebagai warisan budaya yang mengajarkan gotong royong, rasa syukur, dan semangat kebersamaan kepada generasi penerus.
Mebat di Bali dan Bancakan di Jawa hanyalah sebagian kecil dari kekayaan budaya Indonesia yang mengajarkan nilai kebersamaan melalui kegiatan memasak dan makan bersama.
Selain kedua tradisi tersebut, masih banyak suku dan daerah lain di Indonesia yang memiliki tradisi serupa dengan ciri khas masing-masing. Meski bentuk pelaksanaannya berbeda, seluruh tradisi tersebut memiliki tujuan yang sama.
Itulah salah satu kebudayaan yang menjunjung tinggi kebersamaan melalui kegiatan memasak dan makan bersama. Tradisi tersebut diharapkan terus dilestarikan agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman dan tetap dikenal oleh generasi sekarang. (Idaf)
Baca juga: Kasih Sayang pada Sesama Manusia berdasarkan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
