Konten dari Pengguna

Khutbah Jumat Akhir Tahun yang Bisa Meningkatkan Keimanan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Khutbah Jumat Akhir Tahun,Foto:Unsplash/Masjid Pogung Raya
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Khutbah Jumat Akhir Tahun,Foto:Unsplash/Masjid Pogung Raya

Khutbah Jumat akhir tahun menjadi momentum yang tepat bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah dan introspeksi diri atas perjalanan hidup selama satu tahun terakhir.

Melalui khutbah ini, khatib mengajak jamaah untuk merenungkan amal perbuatan yang telah dilakukan, mensyukuri nikmat Allah Swt, serta memperbaiki kekurangan sebagai bekal menyongsong tahun yang akan datang.

Khutbah Jumat Akhir Tahun

Iustrasi Khutbah Jumat Akhir Tahun,Foto:Unsplash/Annas Arfnahri

Dikutip dari situs kemenag.go.id, berikut adalah khutbah Jumat akhir tahun yang dihadirkan sebagai ruang perenungan bagi kaum muslimin untuk melihat kembali perjalanan waktu yang telah berlalu.

Khutbah Jumat

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ بِأَنْوَارِ الْوِفَاقِ، وَرَفَعَ قَدْرَ أَصْفِيَائِهِ فِيْ الْأَفَاقِ، وَطَيَّبَ أَسْرَارَ الْقَاصِدِيْنَ بِطِيْبِ ثَنَائِهِ فِيْ الدِّيْنِ وَفَاقَ، وَسَقَى أَرْبَابَ مُعَامَلَاتِهِ مِنْ لَذِيْذِ مُنَاجَتِهِ شَرَابًا عَذْبَ الْمَذَاقِ، فَأَقْبَلُوْا لِطَلَبِ مَرَاضِيْهِ عَلَى أَقْدَامِ السَّبَاقِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ السَّبَاقِ، صَلَاةً وَسَلَامًا اِلَى يَوْمِ التَّلَاقِ

أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً صَفَا مَوْرِدُهَا وَرَاقَ، نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاَةَ مِنْ نَارٍ شَدِيْدَةِ الْإِحْرَاقِ، وَأَنْ يَهُوْنَ بِهَا عَلَيْنَا كُرْبُ السِّيَاقِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَشْرَفُ الْخَلْقِ عَلَى الْاِطْلَاقِ، اَلَّذِيْ أُسْرِيَ بِهِ عَلَى الْبُرَاقِ، حَتَّى جَاوَزَ السَّبْعَ الطِبَاقَ

أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَقَالَ أَيْضًا: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Mengawali khutbah dengan memuji Allah Swt serta bershalawat kepada Nabi Muhammad saw merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang khatib.

Di samping itu, khatib juga berkewajiban menyampaikan pesan dan nasihat tentang ketakwaan kepada para jamaah.

Pada kesempatan khutbah ini, khatib mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan rasa syukur kepada Allah Swt, memperbanyak shalawat kepada Rasulullah saw, serta meneguhkan ketakwaan kepada-nya.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan dan meningkatkan ketakwaan? Yaitu dengan semakin bersungguh-sungguh dalam melaksanakan seluruh perintah Allah dan berusaha sekuat tenaga menjauhi segala larangan-nya.

Dengan sikap inilah, umat akan tetap berada di jalan yang lurus sesuai tuntunan agama, sehingga terhindar dari penyimpangan dan kesesatan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Hakikat kehidupan di dunia ini ibarat sebuah perjalanan panjang yang sarat dengan dinamika dan ujian. Ada jalan menanjak yang berat, ada pula jalan menurun dan mendatar yang kerap membuat kita lengah.

Perjalanan hidup meninggalkan masa lalu sebagai pelajaran, masa kini sebagai realitas yang dijalani, dan masa depan sebagai harapan yang ingin diraih.

Oleh karena itu, setiap umat memerlukan petunjuk dan rambu-rambu agar perjalanan hidup tetap aman dan terarah.

Ketakwaanlah rambu utama yang membimbing ke jalan yang benar, sekaligus menjadi bekal terbaik dalam menempuh perjalanan kehidupan.

Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat,” (QS Al-Baqarah: 197)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Dalam sebuah perjalanan yang panjang, seseorang tentu perlu berhenti sejenak untuk beristirahat, memulihkan tenaga, dan menguatkan kembali semangat sebelum melanjutkan langkah.

