Konten dari Pengguna

Kenapa Indonesia Tidak Lolos Piala Asia U 23? Ini Penyebabnya

Kabar Harian
Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
8 Januari 2026 15:42 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kenapa Indonesia Tidak Lolos Piala Asia U 23? Ini Penyebabnya
Kenapa Indonesia tidak lolos Piala Asia U 23? Simak faktor penyebabnya di sini.
Kabar Harian
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Kenapa Indonesia tidak lolos Piala Asia U 23. Foto: Unsplash.com/Emilio Garcia
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kenapa Indonesia tidak lolos Piala Asia U 23. Foto: Unsplash.com/Emilio Garcia
ADVERTISEMENT
Kenapa Indonesia tidak lolos Piala Asia U 23 menjadi pertanyaan besar publik sepak bola nasional setelah kegagalan Garuda Muda melewati fase kualifikasi krusial.
ADVERTISEMENT
Hasil pertandingan penentuan di kandang sendiri menimbulkan evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan tim, kualitas kompetisi, serta kesinambungan pembinaan usia muda.
Kegagalan ini tidak berdiri sendiri, melainkan terkait kondisi teknis, fisik, dan struktural yang saling berkelindan sepanjang perjalanan kualifikasi

Kenapa Indonesia Tidak Lolos Piala Asia U 23?

Ilustrasi Kenapa Indonesia tidak lolos Piala Asia U 23. Foto: Unsplash.com/William Hadley
Kenapa Indonesia tidak lolos Piala Asia U 23? Hal ini terjadi karena kekalahan 0-1 dari Korea Selatan pada laga pamungkas Grup J yang menentukan kelolosan langsung ke putaran final.
Dikutip dari rri.co.id, kekalahan tersebut terjadi pada laga Timnas U-23 Indonesia melawan Korea Selatan yang digelar di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa, 9 September 2025, pukul 19.30 WIB.
Pertandingan ini menjadi laga terakhir Grup J Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 sekaligus penentuan nasib kedua tim untuk melaju ke putaran final.
ADVERTISEMENT
Indonesia tampil dengan kebutuhan mutlak meraih tiga poin, sedangkan Korea Selatan cukup menghindari kekalahan untuk mengamankan tiket lolos.
Sejak awal pertandingan, tempo permainan berlangsung ketat dengan intensitas tinggi. Indonesia mencoba mengambil inisiatif serangan demi mengejar gol cepat, sementara Korea Selatan bermain lebih sabar dengan penguasaan bola terkontrol.
Babak pertama berjalan tanpa gol, tetapi tekanan fisik mulai terlihat pada lini tengah Indonesia yang harus bekerja ekstra menutup ruang gerak lawan.
Gol kemenangan Korea Selatan tercipta sangat awal, tepatnya pada menit ketujuh, melalui Hwang Doyun yang melepaskan tembakan dari sisi kiri kotak penalti hingga bola membentur mistar lalu memantul masuk ke gawang Indonesia.
Sebelum kebobolan, Indonesia sempat menekan dan hampir mencetak gol cepat lewat pergerakan Rayhan Hannan, tetapi peluang tersebut berhasil digagalkan pertahanan lawan.
ADVERTISEMENT
Setelah unggul, Korea Selatan bermain lebih terkontrol dan beberapa kali mengancam, sementara kiper Cahya tampil gemilang dengan sejumlah penyelamatan penting.
Indonesia meningkatkan tekanan di fase akhir laga, tetapi rapatnya organisasi permainan Korea Selatan membuat seluruh upaya tersebut tidak berbuah gol hingga pertandingan berakhir dengan skor 0-1.
Di tengah perjalanan kualifikasi ini, konteks turnamen utama juga menjadi perhatian. Piala Asia U-23 2026 secara resmi digelar di Arab Saudi dan berlangsung pada 7 hingga 25 Januari 2026.
Turnamen tersebut diikuti oleh tim-tim terbaik Asia yang lolos dari fase kualifikasi dan menjadi ajang penting dalam peta persaingan sepak bola usia muda kawasan Asia.
Absennya Indonesia pada edisi ini terasa signifikan karena pada turnamen sebelumnya mampu menembus babak semifinal.
ADVERTISEMENT
Kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak konsistensi performa yang perlu dibenahi, terutama dalam menghadapi lawan dengan pengalaman dan kedalaman skuad yang lebih mapan.
Sementara itu, kawasan Asia Tenggara tetap memiliki wakil melalui kehadiran Thailand U-23 dan Vietnam U-23 yang berhasil mengamankan tiket ke putaran final.
Secara keseluruhan, kenapa Indonesia tidak lolos Piala Asia U 23 mencerminkan kombinasi kekalahan krusial, keterbatasan fisik, minimnya jam terbang, serta tekanan taktis dan mental yang belum sepenuhnya teratasi.
Evaluasi menyeluruh terhadap pembinaan, kompetisi domestik, dan persiapan internasional menjadi fondasi penting agar kegagalan serupa tidak kembali terulang. (Shofia)