Konten dari Pengguna

‎Kisah Pit Hitam Natal, Tokoh Pendamping Santa Claus

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pit Hitam Natal, foto: unsplash/Kristina Flour
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pit Hitam Natal, foto: unsplash/Kristina Flour

Tradisi Natal di Eropa Barat memiliki kisah unik yang kerap memicu perdebatan. Salah satunya adalah Pit Hitam Natal, sosok pendamping Sinterklaas yang sarat sejarah, simbol, dan kontroversi budaya.

Perayaan Natal di Belanda dan Belgia dimulai lebih awal dibandingkan banyak negara lain. Setiap tanggal 6 Desember, anak-anak menerima hadiah dari Sinterklas, sosok santo yang menjadi cikal bakal Santa Claus modern.

Namun, perhatian publik internasional sering tertuju pada figur pendampingnya yang dikenal sebagai Pit Hitam Natal atau Zwarte Piet.

Asal-usul Pit Hitam Natal

Ilustrasi Pit Hitam Natal, foto: unsplash/Anđela Knez

Asal-usul Pit Hitam Natal masih menjadi perdebatan hingga kini. Mengutip situs historyextra.com, beberapa sejarawan menyebutkan bahwa tokoh ini berawal dari pelayan Moor dari Spanyol, sementara versi lain menyebutkan ia adalah anak yatim yang diselamatkan oleh Santo Nikolas.

Ada pula narasi populer yang mengatakan warna hitam pada wajahnya berasal dari jelaga cerobong asap, meski penjelasan ini kerap dianggap menyederhanakan persoalan.

Dalam sejarah visualnya, Pit Hitam Natal sering digambarkan dengan riasan wajah gelap, bibir merah menyala, rambut keriting, serta pakaian warna-warni bergaya abad ke-19.

Gambaran ini kemudian dikritik karena menyerupai karikatur kolonial yang dianggap tidak sensitif secara rasial.

Santo Nikolas atau Sinterklas digambarkan sebagai uskup yang bijaksana, mengenakan jubah merah, mitra emas, dan membawa tongkat gembala. Ia hadir sebagai figur religius yang tenang dan berwibawa.

Berbeda dengan itu, Pit Hitam Natal tampil sebagai tokoh jenaka, lincah, dan penuh keusilan. Ia dikenal suka melempar permen kepada anak-anak dan menjadi pusat perhatian dalam parade serta festival.

Di berbagai karya seni abad pertengahan, Santo Nikolas kerap digambarkan menaklukkan sosok jahat yang dilukiskan berwarna hitam.

Ada pula kaitan dengan mitologi Nordik, khususnya sosok gelap yang berhubungan dengan dunia kematian. Warna hitam dalam konteks ini sering diasosiasikan dengan misteri, hukuman, dan dunia bawah.

Meski menuai kritik, sebagian masyarakat masih memandang Pit Hitam Natal sebagai bagian dari tradisi turun-temurun dan hiburan bagi anak-anak. Di sisi lain, perdebatan tahunan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan isu representasi budaya.

Kisah Pit Hitam Natal menunjukkan bagaimana tradisi Natal tidak hanya berisi sukacita, tetapi juga refleksi sosial. (Echi)

Baca juga: Speed and Love Kapan Tayang? Ini Jadwal Selengkapnya