Demikian pula dalam kehidupan dunia, kita perlu meluangkan waktu untuk melakukan perenungan, evaluasi diri, perhitungan amal, serta perenungan mendalam yang dalam istilah Arab disebut dengan muhasabah.

Pentingnya muhasabah ini, Sayyidina Umar bin Khattab pernah bertutur:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

“Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah Swt.”

Sementara dalam Al-Qur’an Allah juga telah mengingatkan pentingnya melakukan introspeksi diri dengan melihat apa yang telah kita lakukan pada masa lalu untuk menghadapi masa depan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang dikerjakan.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Berdasarkan perintah Allah Swt dan Rasul-nya, serta petuah para sahabat Nabi, kita dapat menarik sejumlah pelajaran penting mengenai keutamaan melakukan introspeksi diri.

Paling tidak, terdapat lima manfaat utama yang dapat diperoleh dari upaya menyegarkan kembali semangat hidup melalui muhasabah atau evaluasi diri tersebut.

Pertama, introspeksi diri berfungsi sebagai sarana untuk memperbaiki dan menilai diri sendiri. Dengan bermuhasabah diajak menoleh kembali perjalanan hidup yang telah dilalui, lalu menimbang mana yang lebih banyak mewarnai kehidupan.

Kebaikan atau keburukan, manfaat atau justru kemudaratan, serta apakah langkah-langkah kita semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt atau malah menjauh dari-nya.

Kesadaran ini penting, karena setiap perbuatan yang kita lakukan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Kebenaran ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian lah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (Q.S. Yasin: 65)

Kedua, introspeksi diri memiliki peran penting dalam upaya memperbaiki kualitas hidup. Melalui muhasabah, dapat menilai kelebihan sekaligus kekurangan yang ada pada diri sendiri untuk kemudian dibenahi di masa mendatang.

Ketika perbaikan diri dilakukan secara berkelanjutan, kualitas kehidupan akan meningkat, dan waktu yang dijalani pun akan dipenuhi dengan nilai manfaat serta kemaslahatan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Ketiga, sebagai momentum mawas diri. Ibarat seseorang yang pernah melewati jalan berliku dan berbahaya, pengalaman tersebut akan membuatnya lebih berhati-hati saat melaluinya kembali.

Sikap mawas diri mampu menjaga agar tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama. Allah Swt berfirman:

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاحْذَرُوْاۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

“Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah! Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (ajaran Allah) dengan jelas.”

Keempat, memperkokoh komitmen diri. Setiap manusia tentu tidak luput dari kesalahan. Introspeksi diri menjadi saat yang tepat untuk memperbaiki sikap dan meneguhkan tekad agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Jangan sampai terjatuh pada lubang yang serupa. Tinggalkan masa lalu yang negatif, dan isi hari ini serta masa depan dengan amal-amal positif. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ

“Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim).

Kelima, sebagai sarana menumbuhkan rasa syukur dan kesadaran diri. Perlu menyadari sepenuhnya bahwa keberadaan umat hingga saat ini tidak terlepas dari limpahan nikmat Allah Swt.

Introspeksi diri akan membantu mengingat berbagai karunia yang tidak mungkin dihitung satu per satu.

Jangan sampai termasuk golongan yang lalai dan kufur terhadap nikmat-Nya. Allah Swt mengingatkan dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لاَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Berdasarkan uraian tersebut, marilah membiasakan diri untuk senantiasa melakukan introspeksi dalam setiap kesempatan.

Terlebih ketika berada di penghujung tahun, momen ini sangat tepat untuk menilai kembali perjalanan hidup yang telah dilalui dan menyiapkan diri menghadapi masa depan dengan lebih baik.

Semoga Allah Swt senantiasa memberikan petunjuk, sehingga umat mampu mengambil pelajaran dari masa lalu untuk menjalani hari-hari yang akan datang. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Itulah khutbah Jumat akhir tahun yang menjadi penegasan bahwa pergantian waktu bukan sekadar perubahan angka dalam kalender, melainkan momentum penting untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan.

Melalui pesan-pesan nasihat dan ajakan muhasabah, umat Islam diharapkan mampu menjadikan pengalaman setahun terakhir sebagai pelajaran berharga untuk melangkah lebih baik di masa mendatang. (shr)

Baca juga: Khutbah Jumat Hari Pahlawan, Meneladani Semangat Pahlawan dalam Kehidupan