Kegagapan dalam Mengoperasikan Teknologi Digital

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegagapan dalam mengoperasikan teknologi digital adalah salah satu ciri dari fenomena menarik di era modern ketika kemajuan teknologi tidak selalu diikuti dengan kemampuan manusia untuk beradaptasi.
Di tengah arus digitalisasi yang semakin cepat, masih banyak individu yang tertinggal dalam pemanfaatan teknologi secara efektif.
Dampak Kegagapan dalam Mengoperasikan Teknologi Digital
Dampak kegagapan dalam mengoperasikan teknologi digital adalah salah satu ciri dari kesenjangan keterampilan yang membatasi individu untuk mengambil manfaat penuh dari teknologi.
Ketika individu tidak mampu menggunakan komputer, internet, atau aplikasi produktivitas secara efisien, maka peluang dalam pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik akan tergerus.
Berdasarkan jurnal journal.appisi.or.id, kesenjangan digital menggambarkan ketimpangan antar kelompok masyarakat dalam hal akses, pengetahuan, dan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara efektif.
Kondisi ini kerap dialami oleh digital immigrant, yaitu generasi yang lahir sebelum era teknologi digital berkembang pesat dan baru beradaptasi setelah dewasa.
Menurut penjelasan dalam jurnal idr.uin-antasari.ac.id, digital immigrant merupakan sebutan bagi individu yang lahir sebelum tahun 1980 dan tidak terbiasa dengan lingkungan yang didominasi teknologi digital sejak masa kecilnya.
Kegagapan dalam mengoperasikan teknologi digital adalah salah satu ciri dari individu atau komunitas yang berada pada sisi tertinggal dari transformasi digital global.
Beberapa faktor teridentifikasi menjadi pemicu kegagapan dalam penggunaan teknologi digital.
Tingkat pendidikan dan literasi umum yang rendah dapat mencegah individu memahami betul bagaimana perangkat dan layanan digital bekerja.
Sebuah riset yang diterbitkan proliteracy.org,menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dan keterampilan literasi memiliki korelasi positif dengan penggunaan komputer, e-mail, dan transaksi daring.
Akses terhadap pelatihan yang memadai dan perangkat yang sesuai juga menentukan kemampuan menggunakan teknologi secara produktif. Tanpa dukungan pelatihan dan lingkungan yang kondusif, kemampuan digital akan tetap terhambat.
Konteks sosial-ekonomi seperti lokasi geografis (termasuk wilayah pedesaan), ketersediaan konektivitas, dan infrastruktur juga turut mempengaruhi kemampuan penggunaan teknologi.
Pemerintah dan pemangku kebijakan global semakin menyadari bahwa digitalisasi tidak hanya soal konektivitas, tetapi juga harus diiringi dengan pengembangan keterampilan untuk menghindari situasi di mana akses tersedia tetapi manfaatnya tidak dirasakan secara nyata.
Kegagapan dalam mengoperasikan teknologi digital adalah salah satu ciri dari kelompok yang tertinggal dalam evolusi digital.
Keterbatasan dalam literasi, pelatihan, dan akses bukan sekadar masalah teknis, melainkan masalah sosial dan ekonomi yang berdampak terhadap keterlibatan aktif dalam kehidupan modern.
Untuk mencapai inklusi digital yang sesungguhnya, bukan hanya perangkat dan konektivitas yang dibutuhkan, tetapi juga dukungan untuk membangun keterampilan dan kepercayaan dalam penggunaan teknologi. (Rahma)
Baca juga: Cara Aktivasi Multi-Factor Authentication ASN Digital BKN dengan Mudah dan Cepat
